Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Mommy & Daddy


__ADS_3

Sementara di Pesantren, Sasa sedang menikmati indahnya taman yang sejak dulu menjadi tempat favoritenya. Ada hal yang ditakutkan oleh Sasa saat duduk di taman ini sebenarnya, yaitu teringat dengan yang lalu. Akan tetapi, semuanya salah. Apa yang ada di benak Sasa itu tidak benar. Malahan Sasa tidak mengingat apapun di sini, tiba-tiba ...


GREP!


"Allahuakbar, Mas!" pekik Sasa.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? hum?" Bukannya menanggapi Sasa, Gus Sakhi malah bertanya padanya.


"Memangnya apa yang sedang Sasa pikirkan?" beo nya.


Gus Sakhi melepaskan pelukan itu dan duduk di sebelah Sasa. "Tatap Mas, Humaira."


Deg!


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Sasa pun menatap mata suaminya. Tangan Gus Sakhi perlahan membelai lembut pipi Sasa sehingga meletakkan kenyamanan di sana.


"Apa kamu sedang memikirkan adik iparmu? tanya Gus Sakhi membuat Sasa setengah menganga.


...'Bagaimana mungkin dia mengetahuinya?' Batin Sasa....


"Jangan ngaco, Mas!" sanggah Sasa.


"Sayang, walaupun kata orang pernikahan kita masih seumur jagung tetapi mas tahu betul bagaimana istri mas ini." Kata Gus Sakhi membuat Sasa berdecak kagum.


Pletak!


"Aw! Sakit Mas!"

__ADS_1


"Habisnya kamu di ajak cerita malah melamun. Kenapa? terpesona dengan ketampanan suami kamu? iya? atau kamu baru menyadari kalau suami kamu ini yang terbaik?" Dengan percaya dirinya lelaki tampan itu mengatakan itu pada Sasa.


"Memang iya sih, Mas. Semua yang mas bilang itu benar, kok bisa ya?" ucap Sasa jujur.


"Mau muji ya?" goda Gus Sakhi.


"Mana ada begitu, wong ngomong apa adanya kok."


"Hahahahha!"


"Sudah deh Mas, beli mie ayam yok? tapi pakai bakso."


"Kamu kan sudah makan?"


"Ini yang mau anak Mas, bukan Sasa!"


"Hm, baiklah anak Abi .... Ummi kamu bawel ya, Nak?"


"Serius kamu di panggil mommy?"


Sasa mengangguk.


"Jangan dong, kan Mas mau nya di panggil Abi, gak cocok dong ..."


"Kalau itu sih terserah Mas, yang penting Sasa harus di panggil mommy."


Akhirnya, Gus Sakhi pun mengalah. "Baiklah, call me Daddy!" sambil mengelus perut sang istri.

__ADS_1


"Daddy, atu mau keyiying pecantlen. (Daddy, aku mau keliling pesantren.)" Ucap Sasa meniru suara anak kecil.


"Dengan senang hati, Sayang." Sahut Gus Sakhi sambil terkekeh geli.


Mereka pun akhirnya berkeliling di daerah Pesantren. Semua santri menyambut mereka dengan sumringah, ada yang mengenal Sasa dan ada juga yang tidak. Bagi mereka yang kenal dengan Sasa pastinya mereka menghampiri Sasa dan Gus Sakhi lalu menyapa juga bersalaman.


"Assalamu'alaikum Gus, Ning." Sapa salah satu santri.


Sasa tersentak kaget karena dirinya dipanggil Ning. Sasa pun melirik Gus Sakhi sedangkan beliau hanya menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.


"Waalaikumussalam." Jawab keduanya.


"Apa kabar, Ning?" Tanya mereka.


"Maaf, kenapa manggil Ning?" tanya Sasa balik.


Ternyata, Sasa belum mengetahui jika satu pesantren sudah tahu kalau dirinya adalah istri dari Gus Sakhi.


"Afwan, Ning. Abi dan Umi mengadakan syukuran pada kami, katanya Ning Shazfa sudah menikah dengan Gus Sakhi." Jawab nya.


Sasa bernapas lega, karena yang ditakutinya itu tidak terjadi. Apalagi kedekatannya dengan Gus Sakha dulu juga diketahui satu pesantren.


Sasa melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba ia melihat sosok yang dikenalnya. "Ustadz Ghibran!" pekiknya.


Bukan hanya Ustadz Ghibran yang tersentak, Gus Sakhi pun juga ikut tersentak mendengarnya.


"Sayang, kamu mengenalnya?" tanya Gus Sakhi yang sepertinya sedang terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Tentu saja, orang itu tidak pantas di sebut dengan laki-laki!" Sasa berkacak pinggang melihat lelaki yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Maksudnya?"


__ADS_2