
Waktu terus berjalan, Sasa dan yang lainnya pergi menuju kelas masing-masing. Hari ini Sasa mengajar matematika dan sudah terlihat para santri sudah menunggu di kelas.
Belum lagi Sasa masuk, ketua kelas di sana sudah memberi aba-aba untuk mengucapkan salamnya.
"Istaid (bersiap)!" pinta ketua kelas.
"Kiaman (berdiri)." Lalu semuanya ikut berdiri.
"Salaman (Salam)!" Sesuai perintah, semuanya mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh!" sambil menundukkan kepala saat Sasa hendak masuk ke dalam kelas.
"Waalaikumussalam, silahkan duduk!" Ucap Sasa.
Setelah semuanya duduk, Sasa membuka absensi dan memanggil mereka satu per satu. Sebelum memulai pelajaran, Sasa memerintahkan mereka untuk membaca do'a terlebih dahulu.
"Baiklah, sekarang kita masuk bab 7 ya. Ada yang sudah belajar tadi malam?"
Semua tampak menunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak masalah, sekarang mari lihat papan tulis." Ucap Sasa yang tegas namun dengan suara yang masih lembut sehingga membuat anak-anak banyak yang memahami pelajaran yang di ajarkan oleh Sasa.
Sesi belajar pun selesai, Sasa kembali lagi berdiri untuk membuat beberapa soal agar mereka mengerjakannya.
"Sekarang kerjakan ya, Bunda beri waktu setengah jam dari sekarang." Sasa pun berkeliling kelas, ia mengawasi mereka seperti sedang mengikuti ujian.
Begitulah Sasa, dia memang terkesan dingin saat memberikan tugas pelajaran agar para santri tidak saling mencontek, pikirnya. Namun tiba-tiba perutnya terasa sedikit kram dan dia meringis kesakitan. "Aw! astaghfirullah." lirihnya.
Seorang santri menghampiri Sasa. "Bunda kenapa?"
__ADS_1
"Perut bunda sakit sekali." Sasa mengaduh kesakitan.
Tiba-tiba ketua kelas mereka datang ke arah Sasa. "Beri Bunda bangku!" titahnya, kemudian dia keluar untuk mencari pertolongan.
Ketua kelas tersebut yang bernama Wisnu memanggil Ustadz Alif yang kebetulan sedang berjalan melewati kelasnya Sasa. "Ustadz Alif!" Panggil nya.
Ustadz Alif pun menoleh, dilihatnya Wisnu sedang berlari mengejarnya. "Ada apa, Wisnu?"
Hosh, Hosh, Hosh. Wisnu menghentikan langkahnya sambil ngos-ngosan.
"Afwan Ustadz, Bunda ... Bunda Shazfa perutnya sakit!"
"Innalilahi ... Ya sudah, mari kita lihat." Seru Ustadz Alif yang kelihatan sekali sedang paniknya.
Saat melihat Sasa yang sedang duduk sambil meringis kesakitan, Ustadz Alif semakin panik dan mempercepat langkahnya.
"Bunda kenapa?"
"Kelamaan Ustadz, kita bawa saja dulu ke UKS!" suara salah satu santri membuat Ustadz Alif tercengang.
"Apa Bunda masih bisa berjalan?" tanya Ustadz Alif, kemudian Sasa menggelengkan kepalanya.
"Kita gendong saja Ustadz!" Sahut salah satu santri lagi.
Hampir saja Ustadz Alif mengikuti ucapan Santri tersebut, tiba-tiba ...
"Siapa yang akan kalian gendong?" Suara bariton itu membuat semuanya menoleh. Ustadz Alif terlihat semakin bersalah sampai susah payah ia menelan Saliva nya.
__ADS_1
"Maaf, Gus!" lirih Ustadz Alif.
"Seharusnya Ustadz memberitahu saya!" Ucap Gus Sakhi dengan lirih.
"Tenang kak, Ustadz Alif juga sedang panik, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit." sambung Gus Sakha.
Dalam waktu yang tepat untung saja Gus Sakhi dan Gus Sakha datang. Mereka berdua memang sengaja ingin ke kelas Sasa karena ingin mengecek kelas satu per satu. Setiap hari Gus Sakha memang bertugas untuk mengelilingi setiap kelas untuk melihat perkembangan belajarnya dan hari ini Gus Sakhi menemaninya. Akan tetapi, saat hendak masuk ke kelas Sasa, mereka di kagetkan dengan suara kegaduhan dari dalam kelas, dan lebih terkejutnya saat melihat Sasa kesakitan. Apalagi, para santri menyuruh Ustadz Alif untuk menggendongnya membuat Gus Sakhi semakin kepanasan.
"Itu akan memakan waktu yang lama Sakha, kita panggil saja dokter Fitri, menantunya Pak Rojali." sahut Gus Sakhi dan Gus Sakha mengangguk.
Gus Sakha sedang menyuruh seorang santri untuk memanggil dokter Fitri, sedangkan Gus Sakhi saat ini sedang menggendong sang istri untuk di bawa ke rumahnya Abah Kiyai dan menaruhnya di bekas kamarnya Patul dulu.
"Astaghfirullah, Sakhi ... Ada apa ini Nak?" tanya Ummah yang juga khawatir.
"Perut Humaira tiba-tiba sakit, Ummah." Jawab Gus Sakhi.
"Ya sudah, Ummah buatkan teh hangat dulu untuk Shazfa."
"Terima kasih, Ummah."
Kabar Sasa sudah sampai di telinga The Guys. Mereka pun datang ke rumah Abah dan melihat kondisi Sasa.
Bertepatan pada saat itu, Dokter Fitri pun juga sudah datang dan segera mengecek keadaan Sasa.
"Permisi ..." Kata dokter Fitri agar mereka memberinya jalan untuk masuk.
"Saya cek dulu kondisinya ya!" seru dokter tersebut.
__ADS_1
Dokter pun memeriksa Sasa, tiba-tiba tangan dokter Fitri meraba perutnya Sasa sambil sesekali ia tekan di beberapa tempat.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" tanya Gus Sakhi, sementara dokter Fitri tersenyum lebar pada mereka.