
"Apasih Sapiiiiiii"
"Jangan teriak-teriak kau, gak tungkikan aku"
(tungkikan\= gangguan dalam telinga)
"dek teman kalian lucu ya" celetuk Ustadz Sakha melihat sapi membuat kami semua tertawa.
"kalian teh jangan gitu, teman kalian ini lagi berbunga atuh, sama siapa itu namanya kha? Ustadz itu?" kata Ustadz Fathan yang berusaha mengingat sesuatu
"eh iya benar, tadi gue lihat dia lagi cekikikan sama ustadz yang tadi siang, siapa itu bang namanya?" kataku sambil melirik Ustadz Sakha yang sedang mikir.
"ha, iya, ana ingat, Ustadz Ghibran. Masya Allah, jadi itu bukan sekadar ghibah ya?"
Lalu terlihat Sapi yang sedang salah tingkah, ckckck .
"eh eh kok jadi aku yang kenak? ini lagi dua Ustadz, kompak bener nyagilnya. kau juga micin jangan ngomporin lah"
Lalu kami semua tertawa melihatnya, sungguh wajah merahnya Sapi sangatlah lucu.
"bentar -bentar... kalau misalnya sapi dengan Ustadz itu, bang satria mau dikemanakan?"
"ke laut biar dimakan paus, puas Kelen ?"
"wah, sebelum janur kuning melengkung ya Pi ahhaha"
kali ini yang ngomong adalah Patul
"Patul!!! ku cucuk jarum pentul kau nanti ya"
"ampun ampun hahahahah"
***
Pagi ini, kami sedang asik di taman sambil mengerjakan skripsi kami, sedangkan Ustadz Fathan dan Ustadz Sakha sedang pergi entah kemana .
Kami melihat Sapi begitu gelisah saat ini, ada apa? ya itulah yang ada di pikiran kami.
"loe kenapa pi?"
"kenapa emangnya?"
ccctttakkkk
"aw! sakit somplak!" pekik Sapi
"kebiasaan lu bocah, ditanya malah nanya balik, ngeselin " celetuk Pipa.
"oke oke, aku jelasin tapi ga ada siaran ulang. oke?"
kami mengangguk.
"tunggu! Patul kau hentikan dulu ngetik itu, jangan sampai kau ga dengar apa yang ku bilang"
"hmm iya tuan putri, kamu teh banyak mau nya ya haha"
"sudah, sekarang bisa kita serius?" kata Sapi lalu kami mengangguk. "aku sebenarnya sudah putus sama Satria" . sambil menunduk.
"APA?" Teriak kami, untung saja tak ada orang disini.
"besar juga suara Kelen kalau dijadikan satu ya, sakit kupingku"
"husttt itu gak penting, eh serius loe putus? kenapa?"
"Dia selingkuh sama sahabat aku, kami dulu sahabat bertiga, dan ternyata kami terlibat cinta segitiga. lucu ya"
"terus?"
__ADS_1
"ya udah putus "
"gak, maksud gua, lu tahu darimana mereka pacaran?"
Sapi menghela napas panjang "aku tahu dari kawanku yang lain, awalnya aku gak percaya sampai akhirnya dia ngirim video kalau satria manggil sayang sama tu cewek, benar-benar bang S*t, pas kali yang kau bilang itu micin"
Aku kaget "eh kok gue?"
"iya kau kan pernah bilang dia kayak gitu, lupa kau? ya wajarlah otak mu Ustadz Sakha terus"
"hussttt jangan keras-keras " tegurku .
"Terus sama Ustadz Ghibran gimana?"
"A---aku..... aku dilamarnya tadi"
"WHATTTTT? SERIUS?"
"iya, nanti pas libur panjang dia mau ke Medan jumpai mamak bapakku katanya, ya sudah kita tunggu aja betul enggaknya"
"masyaallah " sahut Patul dengan mata berkaca-kaca.
"loe kenapa Tul?"
"terharu"
"yeee kirain kenapa"
"selamat ya Pi akhirnya loe dapatin yang waras juga"
"iya benar, setidaknya nanti dia bisa bimbing lu biar lurus "
"emang gue selama ini gimana?"
"ya gitu lah " lalu kami cekikikan bersama.
"The guys kita pulang kapan sih?" tanyaku sambil mengetik.
ekhemm
Deheman itu mengagetkan kami, entah sejak kapan dua makhluk itu berada didepan
"assalamu'alaikum" kata keduanya
"waalaikumussalam" jawab kami.
"Dek kamu kenapa bertanya seperti itu? memangnya ga betah di sini?"
Deggg!
"ya bukan gitu juga bang, kami kan mau nunjukin skripsi kami ke doping"
"neng Fifa, psttttt" celetuk ustadz Fathan
"heuh si aa' mah kumahaaa, belum halal euy belum ada label nya" kata Patul sambil menjewer telinga Ustadz Fathan
"aduh aduh, astaghfirullah! neng, sakit! ih malu pisan ah dilihatin banyak orang ini mah, tu nah lihat"
"biarin"
"neng Fifa, sini atuh lihatin Abang Fathan"
"Belom muhrim bang, sorry" kata pipa tiba-tiba
"tunggu ya pinangan Abang" kata ustadz Fathan membuat kami tertawa.
Kedua sahabatku sudah menemukan cintanya, setidaknya mereka tahu siapa yang kelak akan menjadi imamnya , sedangkan aku?.
__ADS_1
Aku tahu , Ustadz Sakha juga mencintaiku tapi apa restu akan berpihak pada kami? Setelah mendengar ucapan umi kemarin aku menjadi was-was dengan hatiku. Ingin berhenti tapi sudah terlanjur mencintai, tapi ingin lanjut takut masuk jurang.
Aku melirik Patul, kenapa dia santai aja selama ini? apa dia tidak pernah merasakan jatuh cinta?. Hal itu selalu terngiang di kepalaku.
"ada apa sha?" tanya Patul membuat semuanya berhenti ketawa.
"loe pernah jatuh cinta gak sih Tul?"
Pertanyaan itu membuat Patul dan ustadz Fathan menggaruk kepalanya, apa salahku?.
"ke---kenapa nanya seperti itu?"
"penasaran aja, bolehkan gue tahu?"
Patul mengangguk "aku mah gak berani buat jatuh cinta sama seseorang sha, aku takut---"
"takut dosa?"
Patul menggeleng "aku takut sakit hati, karena aku hmmm itu" tampak Patul gak bisa melanjutkan omongannya namun tiba-tiba
"dia sudah dijodohkan dengan seseorang sejak ia lahir" kata ustadz Fathan tiba-tiba.
"serius?" tanya kami barengan, Patul mengangguk.
"siapa Tul? kami kenal gak?"
Patul menggeleng "Sampai saat ini Patul gak tahu siapa orangnya, semoga saja orang baik" sambil tertawa hambar.
Lalu mata kami melirik Ustadz Fathan, melihat itu ustadz Fathan langsung mengangkat kedua tangan sambil melambaikannya "eitsss Afwan, ana juga ga tahu"
"terus kalau Abang sendiri gimana?"
"ana bebas neng, tenang aja neng Fifa mah"
"kok ga adil ya" gumamku pelan
"aku dengar loh, katanya sih dulu ada kisahnya tapi aku sama aa' ga dikasih tahu alasannya apa. yaudah atuh , yang penting ridho Allah ridhonya orang tua prinsip aku mah"
"loe hebat Tul"
"benar, gua kalau jadi lu udah kabur dari rumah"
"apalagi aku, mungkin gak balek-balek Medan aku"
Terlihat Ustadz Sakha diam saja dari tadi, apa dia tahu sesuatu?.
"Gus Sakha kenapa diam aja?" celetukku
"ah emh iya? apa? gimana?"
Aku menggeleng "lupain"
"eh iya bang Sakha kan anak Kyai ya, terus aku kepo lah bang kalau nasib Abang gimana? di jodohin gak?" tanya sapi tiba-tiba.
deg!
Suasana menjadi hening seketika, terlihat Ustadz Sakha menjadi salah tingkah, Patul masih dalam diamnya sedangkan Ustadz Fathan juga diam. ada apa ini?.
"loe jangan buat suasana jadi kaya di kuburan dong" ucapku
"ya maap, akukan kepo"
"tapi boleh juga tuh di jawab bang, biar teman gua tahu batasan, iya gak micin?"
"eh kok gue?"
"alah alah, jawab dong bang"
__ADS_1
"emh, sebenarnya.... ana......"