Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Terungkap!


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Gus, Shazfa!" ucapnya sambil menunduk.


"Waalaikumussalam." Sahut keduanya.


"Ustadz Ghibran, Afwan tapi apa bisa antum jelaskan sama ana, kenapa antum mengenal istri ana?" Gus Sakhi bertanya dengan blak-blakan.


"Istri?" beo nya dengan setengah menganga.


"Ya, dia istri ana." Sambil merangkul Sasa.


"Afwan, Gus. Afwan. Ana gak tahu kalau Shazfa kini menjadi istri Gus Sakhi, ana fikir ...." ucapan Ustadz Ghibran terpotong.


"Kenapa kaget begitu? Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Ustadz! Ente saja sanggup kok ninggalin sahabat gue tanpa jejak, ya toh?" sanggah Sasa membuat mulut Ustadz Ghibran menjadi bungkam.


"Sayang ...." tegur Gus Sakhi.


"Maaf Mas, Sasa cuma kesal saja. Mas tahu Sapi kan? nah, lelaki ini menjanjikan sesuatu padanya. Sesuatu yang di tunggu setiap wanita, tetapi ternyata .... Sudahlah!" ucap Sasa semakin lama nadanya semakin merendah. Ingin sekali rasanya Sasa menghajar lelaki di depannya ini.


Jika saja dirinya sekarang bukan seorang istri dan menantu dari pesantren ini, mungkin tangan yang sudah sejak tadi di kepalnya itu akan melayang begitu saja di wajah Ustadz Ghibran.


"Sebenarnya ini salah ana sepenuhnya, Gus. Tetapi ana bisa jelaskan semuanya." lirih Ustadz Ghibran.


"Antum bukannya sudah menikah ya?" pertanyaan itu berhasil membuat Sasa semakin emosi.

__ADS_1


"Apa Mas?" tanya Sasa.


"Ana yang akan menjelaskannya." Kata Ustadz Ghibran.


Gus Sakhi mempersilahkan duduk di ruangan Aula karena menurutnya ini privasi, tidak enak jika di lihat banyak orang.


"Sekarang, antum boleh jelaskan semuanya." Titah Gus Sakhi, lalu beliau duduk di sebelah Sasa sambil menggenggam tangan istrinya itu. Membelai lembut untuk menenangkan sang istri yang kemarahannya sedang menggebu-gebu.


"Sebelumnya, ana minta maaf karena sudah mengecewakan Shazfa, maksudnya Ning Shazfa. Terlebih lagi, untuk sahabatnya, Safia. Jujur, bukan maksud ana ingin membohongi kalian, tetapi semua terjadi begitu saja. Ana dijebak oleh tetangga ana di kampung." Lirih Ustadz Ghibran.


"Jika nggak pandai mengarang ya jangan di karang ceritanya!" kesal Sasa.


"Sayang, jangan di sanggah dulu. Kita dengarkan penjelasan Ustadz Ghibran, ya." Sambil mengelus lembut tangan Sasa, kemudian beralih melihat Ustadz Ghibran. "Ayo silahkan di lanjut lagi, Ustadz." Pinta Gus Sakhi.


"Lalu ana meminumnya dan tiba-tiba kepala ana pusing dan ana nggak ingat apa-apa. Hingga semua ini benar-benar terjadi, begitu? sungguh alasan yang sangat klasik, Ustadz!" sanggah Sasa dengan nada dibuat-buat.


Ustadz Ghibran menghela napasnya dengan panjang, "Tetapi memang begitu adanya, Ning. Demi Allah, ana gak pernah ada niatan untuk mengkhianati Safia."


"Lalu kenapa Ustadz memilih hilang? kenapa tidak menjelaskan semuanya pada Safia?" tanya Sasa lirih.


"Ana takut, ana belum siap. Ana emang lelaki bodoh tapi ini semua diluar kendali ana." Jawab Ustadz Ghibran dengan pelan.


"Sayang, ini semua kehendak Allah. Sebagai manusia kita tidak bisa menghakimi nya. Allah yang maha rencana sedangkan kita hanya menjalankan saja." Gus Sakhi mencoba untuk menenangkan Sasa.

__ADS_1


"Kapan Ustadz berniat untuk meminta maaf pada Safia?"


"Ana ...."


"Safia akan datang besok!" kata Sasa dengan lantang. Sementara Ustadz Ghibran hanya mengangguk pasrah, dia memang tidak bisa bersembunyi lagi, pikirnya.


"Ustadz, masalah itu harus di hadapin. Sebagai lelaki kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, antum mengerti kan?" tanya Gus Sakhi.


"Iya, Gus. ngerti." Jawabnya lirih.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


**hai, hai ... maaf ya upnya kemalaman....


soalnya lagi ramai beud di rumah othor...


Oh iya, ini ada rekomendasi dari teman othor yang gak kalah serunya, cekidot πŸ‘‡**



ini dia blurb nya


__ADS_1


__ADS_2