
"Syahla'! tunggu ..." teriak Azmi mengejar Zahra.
Wanita itu menghentikan langkahnya dan menunggu Azmi sampai ia tepat berada di depannya. "Assalamu'alaikum!" kata Syahla menyindir lelaki yang berada di depannya.
"Waalaikumussalam, maaf lupa." Spontan kata-kata Azmi membuat Syahla tersenyum di balik cadarnya.
"Ada apa?"
"Mau kemana? bareng yuk!"
"Maaf, kita tidak muhrim."
"Ck! kenapa sih alasannya selalu begitu? kita 'kan nggak ngapa-ngapain, lagian aku juga ngajaknya di tempat umum."
"Apapun alasan antum, tetap saja jalan berduaan dengan lawan jenis itu tidak diperbolehkan."
"Kalau aku muhrimkan, mau?"
"Hah?"
"Aku serius, Syahla. Apa perlu aku menikahi kamu agar aku bisa leluasa berbicara dengan kamu?"
"Ana permisi, Assalamu'alaikum."
"Syahla'!" teriaknya, kemudian wanita itu pergi begitu saja. Azmi menarik napasnya dengan dalam, "Waalaikumussalam." Lirihnya.
"Ciyee, Mak Jomblang di tolak nih?" ledek seseorang yang baru saja datang.
Azmi menoleh, "ih apaan sih, Kak Zahra. Azmi sumpahin berjodoh dengan Bang Mevlan baru tahu rasa."
"Dih, nyesal banget aku kesini." Zahra cemberut padahal dalam hatinya mengaminkan ucapan Azmi.
"Mau ngapain sih?" protes Azmi.
__ADS_1
"Mau ngabarin kalau kamu harus pulang cepat karena Ummi dan Abi hari ini balik."
"Serius?"
"Kenapa harus bohong?"
"Kira-kira Ummi sampaikan do'a aku di Jabal Rahmah nggak ya?"
"Emang kamu doain apa?"
"Supaya aku dapat jodoh yang Sholehah."
"Dih, lebih bagus doain anaknya sendiri, tahu nggak! Noh Kakak ane yang kembar belum juga menikah, heran aku!"
"Itu sih Kakak kamu aja yang lebay!"
"Eh itu Kakak kamu juga ya, dasar adik durhakim! Eh ngomong-ngomong, Azma mana? kok nggak Ngampus?"
"Maksud kamu?"
"Dia mau di jodohkan sama Pak Dayyan."
'Hah?
"Seriusan?" Zahra tercengang mendengarnya.
"Kaget, 'kan? sama! kami juga. Kasihan Azma, kata Daddy kalau IP semester nanti nggak di atas 3,8 dia bakalan di nikahkan sama Pak Dayyan."
Pucuk di cinta ulam pun tiba, yang diceritakan pun datang melewati mereka yang sedang begosip ria. "Assalamu'alaikum, Pak." Salam mereka.
"Waalaikumussalam." Sahutnya, ia pun juga melihat tidak ada Azma di sana. Ingin rasanya Dayyan bertanya langsung pada mereka.
Tetapi dengan buru-buru Azmi menarik tangan Zahra membuat Pak Dayyan tercengang, ia mengira jika kedua manusia ini adalah sepasang kekasih. Ia juga tidak kenal dengan Azmi, ia hanya kenal dengan Zahra karena wanita itu sering bersama Azma.
__ADS_1
***
Sementara di rumah, semua sedang mempersiapkan penyambutan kedatangan Patul dan Gus Sakha. Para santri tidak mengetahui itu karena yang mempersiapkan adalah Sasa, Sapi dan anak-anak mereka saja.
"Azma, sini kau dulu!" panggil Sapi.
Dengan malasnya Azma mendekati Sapi, "Iya, Bubu."
"Kau kenapa? ku tengok kau lesu kali dari tadi."
"Nggak pa-pa, Bu. Azma cuma nggak enak badan."
"Mau bohong pula kau sama Bubu. Asal kau tahu ya, duluan lagi Bubu lahir dari pada kau."
"Azma heran deh, Bu."
Sapi mengira jika Azma akan bercerita, makanya dirinya sangat antusias mendengarnya. "Ha! apa itu apa?"
"Iya, Azma heran dengan Baba Ali, kok mau ya sama Bubu? gaya Bubu kaya preman begini!" setelah mengatakan itu Azma pergi dari sana untuk menghindari jeritan maut Sapi.
***
Hawa. Apa kabar dengan gadis cantiknya Patul dan Gus Sakha?
Wanita berprofesi dokter ini lebih suka menghabiskan waktunya di rumah sakit. Sering kali Zaydan membawakan makanan untuknya. Hm, ya! masih ingat dengan Zaydan? lelaki itu adalah sahabatnya Fakhi. Ternyata wanita yang disukainya adalah Hawa.
Selama dua tahun ini Zaydan susah sekali mendapatkan hati Hawa padahal dirinya sudah menjadi sahabat Hawa sampai sekarang.
'Mas Zaydan, aku nggak tahu apa aku bisa jatuh cinta dengan lelaki atau tidak.' Begitulah ucapan Hawa yang membuat Zaydan tidak berani melangkah jauh sampai sekarang.
'Tin! 'Tin!
"Sendirian saja, Neng?" ucap seseorang di balik mobilnya.
__ADS_1