Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Khitbah Dadakan


__ADS_3

Akhirnya Sasa mengikuti kakaknya keluar, saat sudah sampai di ruang tamu pandangan Sasa dan Gus Sakhi bertemu.


"Astaghfirullah" gumam Sasa tanpa kedip.


Lalu, Sasa mengedarkan pandangannya dan ia lebih kaget lagi karena ada Umi dan Abi disana.


"Loh, kok...?" pekiknya.


Umi merentangkan tangannya pada Sasa "Gak mau peluk Umi?"


Tanpa aba-aba Sasa langsung memeluk Umi. "Kenapa Umi ada di sini?"


Pertanyaan itu lolos begitu saja membuat Umi dan Abi tersenyum lebar.


"Shazfa, sini nak." Panggil sang Mama, Sasa mengangguk patuh.


Setelah duduk, kembali lagi Sasa melihat Gus Sakhi yang sedang menunduk. Batinnya bertanya siapa dia? apa dia orangnya? Mengapa wajahnya sangat mirip dengan Gus Sakha?


Papa Rian melihat sang Putri yang kebingungan pun langsung tersenyum. "Ayo nak Sakhi, kenalkan dirimu."


Gus Sakhi mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih Pak"


Lalu, ia melihat Sasa yang kini sedang menundukkan pandangannya "Bismillahirrahmanirrahim, Adinda... Saya Sakhi, mungkin adinda bingung kenapa di sini ada Abi dan Umi. Adinda juga mungkin tidak mengenali saya, akan tetapi kita pernah bertemu kalau adinda lupa."


"Maaf menyela, tapi kita kapan ya bertemu nya?" potong Shazfa.


"Sebentar, biar saya pakai masker dulu." ujar Gus Sakhi, lalu ia mengambil masker dan memakainya.


"Adinda ingat tidak dengan lelaki ini?" sambungnya setelah masker terpakai.


"Ka---kamu kan...,?" gelagapan Sasa sambil menggeleng tak percaya.


"Iya, saya laki-laki yang pernah tidak sengaja bertabrakan dengan adinda Shazfa beberapa kali di kampus, saya juga yang bertemu dengan adinda saat di rumah Lila. Untuk lebih dekatnya, saya adalah saudara kembarnya Sakha."

__ADS_1


Deg!


"Umi, ini...,?" Sasa seakan tak percaya dengan yang didengarnya barusan.


"Iya Nduk. Ini lah yang Umi maksud beberapa bulan lalu. Jujur, Umi sangat bahagia saat mengetahui anak Umi menyukai kamu."


"Bagaimana, Nduk?" kali ini yang bertanya adalah Abi


"Kamu mau kan ta'arufan dengan Sakhi?" sambung nya lagi.


Sasa melihat Mama dan Papa, kedua orangtuanya itu mengangguk. Kemudian ia melihat Kakaknya, kembali lagi Kak Arya juga mengangguk.


"Maaf." Shazfa menjeda ucapan nya membuat semuanya bingung terutama Gus Sakhi yang terlihat sudah mulai kecewa.


"Sebelum Sasa menjawabnya, Sasa ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk Gus Sakhi."


"Silahkan, Adinda."


"Kenapa Gus memilih Sasa?"


"Jika saat kita masuk di tahap khitbah, atau sudah menjadi sepasang suami istri namun Gus mendapatkan kabar yang gak baik tentang Sasa, atau ada hal lain yang baru saja Gus ketahui. Bagaimana?"


"Saya akan mendengar alasan kamu, mencari kebenarannya dan memikirkannya dengan kepala dingin. Akan tetapi, jika masalah yang kamu maksud itu adalah antara kamu dengan Sakha, demi Allah saya sudah memakluminya."


Deg!


Setiap jawaban dari Gus Sakhi memang sangat menyentuh di hati Sasa. Lelaki yang berada di depannya ini ternyata cukup tegas tapi sangat hangat baginya.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanya nya, tetapi dia sangat malu jika bertanya di depan umum.


Suasana menjadi hening kembali karena semua menunggu jawaban dari Shazfa.


"Bismillahirrahmanirrahim, iya Sasa mau." ucapnya lantang

__ADS_1


"Alhamdulillah...," sorak semunya.


Kemudian, Tiba-tiba saja Abi menyela dengan mengacungkan tangannya.


"Maaf, apa gak sebaiknya saat ini langsung khitbah saja?"


"Khitbah?" beo Sasa dan Abi mengangguk.


Ia tak percaya sekarang, bagaimana mungkin semua secepat ini, pikir Sasa.


"Bagaimana nak? Papa rasa lebih cepat lebih baik." ujar Papa membuat Sasa semakin bingung.


"Ba---baiklah." ucap Sasa gelagapan.


Ternyata, Gus Sakhi sudah mempersiapkan segalanya bahkan kini ia juga membawa kotak perhiasan dan sudah memberikannya pada Umi.


"Umi, tolong pakaikan" pinta Gus Sakhi.


Sasa menjadi diam membisu, ia terpaku seakan tak percaya dengan apa yang ia alami sekarang.


"Kapan kamu membelinya?" Umi heran


"Kemarin Umi." jawab Gus Sakhi malu.


Umi langsung memakaikannya pada Shazfa lalu Sasa mencium tangan Umi dan memeluknya.


"Untuk pernikahan, sebaiknya kita adakan Minggu depan." sambung Abi membuat Sasa terkejut.


"Apa?" beo Sasa.


"Kenapa? apa kamu keberatan?" Tanya Abi lagi.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


... Promo bab ...



__ADS_2