Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Sikap Aneh Sasa


__ADS_3

Setelah membaringkan istrinya, tiba-tiba saja Sasa membuka matanya.


"Aaaaaaaa!" teriak Sasa membuat Gus Sakhi tersentak.


"Ada apa, Humaira?"


"Sasa kenapa di atas kasur? hiks ... ada maling Mas!"


"Maling?" Gus Sakhi mengerutkan alisnya.


"Iya, buktinya Sasa sudah di sini sekarang. Sasa ingat kok tadi Sasa ketiduran di sana." Sambil menunjuk arah balkon.


Gus Sakhi menahan tawanya, "Ngga pa-pa sayang. Jangan khawatir malingnya gak nakal kok."


"Tega banget, masa istrinya boleh dipegang-pegang sama maling! Oh iya, Sasa tahu. Pasti karena sekarang mas lagi bahagia karena di sukai banyak orang, iya kan?"


"Hm?" Gus Sakhi mengerutkan alisnya. Lalu berjalan mendekati sang istri dan tiba-tiba....


Cup!


"Bawel banget istri, Mas! Tentu saja malingnya boleh pegang kamu karena dia halal melakukannya."


"Semakin ngawur ya , Pak Dosen!"


Gus Sakhi terkekeh melihat sang istri, "Mas gak ngawur, yang pindahin kamu itu ini nih ...," Gus Sakhi menunjuk dirinya sendiri, "suami kamu yang tampan!"


"Wih, percaya diri sekali Anda!"


"Itu nyatanya. Ya sudah mumpung kamu sudah bangun, mas gak jadi mandi deh."


"Kok gitu?"


"Mas mau silaturahmi saja!"


"Hah?"


"Kok hah?"


"Ya maksudnya apa sih mas?"


"Mas rindu sama kamu, kita usaha lagi yuk."


"Hah?"

__ADS_1


"Respon nya hah Mulu!" kesal Gus Sakhi.


Grep!


"Ketangkap kamu!" Sambungnya seperti anak yang sedang main petak umpet.


"Hahaha" Sasa terkekeh geli melihat Gus Sakhi seperti anak kecil itu.


"Jangan ketawain suami kamu, dosa! Lagian kamu itu susah buat didapatkan, jadi wajar kalau mas berbangga hati sekarang."


"Sasa itu limited edition, jadi wajar dong." Sambil tersenyum. Gus Sakhi juga ikut tersenyum, karena sudah beberapa hari ini dia di cuekin oleh istrinya, apalagi tadi siang ada sedikit masalah dan kini dengan mudahnya Sasa tersenyum dan ceria lagi di depannya.


Tiba-tiba ...


"Huek ... Huek ...." Sasa melepaskan pelukan sang suami dan pergi ke kamar mandi.


Gus Sakhi terlihat panik dan menyusul Sasa ke kamar mandi, akan tetapi pintunya di kunci oleh Sasa.


"Sayang, kenapa di kunci?" Ucapnya sambil mengetuk pintu.


Tak ada sahutan dari dalam, hingga akhirnya pintu terbuka. Gus Sakhi langsung membawa Sasa ke pelukannya.


"Sayang, kita ke dokter aja yuk."


"Kenapa kamu bandel sih?" Gus Sakhi terlihat kesal, akan tetapi Sasa hanya diam saja.


"Humaira!" panggil Gus Sakhi dengan nada sedikit tinggi.


"Mas membentakku?" pekik Sasa lalu pergi keluar kamar.


Gus Sakhi menyadari kesalahannya, bukan maksudnya untuk membentak istrinya itu. Rasa khawatirnya lah yang membuatnya terkesan membentak saking tidak ingin terjadi apa-apa pada sang istri.


"Astaghfirullah," Gus Sakhi mengusap wajahnya.


Sementara Sasa saat ini pergi ke ruang tv dan menonton film kesayangan nya sampai membuatnya lupa saat ini ia sedang marah.


Gus Sakhi yang barusan selesai mandi pun terkesiap mendengar suara cekikikan dari luar kamarnya. Ia mencari sumber suara dan tersenyum simpul saat melihat sang istri yang sedang menonton sambil tertawa.


'Dasar gadis lucu!' gumamnya.


Gus Sakhi berjalan mendekati Sasa dengan membawakan segelas air untuk di minum Sasa. "Sayang, nonton apa sih? senang banget kayanya."


Sasa menoleh dan menarik tangan suaminya untuk duduk bersamanya. "Kartun kesayangan Sasa lagi main Mas, lihatlah lucu sekali. Hahahhaha!"

__ADS_1


Gus Sakhi tersenyum, "Ini minum dulu."


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama Sayang." Kata Gus Sakhi lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Sasa. Sedetik kemudian ...


"Hm! Bauk ..." Kata Sasa sambil menutup hidungnya.


Gus Sakhi langsung mencium bajunya, "Gak bauk kok."


"Mas Sakhi pakai sabun apa sih?"


"Sabun yang biasa kita pakai lah."


"Parfum nya?"


"Parfum yang kamu beli kemarin."


"Tapi kok Bauk?"


Gus Sakhi menggelengkan kepalanya seolah mengatakan jika dirinya juga tidak tahu.


"Ih sana deh, jangan dekat-dekat dengan Sasa." Sambil menggeser kan tubuhnya.


"Jadi mas gak boleh dekat nih?" tanya Gus Sakhi.


"Ngga boleh!"


"Tapi Mas kan rindu ..."


"Jangan rindu makanya kalau masih Bauk!"


"Hah?"


"Diam ah!" Sasa kembali kesal dengan suaminya.


"Ya Allah, apa salah hamba." Gumam Gus Sakhi. Lalu Gus Sakhi melirik sang istri, "Sayang?"


"Hm"


"Mas punya ide!"


"Apaan?"

__ADS_1


__ADS_2