Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Cemburu


__ADS_3

"Tadi sih ana lihat mereka pada di kantin."


"Oh, oke. Makasih ya Ustadz."


"Sama-sama Bunda Shazfa, bareng saja yuk karena jalan kita juga searah."


"Assalamu'alaikum." Suara bariton itu membuat keduanya tersentak, apalagi Sasa saat ini mendadak merinding melihat wajah yang datang.


"Waalaikumussalam," jawab Sasa dan Ustadz Alif.


"Eh, Gus Sakhi ... Mau ketemu istrinya lagi ya?" tanya Ustadz Alif tanpa dosa, sementara Sasa mengernyitkan alisnya.


"Iya Ustadz Alif."


"Oh iya, coba saja tanya Bunda Shazfa siapa tahu dia kenal, Gus." Ustadz Alif menunjuk Sasa, "Bunda Shazfa kenal dengan Ning Humairah, tidak?"


"Hah?" Sasa semakin terkejut melihat keduanya yang seperti sedang berseteru berkedok ramah itu.


"Iya, Ning Humaira. Beliau istrinya Gus Sakhi, apa Bunda Shazfa kenal? Soalnya ana kan masih baru jadi belum begitu kenal dengan guru yang mengajar di sini."


"Saya...," ucapan Sasa terpotong.


"Tak perlu repot-repot Ustadz, karena ana sudah berjumpa dengan istri ana." Gus Sakhi memegang erat tangan Sasa yang semakin bingung melihatnya.


Ustadz Alif tersentak, pandangannya turun ke tangan yang saling genggam itu. "Mak ... maksudnya?"


"Kenalkan, ini istri ana." Jawab Gus Sakhi dengan lantang, sementara Ustadz Alif masih tidak percaya.


"Jangan bercanda, Gus!"


Sasa tersenyum, "Gus Sakhi tidak bercanda, Ustadz. Saya memang istrinya, nama saya Shazfa Aiysha Humaira."


Deg!


Ustadz Alif diam membisu, ucapan Sasa membuat hatinya sedikit tersayat. Orang yang selama ini ia harapkan ternyata sudah menjadi milik orang lain sekarang.

__ADS_1


"Oh i ... iya, sa ... saya baru ta ... tahu ... maaf ...," katanya menundukkan kepala menghadap lantai lekat ketika mengucapkan kekecewaannya.


"Iya, tidak apa-apa. Ya sudah Ustadz Alif, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum!" Sahut Gus Sakhi sambil tersenyum, sementara Ustadz Alif masih menatap kepergian sepasang suami istri itu dengan menjawab salamnya Gus Sakhi dalam hati.


Sakit tak berdarah, itu lah yang dirasakan Ustadz Alif sekarang, harapannya sudah pupus.


'Astaghfirullah' batinnya yang merasakan pedihnya harapan.


Sementara Gus Sakhi yang masih menggenggam erat tangan istrinya itu mendapat tatapan mengerikan dari Sasa, akhirnya Gus Sakhi pun melepaskan genggamannya.


"Kenapa matanya?" tanya Gus Sakhi.


"Malu tahu mas di lihatin banyak orang. Mas kan bakal jadi pengajar juga di sini."


"Di genggam suaminya marah, berduaan dengan lawan jenis biasa saja. Begitu?" Gerutu Gus Sakhi dengan menatap Sasa yang sudah berjalan deluan meninggalkannya.


Sasa menghentikan langkahnya lalu kembali lagi menghadap Gus Sakhi yang terlihat kecewa dengannya.


"Mas cemburu, ya?" Ledek Sasa sambil menyipitkan matanya.


"Beneran gak cemburu?"


"Iya, ngapain juga cemburu."


"Masa sih?"


"Kamu tidak percaya? Ya sudah, bagus lah." Rajuk Gus Sakhi.


Sasa tercengang saat melihat sang Suami berjalan mendahuluinya itu. Kenapa jadi dia yang marah? gumam Sasa.


🌻🌻🌻


Sasa sudah sampai di kantin dan matanya tertuju pada satu meja bundar yang berisi The guys beserta seorang laki-laki yang lebih muda dari mereka.


"Assalamu'alaikum," ucap Sasa.

__ADS_1


"Waalaikumussalam." Jawab mereka serempak.


"Wah nongol lagi loe Bim?" Kata Sasa sambil mengambil daftar menu makanan di atas meja.


"Alhamdulillah Mbak, aku sudah lulus UN. Kemarin juga aku sudah ujian SBMPTN walaupun hasil SNMPTN belum keluar sih tapi ya namanya juga usaha, gak apa-apa toh?" jelas Bima .


"Iya, bagus kalau begitu. Pantesan teman gue wajahnya berseri gitu." Ejek Sasa .


"Ih apaan sih lu!" elak Pipa.


"Kakak mana, Sa?" tanya Gus Sakha yang baru saja datang.


"Gak tahu." Singkat Sasa sambil mengambil minuman yang ia pesan tadi.


"Wih, begadoh Kelen? jangan kek gitu lah, baru aja nikah masa' begadoh!" celetuk Sapi.


"Beneran Sa?"


Sasa mengangguk, "Mas Sakhi cemburu sama Ustadz Alif, dia yang cemburu eh dia juga yang marah. Kesal gue jadinya."


"Sudah dibilangin gak boleh kesal sama suami sendiri!" Tegas seseorang yang berada di belakang Sasa, bukan hanya Sasa yang kaget tetapi semua yang berada di sana pun terkejut dengan kedatangannya.


"Mas?" pekik Sasa.


Gus Sakhi tidak menjawab, dia hanya duduk di sebelah Sasa dan meminum air yang di pesan Sasa tadi.


"Asal minum aja, gak nanya dulu itu punya siapa." Gerutu Sasa membuat semuanya tertawa sementara Gus Sakhi hanya tersenyum tipis.


"Hati-hati kak kalau istri ngambek, malam gak dapat jatah ntar." Celetuk Gus Sakha membuat semuanya semakin tertawa, beda halnya dengan Gus Sakhi dan Sasa yang menunduk karena malunya.


"Baba!" Tegur Patul.


"Maaf Ummi, nanti dapat jatah kan?" bujuk Gus Sakha.


"Enak aja. Kagak!" tegas Patul.

__ADS_1


Gus Sakha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "yaaah kok tega sih, Ummi?"


__ADS_2