
Mentari bersinar, lembaran baru telah tiba. Pipa sudah terbiasa dengan keadaannya sekarang. Tiap berjumpa dengan Gus Fathan pun ia sudah merasa biasa saja, bahkan ia dan Indah kini berteman baik. Lain halnya dengan Sasa yang masih mencintai dalam diam.
Melihat kalian tersenyum saja sudah membuatku bahagia.~ Sasa
Hari ini adalah 7 bulanan Patul, mereka sengaja tidak mengadakan masak-masak karena sudah memakai jasa catering milik bubunya Bima.
Tak lama kemudian, Bima telah sampai di parkiran pesantren dan Pipa menyambutnya didepan.
Pipa saat ini menjadi sorotan beberapa mata, siapa lagi kalau bukan the guys yang tampak bahagia dan satu pasang mata lagi menahan api cemburu.
Semenjak kejadian itu, Bima dan Pipa saling dekat tapi mereka belum menyadari perasaannya masing-masing. Nyaman, ya hanya satu kata itu yang mereka jadikan alasan saat di tanya kejelasannya pada sahabatnya .
Terpaut 5 tahun lebih tua daripada Bima membuat Pipa malu akan perasaannya. Baginya, biarlah semua berjalan seperti air yang mengalir.
"Lama banget Bim"
"Sorry Tuan Putri, hamba terkena macet"
"Dih, lebay lu kurcaci" sahut Pipa membuat semua terbahak-bahak.
ehemmm
Deheman itu membuat suasana menjadi hening, ya Gus Fathan memang sedang cemburu saat ini.
"Jangan banyak bercanda, nanti makanannya pada jatuh" ujar Gus Fathan dengan dinginnya.
Semua menjadi diam, kecuali Patul yang ingin tertawa melihat kakaknya itu.
"Dih, bilang saja cemburu" celetuk Patul pelan.
"Ngomong apa kamu neng?" suara bariton itu mengagetkan Patul
"Hah? mana ada, perasaan aa' aja itu mah" sahut Patul santai
"Santai dong Pak, maklum aja sama bumil" bela Gus Sakha.
"Ck! ente ya, dulu di kubu ana sekarang malah jadi lawan sama ana. Untung adik ipar!" kata Gus Fathan.
"Mas, bantuin dong... Kok malah berantam sih" kesal Bima yang sedari tadi hanya memasukkan makanan ke Rumah Patul sendirian.
"Lah bocah, ana bukan mas ente!" kesal Gus Fathan semakin menjadi.
***
Acara pun tiba, Beberapa Ustadz dan Kiyai serta Alim Ulama sudah pada datang. Sasa yang memang ditugaskan untuk menerima tamu pun duduk di depan bersama ketiga sahabat nya.
"Guys, gue mau ambil minum, ada yang mau nitip gak?"
"Aku mau lah Sa, haus kali aku."
Sasa mengangguk "Oke, kalau loe Pa? Kenyang lihatin Bima?"
__ADS_1
"Eh mana ada gitu, astaghfirullah"
"Tapi setelah gue lihat Bima cocok kok sama loe, ya kan Pi?"
Sapi yang sedang lihatin para tamu pun terkejut namanya di panggil.
"Ha? Apa? kenapa?"
"Dih gak fokus, bye!"
Sasa mengambil tiga cup minuman dingin , Terdengar samar-samar suara tawa dari sepasang suami istri yang sedang menanti buah hati.
'Sampai kapan aku harus larut dengan perasaan ini ya Allah, aku sudah mencoba untuk melupakan, tapi kenapa berat sekali?'
Tiba-tiba...
brukkkkkk
Astaghfirullah, Sasa tak sengaja menabrak seorang lelaki memakai jubah berwarna mocca yang berkulit putih dan berbadan tinggi namun wajah tampannya tertutup oleh masker yang di pakainya.
"Maaf, akhi... maaf" lirih Aisa.
"Iya gak papa..." Suara yang sedikit berat namun terdengar lembut dihati Sasa .
deggg!!
'Mata itu?' gumam Sasa .
Laki-laki itu pergi begitu saja, Sasa merasakan ada getaran saat didepannya padahal wajahnya tak terlihat saat itu.
Sasa kembali berjalan sampai tiba-tiba ia bertemu dengan dua orang paruh baya yang sempat di harap Sasa untuk menjadi mertuanya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam Umi, Abi" sambil menyalim tangannya.
"Apa kabar Nak?"
"Alhamdulillah Umi"
"Oh iya Abi deluan ya, sudah ditunggu sama yang lain" Pamit Abi.
Setelah Abi pergi, Umi mengajaknya untuk duduk di bangku yang ada dekat Taman. Umi sengaja mengajaknya dekat Taman karena Umi tahu kalau Sasa menyukai Taman.
"Kalau boleh tahu , ada apa ya Umi?"
"Umi hanya ingin ngobrol sama kamu." jawab Umi sedangkan Sasa hanya tersenyum.
"Kamu apa kabar nak?"
"Alhamdulillah Umi, Sasa baik. Lihat lah , tetap cantik kan?" canda Sasa membuat umi tersenyum.
__ADS_1
"Iya , kamu cantik sayang dan semakin cantik aja Umi lihat"
"Ah Umi, bisa aja" Sasa tergelak.
Mata Umi tiba-tiba berkaca-kaca membuat Sasa menjadi panik.
"Umi kenapa?"
"Umi rindu senyuman kamu Nak"
"Umi, sampai kapanpun Umi akan jadi Umi nya Sasa."
"Benarkah?"
"Nggak, Sasa bohong. Hahahhahaha bercanda Umi"
"Umi boleh peluk kamu?"
"Boleh Umi"
Sementara di tempat lain, ada Pria yang sedang mengamati mereka dari jauh. Pria yang belum bisa menampakkan dirinya. Pria yang belum memberanikan diri untuk berkenalan secara langsung.
Bukan karena dirinya pengecut tetapi ia masih merasa belum siap untuk menghalalkannya.
"Nak, apa yang kamu lakukan jika ada seseorang yang menyukaimu?"
"Maksud Umi?"
"Umi yakin, sekarang ada Lelaki yang mengharapkan mu dan menaruh namamu disetiap sholatnya, memintamu pada sang pencipta, dan kelak menjadikanmu istri dengan cara yang paling baik."
"Benarkah Umi? Sasa rasa itu tidak mungkin." sambil tertawa kecil.
"Percaya sama Umi, apalagi kamu sudah menganggap Umi itu ibu kamu."
"Memangnya, Umi tahu siapa orangnya?"
Umi mengangguk membuat Sasa terkejut.
"Serius Umi?"
"Ya Umi cuma nebak aja hahaha" Umi tertawa sementara Sasa berdengus kesal.
"Isss Umi sudah pandai bergurau ternyata" ledek Sasa .
"Kalau memang sudah ada lelaki yang seperti itu, Sasa gak minta apa-apa . Sasa cuma mau dia datang secara langsung kepada mama dan papa untuk meminta Sasa dengan cara yang paling baik dan yang di ridhoin sama Allah"
"Masyaallah.. Semoga secepatnya"
"Aamiin..."
πΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌπΈπΌ
__ADS_1
Pada penasaran ya siapa Pria misterius itu? Rileks dikit yuk sambil baca juga karya teman othor dijamin oke punya nihπππ