
"Ba---baju?"
Astaga! bisa-bisanya Sasa melupakannya setelah dapat suguhan yang halal baginya.
Gus Sakhi tersenyum "mau?"
"Hah?"
Dengan buru-buru Sasa mengambil pakaian Gus Sakhi dan memberikannya, tingkah lucu Sasa membuat Gus Sakhi cekikikan saking gemasnya.
Beberapa menit kemudian, Gus Sakhi sudah lengkap dengan pakaiannya sementara Sasa kini sedang membaca novelnya.
"Kenapa belum tidur?"
Bruk!
Novel yang di baca Sasa pun terjatuh saking terkejutnya. "Belum ngantuk, Mas!"
Gus Sakhi berjalan mendekati Sasa dan duduk di sampingnya. "Sedang apa?"
"Baca ini, mas."
"Bukan itu maksudnya."
"Terus?" sambil mengerutkan alisnya.
"Itu!" dengan menunjuk jilbab yang masih di pakai Sasa.
"Ini? jilbab maksudnya?" tanya Sasa dan Gus Sakhi mengangguk.
"Memangnya kenapa?" pertanyaan Sasa yang begitu polos membuat Gus Sakhi semakin gemas dengan istrinya itu.
"Kamu ini sudah menjadi istri Mas, berarti mas sudah halal melihatnya. Lepas ya?"
Sasa menggelengkan kepalanya "Le---lepas? Hm... ta--tapi malu mas."
"Apa kamu tidak risih tidur sambil memakai jilbab?"
Sasa terdiam.
"Mas bantu buka in ya?"
__ADS_1
"Tapi mas?"
"Mas mau lihat, boleh ya?"
Akhirnya Sasa mengangguk pasrah, ditambah lagi hatinya saat ini bergetar hebat saat di dekat suaminya. Sasa berfikir toh memang gak berdosa karena yang melihatnya adalah suaminya sendiri.
'Duh, jantung gue!!' gumam Sasa .
Perlahan tangan Gus Sakhi membuka jilbab Sasa sampai rambut hitam berkilau sedikit bergelombang itu pun tergerai sempurna.
Glek!
"Cantik," ucap Gus Sakhi tanpa sadar.
Sasa yang terus-terusan di lihat oleh Gus Sakhi pun tersipu malu.
"Mas, jangan di lihatin kaya gitu Sasa jadi malu." Ucap Sasa jujur
'Ya Allah, sungguh sempurna ciptaan mu.' gumam Gus Sakhi dalam hati.
"Mas...." panggil Sasa yang pipinya mulai memerah
Gus Sakhi perlahan mendekat ke arah Sasa dan semakin dekat. Sasa yang melihat Gus Sakhi sangat dekat dengannya pun kini hanya bisa menunduk karena ia sudah mentok di dinding tempat tidur. Jantungnya sudah tak karuan bahkan telapak tangan nya pun kini sudah dingin.
Cup.
"Terima kasih sudah mau menjadi istri mas, Humaira."
"Harusnya Sasa yang berterima kasih, karena mas sudah mau terima buruknya Sasa, Masa lalu Sasa dan kehidupan Sasa."
"Humaira, ketika ijab terucap dan para saksi mengatakan Sah, Bagaimana pun dirimu yang dulu dan sekarang bahkan sampai nanti, Mas akan terima kamu semuanya yang ada padamu, Demi Allah!"
Sasa menatap Gus Sakhi, ada kejujuran di mata sang suami membuatnya ingin menangis sekarang.
"Sekarang, kita istirahat yuk." Ajak Gus Sakhi membuat Sasa bingung sebenarnya.
'Huh, untung saja ngajak istirahat!' gumam Sasa.
🌼🌼🌼
Pagi harinya, Sasa terbangun dari tidurnya karena merasakan sesuatu yang berat menimpa dirinya dan melingkar dengan sempurna di sekitar pinggang nya.
__ADS_1
'Kok berat?' gumam Sasa.
Lalu, mata Sasa tertuju pada tangan kekar itu. Sedetik kemudian...
"Aaaaaaaaaaaaa" teriak Sasa, dan...
Bruk!
"Aw!" pekik Gus Sakhi saat terjatuh sempurna di lantai.
"Astaghfirullah" ucap Sasa. Ia langsung menolong suaminya itu untuk segera bangkit.
"Maaf, mas... maaf!" lirih Sasa.
"Kamu kenapa? hm? Mimpi buruk?" sambil mengelus pipi Sasa.
Sasa menggelengkan kepalanya "Bukan mimpi buruk, Sasa terkejut waktu lihat tangan mas di pinggang Sasa."
Gus Sakhi tersenyum, ia paham dengan kondisi Sasa yang memang belum pernah tidur bersama pria lain. Semua ini hanya perlu waktu yang harus lebih terbiasa lagi.
"Maaf ya mas," ucap Sasa lagi.
"Iya gak apa-apa. Ya sudah, Mas dulu ya yang mandi? Nanti mas tunggu, biar sholat subuh berjamaah."
"Iya mas."
Namun, saat Sasa ingin kembali duduk di tempat tidurnya, Gus Sakhi malah menarik tangannya hingga kini posisinya Sasa berada di atasnya.
Cup.
Kali ini, Gus Sakhi menc*um b*bir Sasa sekilas membuat sang empunya terdiam saking malunya.
"Manis." Ucap Gus Sakhi.
Sasa menutup wajahnya dengan tangannya membuat Gus Sakhi merasa bersalah sekarang.
"Kenapa wajahnya di tutup?" Gus Sakhi terlihat panik.
"Mas jahat!" ujar Sasa membuat Gus Sakhi semakin bingung.
"Maaf, tapi salah mas apa?"
__ADS_1
"Mas tahu? itu ci*man pertama Sasa, kenapa mas mengambilnya tanpa izin?" Pertanyaan Sasa membuat Gus Sakhi tersenyum senang, ternyata dia lah orang pertama yang mendapatkannya setelah tahu bahwa Sasa dulu pernah pacaran dengan Syauqi.