Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kedatangan Sahabat Lama


__ADS_3

Tin! Tin!


Sebuah mobil Pajero memasuki rumah mewah Sasa, mobil tersebut diparkirkan tepat di bagian garasi mobil milik Gus Sakhi. Keluarlah seorang wanita dan suaminya yang sedang di rindukan oleh sahabatnya itu.


Rupanya, dia adalah Pipa yang kini sedang menggendong seorang balita berumur 4 tahun. Balita tersebut bernama Annasya queen Bifa.


Balita tersebut terlihat cantik dan lucu memakai hijab berwarna Pink di padukan dengan gamis berwarna pink bermotif polkadot.


"Bunda, ini lumah ciapa? (Bunda, ini rumah siapa?)"


Tanya gadis kecil itu pada ibunya.


"Ini rumah sahabat Bunda, Sayang. Nanti Nasya harus baik Budi, ya?" jawab Pipa dengan senyuman.


"Siap Bunda, kalau baik Budi dapat ice cream, kan?"


"Tentu saja, Sayang."


"Sudah ngobrolnya?" tanya suami Pipa, yaitu Bima.


"Ayah kamu ngeselin ya, Nak!" Seru Pipa pada bocah yang sedang digendongnya membuat Bima terkikik sendiri.


"Ayo, Gus Sakhi pasti sudah nungguin." Kata Bima sambil mengambil Annasya dari gendongan sang istri.


Baru saja Mereka ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba pintu rumah Sasa terbuka. Sontak saja membuat dua insan yang sudah lama tidak berjumpa itu langsung kegirangan.


"Micin!"

__ADS_1


"Pipa!"


Teriak mereka bersamaan, keduanya berlari dan saling berpelukan. Annasya yang melihat itu hanya bisa melongo, entah apa yang ada di pikiran anak kecil itu sekarang. Sama hal nya dengan bocah kecil yang tadinya di genggam oleh Sasa, Fakhi hanya bisa terdiam melihat Mommy nya yang bertingkah bak anak kecil bermain Teletubbies.


"Apa kabar?" ucap mereka barengan, membuat keduanya tertawa dengan kekonyolannya.


"Gue baik, loe?"


"Kaya yang lu lihat, eh ada yang mau launching ya? sudah berapa bulan?"


"7 bulan, nanti loe datang ya."


"Siap, Ning."


Mereka ngobrol melupakan orang sekitarnya sampai membuat Fakhi kesal karena di cuekin. "Mommy!" dengus Fakhi.


"Ini anak lu, Sa? ganteng banget, Masya Allah."


"Anak loe juga cantik, cocok jadi calon mantu." Sahut Sasa membuat Fakhi dan Annasya saling pandang, setelah beberapa detik Fakhi membuang mukanya.


"Mommy, tadi katanya mau beli ice cream?"


"Astaga, Mommy lupa. Sama Daddy aja ya?"


"Biar samaku aja, Mbak." Sahut Bima.


"Memangnya nggak pa-pa? kalian kan baru datang?"

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Mbak. Tadi Bundanya juga sudah janjikan buat beli ice cream." sambil melirik Pipa yang cengengesan. "Sama Om aja, mau?" tawar Bima pada Fakhi.


"Ya sudah, deh." Sahut Fakhi.


Setelah kepergian Bima dan anak-anak, Pipa masuk ke dalam rumah Sasa dan kemudian Sasa menelpon Patul untuk mengabarkan jika Pipa sudah berada di rumahnya.


Pipa yang sekarang memang berbeda dengan yang dulu, wanita itu kini terlihat lebih anggun penampilannya. Walaupun saat berjumpa dengan Sasa, sifat anehnya muncul lagi. Ternyata benar, ketika kita bersama sahabat, kita gak akan pernah bisa menjadi orang lain.


"Pa, loe ada jumpa dengan Sapi gak sih?" pertanyaan Sasa membuat Pipa menjadi salah tingkah, seperti ada yang di sembunyikan pada wanita itu.


"Ada ya?" tebak Sasa lagi.


"Lu lupa ya kalau gua tinggal di Amerika selama ini?" tanya Pipa.


Sasa menepuk jidatnya, "Benar juga, lantas kemana manusia sebiji itu ya?"


Pipa terkekeh, "Sebiji? lu kira kuaci!"


Tap! Tap! Tap!


Turunlah Gus Sakhi dengan tampannya beserta bau maskulinnya. "Wah, ada tamu jauh nih!"


"Eh, Pak ..., Eh salah, Gus ...." Pipa terlihat salah tingkah, walaupun lelaki itu adalah suami sahabatnya, tetap saja dirinya masih canggung sampai sekarang.


"Biasa aja, jangan panggil Pak. Saya gak pernah jadi dosen kamu!" ucap Gus Sakhi.


"Wangi banget, sih?" protes Sasa.

__ADS_1


__ADS_2