
Patul setia menemani putrinya. Sebenarnya Patul sangat kecewa dengan Hawa, tetapi sebagai seorang ibu dia juga harus menemani buah hatinya agar tidak salah jalan.
"Ummi, apa Hawa membuat Ummi kecewa?" pertanyaan itu lolos di mulut Hawa, ternyata bocah kecil itu merasakan kegundahan hati Ibunya.
Patul tersenyum, ternyata Hawa sudah besar sekarang, pikirnya. "Sekarang Ummi tanya sama kamu, apa kamu merasa sudah mengecewakan Ummi atau tidak?
Hawa terdiam, ini memang salahnya, pikirnya. "Maaf Ummi, Hawa janji nggak akan kecewakan Ummi lagi."
Bocah kecil itu memohon dengan sangat, raut wajahnya tampak sekali seperti sedang menyesali sesuatu. "Ummi pegang janji kamu!"
"Terima kasih, Ummi."
"Sama-sama, Sayang. Ummi mau tanya sama kamu Neng, kamu tuh nganggap Bunda Shazfa sebagai apa?"
"Bunda itu Tantenya Hawa, tapi Hawa sudah nganggap Bunda kaya Ibu Hawa sendiri, Ummi."
"Nah, pintar anak Ummi. Kalau begitu, kamu dan Fakhi itu sebagai apa?"
Hawa terdiam, "Maaf, Ummi. Harusnya Hawa sadar kalau Fakhi adalah adiknya Hawa."
"Ya sudah, jangan di ulang lagi kesalahan kamu ya. Sayang, dengarin Ummi ... mencintai memang fitrah, tetapi kalau mencintai manusia melebihi rasa cinta kita pada Allah itu nggak boleh sayang, dan kamu harus tahu kalau kita suka sama orang nanti hafalan kita akan hilang. Kamu mau? sementara kamu sudah capek-capek hafalin dan kejar setoran ke Abi, gimana?"
"Beneran hilang hafalannya, Ummi?"
"Benar, coba saja kalau nggak percaya. Mau Ummi tes?"
Hawa terdiam, dia sangat takut jika hafalannya berkurang sekarang.
Patul semakin memanfaatkan keadaan, Ia yakin putrinya akan berubah setelah ini.
"Ummi tes ya, coba kamu sebutkan QS Al Ahzab ayat 60!" Titah Patul.
__ADS_1
Benar dugaan Patul, kini Hawa menundukkan kepalanya. Patul memegang wajah putrinya itu yang sedang menangis tanpa suara. "Kenapa? Lupa, ya?"
"Hiks ... hiks ...." Hawa semakin menjadi nangisnya.
"Nggak pa-pa. Nanti kita hafalin lagi, asalkan kamu janji ya nggak boleh cinta pada manusia lebih dari cinta kita pada Allah. Fahimtum, Nak?"
Hawa mengangguk, "Fahimna, Ummi."
Islam adalah agama yang mendasari ajarannya dengan realitas, bukan dengan khayalan. Ia tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antara manusia, karena hal itu adalah fitrah manusia. Secara naluri, seseorang akan mencintai pasangan, keluarga, sahabat, harta dan bahkan tempat tinggalnya. Akan tetapi, tidak sepatutnya yang bersifat duniawi lebih di cintai di bandingkan kepada Allah dan Rasulnya. Jika manusia lebih mencintai duniawi, maka tidak sempurna 'lah imannya dan dia harus menyempurnakan Imannya.
"Patul, ayo! Lama kali kau," Sapi datang sambil menarik tangan Patul.
"Astaghfirullah, Sapi! Sudah tua masih aja kamu kaya anak-anak begitu." Patul sedikit meringis, karena ulah mereka di lihat oleh Hawa.
Sapi menyadari kecerobohannya, lalu ia melihat Hawa yang kini sedang menitihkan air mata. "Kau apain keponakanku?"
"Dih, keponakan. Selama ini kemana kamu yang ngaku Bubu nya?" Patul kembali menggoda Sapi.
"Afwan, Bubu. Karena Bubu sudah lama hilang, Hawa sudah lupa sama Bubu." jawab Hawa jujur tetapi mengundang tawa oleh Patul dan juga Sasa dan Pipa yang entah sejak kapan di sana.
"Kok kek gitu sih sama Bubu? Cekewa lah cekewa." Sapi menampakkan wajah kecewanya.
Tetapi semuanya malah meninggalkan Sapi. Wanita itu tersenyum saat melihat bocah kecil sudah kembali tersenyum. Ya, begitulah Sapi. Sejak dulu dialah yang sangat pandai menghibur semua orang. Makanya, ketika dia tidak ada kabar dunia menjadi hampa bagi Pipa, Sasa dan Patul. Ah tidak, Pipa tidak merasakannya karena mereka memang berada satu apartemen selama ini.
"Honey!" Panggil Ali.
Sapi tersentak, lalu menghampiri suaminya. "Iya, Sayang."
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Ali tampak bingung, tetapi Sapi hanya membalasnya dengan tertawa. Hal itu membuat Ali menggelengkan kepala, ia sangat hapal dengan istrinya jika tidak bisa menjawab berarti memang sedang memikirkan sesuatu.
Ali atau Amarcus selama lima tahun ini sering les privat dengan turis Indonesia untuk mempelajari bahasa Indonesia. Karena, Sapi tidak begitu pandai Bahasa Inggris, begitupun dengannya yang baru saja pandai sedikit demi sedikit karena selama ini saat pergi ke Indonesia mereka hanya sebentar saja untuk mengecek cabang perusahaan nya itu. Ali berpikir jika dirinya tidak belajar banyak Bahasa Istrinya itu, maka mereka akan jarang untuk berkomunikasi. Usaha Ali tidak sia-sia, bahkan dirinya sekarang juga pandai berbahasa Batak.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai semuanya, dukung othor terus ya ....
jangan lupa tinggalkan jejak nya juga! hehehe maksa nih🤪
Oh iya, kata orang tak kenal maka tak sayang, jadi jika berkenan bisa dong follow Ig dan Add FB Othor, hehehhehe, love you guys.
**Ig: @yuthikaauthor
Fb: Ummi Yuthi.
#sekiandanterimanasib**.
Oh iya, othor sekalian mau promoin teman othor nih yang gak kalah serunya, ini dia .... cekidot👇
blurb:
Ini cuplikannya
Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.
Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.
"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."
"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia