Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Gus Fathan Kenapa?


__ADS_3

"Ayo nak, silahkan dijawab" sahut Ayah


"Bismillahirrahmanirrahim, Saya menerima lamaran dari Gus Fathan"


"Alhamdulillah"


Semua tampak bahagia, namun ada yang beda dari Gus Fathan, ia sering sekali memandang calon istrinya itu .


Gus Sakha menghampiri sahabatnya "jangan dilihatin terus, belum halal"


"Astaghfirullah, kaget ana! Harus aku lihat, entah kenapa aku ngerasa ini semua akan berlalu"


"Maksud ente?"


"Entahlah, semoga hanya perasaan ana saja. jika benar itu terjadi, tolong sampaikan padanya kalau ana sangat menyayanginya"


"Husst! ngawur ente. dah yuk, balik.."


Entah hanya perasaan Gus Fathan saja atau tidak tapi yang pasti keduanya sama-sama merasakan hal buruk yang akan terjadi.


Sementara di lain tempat,


Patul menghampiri Pipa yang sedang termenung di dapur umum.


"Ekhm, calon kakak ipar" goda Patul


"Astaghfirullah, Patul!!"


"Hehe Afwan, kamu sih melamun terus, harusnya bahagia atuh, sebentar lagi jadi kakak ipar aku"


"Iya gua bahagia tapi entah kenapa dari semalam perasaanku gak enak aja"


"Maksud kamu?"


"Ah lupakan saja, ada apa kesini?"


"Ih ketus pisan euy, kami teh mau pulang, hayuk atuh ke depan"


"Oh iya, ya sudah yuk"


***


Satu Minggu kemudian,


Gus Fathan pamit untuk mengambil Ijazahnya di Kairo,


Berat sebenarnya untuk pergi kesana tapi apa yang bisa dilakukannya?


Pipa dan yang lainnya sudah di bandara, mereka menunggu kedatangan Gus Fathan dan juga Patul yang mengantarnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian...


"Assalamu'alaikum "


"Waalaikumussalam "


"Kok lama kali Kelen?" celetuk Sapi-


"Hussttt , Sapi!" tegur Sasa


"Maaf atuh, tadi macet parah " sahut Patul


Sementara Patul dan yang lainnya sedang mengobrol, ada dua pasang mata yang saling menatap satu sama lain.


km mmmmmhmmmm.


"Hmm Fifa, apa bisa kita ngobrol sebentar?" ucap Gus Fathan


Pipa melirik semua orang disana untuk meminta jawaban lalu semuanya mengangguk .


Mereka berjalan ke arah berlawanan, Jarak yang cukup jauh antara mereka dengan para sahabatnya.


"Kenapa harus jauh banget A " tanya Pipa heran.


"Sini, duduk dulu! masih ada 10 menit untuk ngobrol" titah Gus Fathan sambil menyodorkan 1 botol minuman.


"Kita gak tahu Neng gimana takdir kita nanti, Dengan mengenal neng saja aa sudah merasa sangat bersyukur, neng itu anugrah buat aa. Siapapun kelak yang menjadi suami neng, pasti dia orang yang beruntung" sambung Gus Fathan dengan menarik nafasnya dalam.


"Aa' ngomong apasih? aa' mau ninggalin neng?" dengan mata berkaca-kaca


"Bukan begitu neng, aa sayang sama neng, jaga diri neng baik-baik ya..." ucap Gus Fathan sambil tersenyum


"Janji ya A begitu sampai nanti langsung kabarin Neng "


"Iya neng, aa janji. Insya Allah "


"Janji juga, untuk baik-baik saja"


deggg


Gus Fathan tak bisa menjawab membuat Pipa mengeluarkan air matanya.


"Hiks, apa gak bisa perginya di tunda saja? setidaknya sampai kita menikah, agar neng bisa nemenin aa!"


"Maafin aa neng, jangan nangis begitu. Kalau neng nangis, Aa pergi nya gak tenang. Neng mau kalau aa kepikiran?"


Pipa menggelengkan kepalanya


"Makanya, neng jangan nangis ya? janji untuk selalu tersenyum. Coba tunjukkan mana senyumnya?"

__ADS_1


Akhirnya dengan terpaksa Pipa tersenyum


"Ya sudah kita balik lagi yuk"


***


Tiga hari sudah setelah kepergian Gus Fathan membuat Pipa menjadi uring-uringan. Bagaimana tidak? calon suaminya itu tidak memberikan kabar apa dia selamat atau tidak.


Hari ini Pipa , Sapi dan Sasa menginap di rumah Patul agar lebih cepat saat mengetahui perkembangan kabar dari Gus Fathan.


Pipa duduk di taman, ia menangis sejadi-jadinya.


"A... kenapa aa' ingkar janji? apa maksud ucapan AA kemarin hikssss"


Sementara ketiga sahabatnya mencarinya sejak tadi dan yang berhasil menemukan Pipa adalah Patul


"Pipa hikssss....." lirih Patul yang tak tega melihat sahabatnya itu


Pipa menoleh dan langsung jatuh di pelukan Patul "Abang lu jahat Tul hiksss , dia ingkar janji sama gua, dia jahat Tul hiksss"


Patul mengusap punggung Pipa yang berada di pelukannya "Percaya sama aku, aa baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan memberikan kabar untuk kita"


"Lu bohong kan? lu hanya ingin buat hati gua senang aja, iyakan?"


"Hikss jangan begini Pa, ku mohon... Kita semua hancur, tapi kita juga belum tau pasti perkembangan nya, masih ada harapan untuk kita hikss"


Tak lama kemudian seorang santri berlari ke arah mereka


"Ning Lila......" teriak nya membuat Patul dan Pipa merenggangkan pelukannya.


"Kunaon?" tanya Patul


Santri itu ngos-ngosan karena tadi ia berlari "hosh hosh...... itu Ning... di panggil sama Pak Kiyai, katanya Gus Fathan sudah ada kabar "


Tanpa mengucap salam dan Terima kasih, Patul dan Pipa langsung pulang. Mereka berlari sampai banyak santri yang melihatnya menjadi bingung.


"Assalamu'alaikum" ucap keduanya saat di depan pintu


"Waalaikumussalam" sahut semuanya.


"Dari mana aja nak? sini, ini Fathan mau ngomong"


deg!!!


"Ayo, Fifa, sini nak." pinta Ummah


"I----iya Ummah" lalu ia mengambil ponsel nya , "Assalamu'alaikum A "


"Waalaikumussalam"

__ADS_1


__ADS_2