Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Bu Nita vs Sasa


__ADS_3

Gus Sakhi terus saja memandangi wajah cantik istrinya di balik ponsel tersebut, bahkan sesekali ia tersenyum membayangi istrinya itu.


Ekhem


"Nyesal ana nyuruh lihat foto istrinya, malah sekarang jadi senyam-senyum sendiri lagi." Keluh Hendrawan.


"Hahaha! makanya nikah bro." Sahut Gus Sakhi membuat Bu Nita kesal.


"Pak Sakhi, kalau istrinya kurang mantap saat memuaskan suaminya, saya bisa bantu kok Pak, di jamin bakal puas." celetuk Bu Nita yang ngaur.


"Astaghfirullah." Ucap Gus Sakhi dan Hendrawan.


"Bu Nita, saya saja yang masih jomblo tidak tertarik dengan Anda, apalagi sahabat saya yang sudah memiliki istri ini? asal Ibu tahu, istrinya ini sangat cantik bahkan saking cantiknya ia tak ingin kecantikannya itu terlihat banyak orang." Sindir Hendrawan.


"Haha! Pak Hendrawan lucu juga, mana mungkin ada wanita yang tidak ingin kecantikannya di lihat banyak orang." Kata Bu Nita dengan sombongnya.


"Terserah Ibu saja!" singkat Hendrawan.


Tiba-tiba Gus Sakhi menepuk jidatnya sambil beristighfar.


"Ada apa, Bro?" tanya Pak Hendrawan.


"Ana lupa bawa name tag!"


"Ya Allah, ya sudah kita singgahi dulu."

__ADS_1


"Iya pak, biar saya antar." Bu Nita kesenangan mendengarnya karena dengan begitu dia akan tahu rumahnya Gus Sakhi.


Sementara Gus Sakhi hanya bisa pasrah, mau gak mau dia setuju dengan keputusan Bu Nita.


Sementara di rumah, Sasa sedang memasak makanan yang banyak dan tentunya adalah kesukaan suaminya.


Rencananya hari ini dia akan meminta maaf pada sang suami karena sudah membuat Gus Sakhi merasa bersalah hari ini dan mendiamkan suaminya itu.


Sesekali Sasa melirik jam dindingnya, dia juga tidak tahu jam berapa suaminya akan pulang. Setelah masak, Sasa mandi dan berdandan. Senyumnya mengembang saat melihat dirinya di cermin yang tampak cantik itu.


Tok! Tok! Tok!


Gus Sakhi sengaja mengetuk pintu terlebih dahulu, agar jika Sasa sudah pulang ia akan tahu ada tamu yang datang dan bersiap dengan pakaian yang wajar.


Sasa langsung melihat jam dindingnya, "Masih jam segini siapa yang datang?" gumamnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Gus Sakhi.


"Waalaikumussalam." Jawab Sasa dengan wajah yang masih heran, lalu ia mengambil tangan suaminya untuk di ciumnya.


"Sayang, kenalkan ini Hendrawan teman Mas sejak kecil. Nah kalau ini ...." Belum lagi Gus Sakhi meneruskan ucapannya, wanita itu memotongnya.


"Saya teman dekat Pak Sakhi." Ucapnya sambil tersenyum.


Deg!

__ADS_1


"Bu Nita!" tegur Pak Hendrawan.


Sementara Gus Sakhi langsung menatap sang istri seperti menandakan bahwa ini tak seperti yang ia kira.


"Nggak pa-pa kok, Pak Hendrawan." Sahut Sasa sambil tersenyum.


"Ayo silahkan masuk!" sambung Sasa lagi membuat Gus Sakhi ingin memeluknya dan menjelaskan semuanya pada sang istri.


"Terima kasih calon madu." Jawab Bu Nita.


"Bu Nita, berhati-hati lah jika berbicara." Ancam Gus Sakhi.


"Tunggu, kamu kan mahasiswi di kampus, iya kan?" Bu Nita baru menyadari jika Sasa adalah mahasiswa nya.


"Benar sekali Bu, saya Shazfa jurusan ekonomi. Ibu masih mengenali saya kan? tenang Bu, saya masih punya bukti dari masalah anda kemarin." Jawab Sasa dengan Lantang.


"Kamu!" geram Bu Nita.


"Oh iya, tadi Ibu bilang apa? madu? Ibu yakin suami saya mau sama Ibu?"


"Kenapa tidak? saya lebih cantik dari kamu, saya seksi, saya lebih pintar dan saya lebih sempurna. Sedangkan kamu apa? kamu adalah seorang wanita yang baru saja hijrah, mana celana jeans kamu kemarin? coba pakai lagi! saya rasa Pak Sakhi akan berfikir dua kali jika harus mempertahankan kamu." Ucapnya dengan sombong.


Sasa sedari tadi sudah geram melihat mantan Dosen nya itu yang tidak pernah kapok padahal Sasa sudah pernah pergoki dia sedang bercumbu dengan salah satu Dosen lainnya.


Sasa sengaja memasang wajah se tenang mungkin, karena baginya untuk melawan Bu Nita harus dengan cara yang paling lembut.

__ADS_1


"Kenapa diam saja kamu?" tantang Bu Nita.


__ADS_2