
Dua Minggu kemudian,
The guys sudah dengan pakaiannya hitam putih, mau ngapain lagi kalau bukan sidang skripsi. Jantung tak karuan, tangan gemetaran, pikiran pun bercabang. Antara gugup dengan takut sudah tak dapat didefinisikan lagi.
Di dalam gedung, mereka terus berzikir dan menenangkan dirinya. Sedangkan di luar, sudah ada Ustadz Ghibran yang akan memberikan semangat pada Sapi, Gus Fathan juga Gus Sakha pun turut ikut datang. Mungkin disini hanya Sasa yang tidak didampingi siapa-siapa namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.
Keluarga anak perantauan ini memang tidak ada yang datang, mengingat jadwal wisuda nya tidak berdekatan dengan jadwal sidang. Oleh karena itu keluarga mereka memilih datang saat wisuda sekaligus menjemput anak mereka.
Beberapa jam kemudian, the guys sudah keluar ruangan, senyum menyelimuti mereka karena kebahagiaan lah yang menghampiri. Sasa dan Patul memiliki nilai tertinggi di jurusan mereka, sedangkan Sapi dan Pipa juga memiliki nilai yang cukup memuaskan.
"Alhamdulillah" ucap mereka serempak sambil berpelukan
"Akhirnya kita lulus juga ya" Ucap Sasa
"Selamat ya!!! kalian dapat nilai tertinggi, gak heran sih aku hahahha!" celetuk Sapi membuat Sasa dan Patul menggelengkan kepala .
"Kalian berdua juga hebat, kita semua hebat, iya gak Sa?" sahut Patul
"Benar banget" ucap Sasa .
"Setelah ini, apa kita bisa sering jumpa gak ya?" tanya Pipa membuat keempatnya merenggangkan pelukannya.
"Loe kok nanya gitu sih" lirih Sasa
"Aku jadi sedih" sahut Patul
"Pokoknya kita harus sering jumpa, gak pun langsung setidaknya komunikasi kita dari hp harus terus terjalin" tegas Sapi.
Akhirnya keempatnya saling tangis menangis. Wajar jika mereka saat ini sedih, kebersamaan mereka baik susah mau pun senang itu mereka hadapin bersama.
Setiap moment adalah kenangan, setiap detik adalah kebersamaan. Itulah yang mereka alami selama kurang dari 4tahun ini.
ekhemm
Deheman itu membuat mereka tersadar lalu menyeka air matanya.
"Kok pada nangis?" celetuk Gus Fathan.
"Aa' mah, ganggu.. Salam dulu kali A" protes Patul
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" ucap ketiga lelaki itu.
"Waalaikumussalam" sahut The guys.
"Bagaimana sidangnya Dek?" kali ini yang bertanya adalah Ustadz Ghibran
"Alhamdulillah bang, lancar. Tau gak bang siapa yang dapat nilai terbaik?" jawab Sapi yang mulai dengan mulut lemesnya.
"Siapa?" Tanya ketiga lelaki itu...
"Gus Sakha beruntung kali ini, karena yang mendapatkannya adalah kedua bidadari Gus Sakha" jawab Sapi tanpa dosa.
degggg!
Ucapan Sapi mungkin terlihat biasa, namun tampak beda dengan wajah Sasa dan Patul. Sasa merasa tidak enak, sedangkan Patul saat ini cemburu. Wajar jika dia cemburu, karena ia adalah istri sah nya.
"Sapi gemblung, mulutmu itu inang" protes Pipa membuat Sapi menyadari kesalahannya.
Sapi menutup mulutnya "Eh sorry, duh Jabir kali lah mulutku ini. Maap ya Wee sumpah aku gak sengaja, gak sadar aku tadi. Gus Sakha maaf ya, gak maksud aku tadi. Tul... Sa.... maap ya..."
Sasa dan Patul tersenyum, "Gak apa-apa " jawab mereka serempak .
"Lain kali, loe jangan gitu Pi" sambung Sasa
"Loe lihat tu nyonya Sakha, dia cemburu" goda Sasa
"Apaan sih sa " sahut Patul dengan pipi merona nya.
ekhemmm
Kali ini yang berdehem adalah Gus Sakha. Ia memberikan empat bouqet kepada the guys.
"Karena kalian sudah lulus, maka kalian berhak mendapatkannya, ambil nih" ucap Gus Sakha.
The guys dengan senang hati mengambilnya "Terimakasih Gus"
Gus Sakha tersenyum "Sama-sama".
"Dan ini, khusus buat Neng Lila, istri Aa" ucap Gus Sakha sambil memberikan kotak cincin.
__ADS_1
Romantis, ya itulah yang dipikiran Sasa dan Patul. Patul dengan bahagianya mengambil nya sementara Sasa mati-matian menahan api cemburunya.
Begitupun Pipa yang mendapatkan hadiah tersendiri juga dari Gus Fathan, dan Sapi mendapatkan hadiah dari Ustadz Ghibran.
"Duh, romantis banget sih" Protes Sasa.
"Iri bilang, bos" goda Pipa.
"Eh sorry, gue bukan iri. Tapi bisakah kalian lihat gue yang jomblo ini?" sahut Sasa membuat semuanya tertawa.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat dari kejauhan, namun tatapan itu berbeda, ada yang ia kagumi dari salah satu diantara the guys.
Namun tatapan itu berubah menjadi rasa penasaran saat Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiri The guys.
"Shazfa" panggil nya dengan membawa bouqet bunga.
Semua menoleh "Ada apa?" ucap Sasa.
"Ini buat kamu" ucapnya
"Sorry, buat loe aja kak, gue sudah punya" sahut Sasa.
"Kamu ini kenapa sih? tolong ambil, maafkan kesalahanku dulu, tapi setidaknya aku gak kaya calon suami kamu itu yang memilih menikah dengan sahabat kamu sendiri" ucap lelaki itu tanpa dosa sambil melirik sekilas yang dimaksud.
"Kak Syauqi!!" tegur Sasa
"Kak, cukup! loe gak tahu apa-apa tentang hidup gue dan sahabat gue. jadi dari pada loe disini buat kekacauan mending loe pergi aja sana" ucap Sasa.
"Sa, Tapi---"
"Saya bukan maksud mengganggu, tapi sebaiknya anda pergi saja dari sini" kali ini yang berbicara adalah Gus Sakha.
Syauqi memandang Gus Sakha dengan tatapan jijik "Cih, dasar pengkhianat" ucap Syauqi sambil pergi.
"Maaf ya Gus atas ucapan Syauqi tadi" lirih Sasa.
"Tidak apa, kalau ada apa-apa panggil saja kami" sahut Gus Sakha.
"Iya benar Sa, ada kami disini" ucap Patul menenangkan Sasa.
__ADS_1
oh jadi namanya Shazfa? bismillah, ana Uhibbuki Fillah ... gumam lelaki yang sedang melihat dari kejauhan.
***