
"Astaghfirullah, ternyata begini ya kalau wanita sudah berkumpul." Suara bariton itu mengagetkan Sasa.
Wanita itu langsung melirik jam, dan ia bergelayut manja di lengan suaminya. Tentu saja membuat ketiga sahabat nya bingung sekaligus menahan tawanya. "Ayo, Sholat." Ucap Sasa dengan lembut setelah ia mengetahui letak kesalahannya.
Mereka pun bergegas mengambil wudhu, saat ke mushola pribadinya Sasa dan Gus Sakhi mereka di kejutkan dengan Fakhi yang sudah mengambil posisi sebagai imam. Sedangkan Adam, Hawa dan Annasya sudah mengambil posisi nya masing-masing.
"Masya Allah, anak-anak lebih bijak daripada orangtuanya." Sindir Gus Sakhi.
Sasa menatapnya penuh murka, ingin sekali rasanya Sasa mencubit lengan suaminya itu. Tetapi, dia sadar jika ia melakukan itu maka Sasa harus mengambil wudhu dua kali. "Jangan memulai ya, Dad. Atau nanti malam Mas tidur di luar saja."
"Wah, pabrik tutup nih." Goda Gus Sakha.
"Jangan begitu Gus, tuh lihat Mbak Patul matanya tajam banget kaya silet." Bima menasehati Gus Sakha, tapi sayangnya dirinya kini juga di tatap nanar oleh Pipa.
"Kenapa Pak bule nggak ikut kenak, ya?" gumam Bima sambil menggarukkan kepalanya.
Sedangkan di seberang, Sapi sedang membisikkan sesuatu pada sahabatnya, membuat ketiganya tertawa renyah.
"Asal kalian tahu, kalau aku marah sama baba nya si Mevlan bisa-bisa aku yang kewalahan dibuatnya karena dia akan menghukumku tiga kali ronde, mana sanggup aku!" bisik Sapi sampai membuat ketiganya terkekeh geli, apa lagi Sasa yang kini sampai terduduk saking lucunya.
"Astaghfirullah, Mommy!" Gus Sakhi menghampiri Sasa dengan khawatir. "Kenapa sampai segitunya?" lanjutnya lagi.
"Nggak pa-pa, Dad. Nanti saja Mommy jelasin, ada anak-anak soalnya." Jawab Sasa.
🍭🍭🍭
__ADS_1
Ternyata benar, akan ada pelangi setelah hujan. Entah sebuah keberuntungan atau memang sudah takdir dari Tuhan, Bima kini sudah di tugaskan di ibukota. Itu tandanya mereka akan sering berjumpa. Beda hal dengan Sapi, walaupun dia masih tinggal di Amerika tetapi kini Ali atau Amarcus itu akan sering ke Indonesia untuk mengecek perkembangan perusahaannya yang berada di ibukota.
Fakhi sedang asik bermain dengan Zahra, Adam sibuk sendiri dengan bola basketnya, sedangkan z
Hawa sedang membuatkan Zahra susu agar adik kecilnya segera tidur.
"Kak Fakhi!" panggil anak kecil yang tak lain adalah Annasya.
"Eh? ada apa?" Fakhi terlihat dingin di depan Nasya.
"Kak Fakhi kenapa ketus banget sih sama aku?" Fakhi tersentak, karena bocah kecil itu berani sekali menanyakan itu padanya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka.
"Kak Fakhi!" panggil Nasya lagi.
Tiba-tiba Hawa datang dengan membawa susu Zahra, "Ini susunya, Bas!" kata Hawa sambil memberikan susu Zahra.
Hawa memang lebih suka memanggil Fakhi dengan Abbasy, karena menurutnya tidak sopan saja jika menyingkat nama bocah itu, karena nama tersebut berasal dari nama Ayah dan Bunda.
"Makasih, Kak." Jawab Fakhi dengan senyuman.
"Giliran sama kak Hawa aja tersenyum." gumam Annasya yang masih bisa di dengar oleh Fakhi.
"Nasya, main yuk!" Bocah tersebut tersenyum sambil mengajak Nasya, siapa sangka Adam mengajaknya bermain sekarang padahal lelaki itu sejak tadi mengabaikan mereka.
__ADS_1
"Aku duduk di sini saja deh, Kak Adam." Tolak Nasya halus.
"Bagaimana kalau kakak belikan Ice Cream?" ternyata Adam masih berusaha.
"Boleh!" seru Nasya.
Tingkah mereka ternyata di lihat oleh ibu mereka yang kini sedang membawakan makanan. Keempat ibu itu saling pandang, entah apa yang ada di pikiran mereka sekarang.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈
Kira-kira anak-anak The guys kenapa ya? ada yang tau gak?
Sebentar ya, othor cari tahu dulu hihi ....
Oh iya, sambil menunggu othor Up, kembali lagi othor mau kenalin ke kalian karya teman othor yang gak kalah serunya, cekidot👇
By: Arandiah
Blurb;
Roy Xavier, Seorang pria dewasa berusia 36 tahun, yang biasa di panggil sekertaris Roy, Seorang sekertaris sang tuan muda Sean Agipratama, pemilik perusahaan SA Group, dengan parasnya yang tampan dan gagah, Roy tak pernah kekurangan pujian dari para kaum wanita, memiliki sifat yang dingin dan kaku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun.
Siapa sangka, jika pria dingin itu malah terpikat oleh wanita yang menjadi rivalnya, Yolanda Jackson. Tapi yang lebih menyakitkan saat ia telah mencintai wanita tomboy itu adalah, ketika wanita yang ia cintai sudah memiliki pria yang ia cintai.
__ADS_1
Akankan sekertaris Roy bisa meluluhkan hati wanita yang ia cintai dan bisa mendapatkan wanita itu?