
Satu Minggu Kemudian
"Hiks ... hiks ...." Suara tangisan Sasa mengganggu tidur Gus Sakhi yang berada di sampingnya.
Gus Sakhi menggeliatkan badannya, kemudian ia membuka matanya. "Sayang, kenapa?"
"Mas, hiks ..."
Grep!
Gus Sakhi membawa Sasa ke pelukannya, di belai nya rambut Sasa yang panjang dan berkilau itu.
"Katakan sama mas, ada apa?" Tanya lelaki itu begitu khawatir.
"Mas, Sasa rindu sama Umi." kata Sasa pelan.
"Umi?" Gus Sakhi memastikan lagi.
"Iya, bukan hanya Umi tapi Bunda juga, Hiks ..."
Gus Sakhi tersenyum mendengar penyebab istrinya menangis. Gus Sakhi baru menyadari jika mereka belum pernah pulang ke sana setelah menikah.
"Ya sudah, besok setelah mas mengajar pagi di kampus, kita pulang ke rumah Abi, ya?."
"Besok, Mas?"
"Iya, mas besok cuma masuk pagi jam tujuh sampai jam sembilan. Kamu ikut saja ke kampus, ya?"
"Tapi, Mas ..."
"Kamu khawatir dengan Abah? tenang, Abah dan Ummah pasti ngerti. apalagi kita memang belum beritahu orang tua kita tentang kehamilan kamu, kan?"
"Makasih banyak, Mas."
Akhirnya mereka memilih tidur kembali setelah sholat malam berjamaah.
.
__ADS_1
.
.
.
Pagi ini, Sasa berpamitan dengan Abah dan Ummah. Bersamaan dengan itu, ada Patul yang juga ingin ikut dengan Sasa.
"Abi, Umi mau ikut Sasa atuh." Rengek Patul.
"Boleh Umi, tapi bagaimana dengan si kembar? kamu gak mungkin tinggalin mereka bersama nenek dan kakeknya, kan?" Sahut Gus Sakhi.
"Abi juga harus ikut atuh."
"Kasihan Abah, nanti siapa yang keliling pesantren kalau bukan Abi? Abah pasti kelelahan melakukannya sendirian."
"Ih, Abi mah ..." Patul keluar dari kamar dan berkumpul kembali dengan Sasa.
"Loe kenapa?" tanya Sasa melihat sahabatnya sedikit murung, padahal Patul sudah susah payah menutupinya.
"Nggak pa-pa. Kalian jam berapa berangkatnya?"
"Hati-hati ya, sudah sampai nanti kabarin aku. Titip salam buat Umi." lirih Patul.
Kini Sasa mengerti kalau sahabat sekaligus adik iparnya itu juga ingin pergi bersama mereka.
"Gue tahu perasaan loe, sebelum puasa nanti kita bareng deh ke rumah Umi, gimana?"
"Bener ya?"
"Iya Patul kecucuk jarum pentul!" kata Sasa membuat keduanya tertawa. Hanya mereka berdua yang paham dimana lucunya, sedangkan yang lain menaikkan bahunya tanda tidak mengerti.
.
.
.
__ADS_1
Sasa pun ikut ke Kampus bersama Gus Sakhi. Semua mata tertuju padanya. Tak sedikit yang mengenalinya karena Sasa termasuk anak yang banyak di kagumi di kampusnya. Senior-senior yang masih sering ke kampus pun juga ikut terkejut melihat kedatangan Sasa, begitu juga beberapa junior yang sempat kenal dengan Sasa.
"Itu Shazfa bukan sih?"
"Iya itu Shazfa, tapi kok sama Pak Sakhi?"
"Ah bukan, itu bukan Shazfa, lihat saja penampilannya."
Begitulah desas-desus di kampusnya, apalagi terlihat jelas Gus Sakhi semakin menggenggam erat tangan Sasa sebagai pertanda jika Sasa adalah miliknya.
"Mas, Sasa gak pede!" Ucap Sasa setengah berbisik.
"Kenapa gak Pede? kamu istri Mas." Sahut Gus Sakhi membuat Sasa mengangguk pasrah.
Sementara di sana juga ada yang mengagumi Gus Sakhi, tak sedikit juga yang patah hati.
"Serius Pak Sakhi sudah menikah? Huaaaa! patah hati dong gue!"
"Iya, malah bini nya cantik lagi."
"Sembarangan loe, cantikan gue kemana-mana lagi."
"Memang nya kemana? ke laut sana loe!"
Sasa menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan genggaman sang suami membuat yang lain berdecak kesal melihatnya.
Tiba lah Sasa di ruangan Gus Sakhi. Saat ini, Gus Sakhi menjabat sebagai Dekan. Untuk itu lah dirinya juga memiliki ruangan khusus selain ruangan dosen.
"Kamu tunggu di sini dulu ya?" ucap lembut Gus Sakhi.
"Iya Mas, jangan lama-lama ya." Sahut Sasa sambil merenggangkan kakinya di sofa.
Gus Sakhi terkekeh geli melihat tingkah istrinya, "Kakinya Sayang..." tegur Gus Sakhi membuat Sasa menatapnya heran.
"Kaki kamu turunin dong, gak enak dilihatin yang lain kalau sampai ada yang melihatnya."
"Gak akan Mas, kan nanti pintunya Sasa kunci." Sahut Sasa menghela napasnya panjang.
__ADS_1
"Ya sudah, mas pergi dulu. assalamu'alaikum!"