
Di sungai ini, terdapat banyak pelajaran bagi Gus Sakhi. Lelaki itu sejak kecil memang lebih suka tinggal dengan Kakeknya. Makanya, saat itu Gus Sakha lah yang di jodohkan pada Patul oleh orang tua mereka.
'Astaghfirullah, rasanya aku enggan sekali datang kesini lagi.' Gumam Gus Sakhi dalam hati.
"Mas!" panggil Sasa, tetapi belum juga ada jawaban.
"Daddy!" teriak Sasa, lagi-lagi Gus Sakhi tidak menyahutinya.
"Dah 'lah, malas!" kata Sasa meninggalkan Gus Sakhi sendirian. Entah apa yang ada dipikiran suaminya sekarang, tetapi Sasa memilih untuk pergi dan kembali bergabung pada teman-temannya.
Banyak potongan ingatan ketika ia melewati lintasan tempat ini, jembatan tua itu telah menjadi saksi bisunya. Dibawahnya mengalir sungai dengan banyaknya batu, dimana baru tersebut ditemani dengan air yang begitu jernih. Semakin ke tepi air itu semakin surut bahkan hanya sampai semata kaki saja. Tebingnya masih berhias pohon-pohon tua yang begitu menyejukkan mata.
"Astaghfirullah, Humaira!" Lelaki itu tersadar dari lamunannya ketika angin menerpa wajahnya.
"Kemana Humaira? Allahuakbar." Gus Sakhi terlihat panik, tadinya dia bersama Sasa saja, sementara yang lainnya sudah duluan pergi ke bawah untuk mandi di sungai.
"Kenapa dia meninggalkanku?" saking paniknya, Gus Sakhi berulang kali untuk bicara sendiri.
Gus Sakhi berlari dan memanggil Sasa ke sembarang arah. Saat tidak menemukan sang istri, Gus Sakhi memilih untuk kembali ke sungai.
'Grep!
Tanpa aba-aba Gus Sakhi langsung memeluk Sasa yang sedang merendamkan kakinya di sana.
"Ciyeeeeeeee," sorak semuanya terutama Fakhi.
"Lepas!" Sasa mengucapkannya dengan setengah berteriak, tentu saja membuat semuanya diam.
__ADS_1
"Sayang," lirih Gus Sakhi.
"Maaf, Sasa ingin sendiri." Jawab Sasa sambil berjalan ke pondok.
"Ada apa, Kak?" bisik Gus Sakha.
"Aku juga nggak tahu, Kha. Aku yakin ini salah paham." Gus Sakhi terduduk lemas.
"Kak, apa Kakak ingat wanita itu lagi?"
"Entah 'lah, aku sedikit trauma saat melewati jembatan itu."
"Sepertinya ini harus Kakak bicarakan pada Shazfa, secepatnya!"
"Apa sekarang saja?"
Fakhi yang tadinya asik bermain dengan Adam, kini ia langsung pergi ke pondok untuk melihat Mommy nya yang kini sedang rapuh.
"Mommy," panggil Fakhi.
Rupanya, Sasa sedang menangis. Wanita itu langsung menghapus air matanya. "Hai Sayang, ada apa?"
"Mommy kenapa? kok nangis?"
"Hei, ini bukan nangis, Mommy cuma kelilipan. Anginnya gede banget." Sasa mencoba untuk memberikan anaknya pengertian.
"Benar karena itu alasannya? bukan karena Abi kan?" Sasa tersentak, bocah kecil itu sudah berhasil membuatnya takjub.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Fakhi balik main aja, ya. Mommy mau istirahat dulu, boleh kan?"
"Iya, Mommy."
Sasa tidak mengerti, apa ini perasaan bumil atau memang suaminya berbeda hari ini. 'Ada apa denganmu, Mas? ada apa dengan tempat ini?'
🌼🌼🌼
Anginnya begitu kencang, sampai membuat wanita hamil itu semakin terlelap tidurnya. Gus Sakhi baru saja pergi ke Mushola bersama yang lainnya, tinggal lah Sasa dan Pipa untuk menjaga pondok.
"Permisi, selamat siang ..." Sapa seorang wanita cantik memakai daster, sepertinya dia warga di kampung ini.
"Siang, Mbak." Jawab Pipa ramah.
"Warga baru, ya?" Tanya wanita tersebut sambil menenteng kain yang baru saja ia cuci.
"Oh enggak, kami hanya sedang berkunjung ke rumah Kakek kami. Kebetulan anak-anak ingin mandi di kali, katanya." Sahut Pipa.
Sasa yang merasakan ada orang lain selain mereka pun ia langsung terbangun, "Ada apa, Pi?" tanya Sasa dengan menguap.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Wah siapa kah wanita berdaster itu?????
Sambil menunggu Othor Up, yuk baca punya teman othor juga, cekidot👇
__ADS_1