
Pipa gak banyak cerita lagi dan ia memilih untuk tetap pulang terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, Pipa pergi ke rumah Abah Kyai. Ia heran kenapa semua orang berkumpul disana sekarang.
"Itu Pipa..." celetuk Patul membuat Pipa berdengus kesal.
Dengan langkah pelan Pipa semakin dekat kesana, dan...
"Assalamu'alaikum" ucap Pipa
"Waalaikumussalam " sahut semua.
Mata Pipa langsung menyapu ke seluruh ruangan, tiba-tiba pandangan itu bertemu...
"Kamu?"
Awalnya Pipa senang melihatnya, namun senangnya pudar saat melihat sosok wanita asing duduk disebelah Gus Fathan bersama seorang bayi berumur 6 bulan yang sedang dipangku oleh wanita itu.
'Siapa mereka?' gumam Pipa.
ekhmm
Deheman Abah membuyarkan lamunanku dan aku baru sadar jika aku masih berdiri di ambang pintu ketika Abah Kyai menyuruhku masuk dan duduk di sebelah Sasa.
"Ada apa sih?" bisik Pipa
"Nanti juga loe tahu, kuatkan hati loe" sahut Sasa sambil menepuk punggung Pipa .
Deg!
Pipa mulai panik dan hatinya sedikit meringis ketika wanita itu berada di sebelah Gus Fathan.
"Baiklah, karena sudah pada ngumpul, Abah ingin menyampaikan hal yang penting. Jujur, Abah juga baru tahu tadi tentang kebenaran ini. Syok? pasti! keputusan yang diambilnya sangat beresiko apalagi harus menyakiti salah satu pihak." Abah menjeda kalimatnya.
"Fathan, jujur. Abah kecewa sama kamu. Abah mendidik kamu sejak kecil namun Abah tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini. Abah juga tidak menyalahkan keputusan kamu, tapi Abah juga tidak membenarkannya. Walaupun dengan alasan yang jelas tapi setidaknya sebelum kamu memulainya, harus ada pihak yang mengetahui karena apa? karena kamu sudah terikat, nak!"
"Tapi sebelum Abah mempersilahkan kamu untuk berbicara, Abah mau bertanya pada anak gadis Abah"
Abah melihat Pipa "Hafeyfa Silaen?"
"I----iya bah"
__ADS_1
"Apa kamu siap mendengarkannya?"
Pipa mengerutkan alisnya , sedetik kemudian ia mengangguk.
"Apapun keputusan kamu nanti, itu hak kamu. Tapi satu hal yang Abah ingin sampaikan, tolong jangan membenci Abah, jangan membenci Lila dan keluarga ini."
"Maaf Abah, tapi ini ada apa ya?"
"Kalau itu, biar yang bersangkutan nanti yang menjelaskan"
Penuturan Abah membuat Pipa menatap tajam Gus Fathan, sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya.
"Nak, apapun yang disampaikannya nanti Abah harap kamu memikirkannya dengan kepala dingin dan cerna setiap kalimatnya. Fahim?"
"Fahim bah"
"Silahkan, Fathan"
"Takdir Allah memang sulit ditebak, jujur aa' kesana memang niatnya untuk mengambil ijazah. Tapi saat aa' ingin pulang, tiba-tiba sahabat aa yang satu kamar dengan Aa dulu, ia pingsan. Aa' panik dan membawanya ke Rumah Sakit. Aa' gak tega ninggalin dia, apalagi setelah mengetahui penyakitnya apa dan ditambah lagi ia juga mempunyai istri dan anak yang masih bayi. Kalian bisa lihat orang yang disebelah aa ini, dia lah orangnya."
"Maksudnya apa sih?" Pipa mulai kepancing
"Neng, maafkan aa'. Tapi dengarkan dulu penjelasannya."
"Hampir dua Minggu yang lalu, Beliau sempat sadar dan terlihat sangat baik. Tapi ternyata itu lah hari terakhirnya di dunia..."
Semuanya memotong "Innalilahi wa innailaihi rajiun"
"Sebelum meninggal, ia sempat menitipkan istri dan anaknya pada aa' . Awalnya aa mengangguk dan berniat membawa ke Indonesia untuk menjadi guru di pesantren Abah. Tapi saat itu beliau harus di operasi dan dia tidak mau dioperasi kalau----" ucap Gus Fathan terpotong.
"Kalau aa tidak menikah dengannya. iyakan?" suara bariton itu mengagetkan semuanya.
Gus Fathan mengangguk lemah "Maafkan aa' neng, aa gak punya pilihan lain. Ampunkan aa!"
"Ap--a? jad--i be---benar di--a is---tri Aa?"
Gus Fathan mengangguk kembali.
"Hiksss... Setelah menikah kenapa tidak menghubungi neng a'? kenapa? Setidaknya diberitahu agar neng gak salah faham."
"Maaf neng, aa gak berani hubungin neng bahkan Abah juga tidak mengetahuinya. Aa' takut neng membenci AA, tapi akhirnya aa sadar kalau neng juga berhak tahu."
__ADS_1
"Hahahahha lucu sekali anda, udah ah bercandanya!" kata Pipa sambil tertawa padahal air matanya terus mengalir .
"Neng maafin Aa tapi aa juga sudah bicara dengan indah. Dia juga sudah mengizinkan jika aa mau menikah lagi , dia bersedia di madu neng."
Semua tampak kaget, terlebih lagi Pipa, ingin sekali rasanya dia mencekik lelaki yan berada di depannya ini.
"Iya mbak, saya Ikhlas" sambung wanita itu yang bernama Indah.
"Bagaimana keputusan kamu neng?" tanya Abah.
Pipa tersenyum membuat Gus Fathan sedikit lega dan membayangkan jika Pipa memaafkannya."
"Bismillah, saya memaafkan anda Gus Fathan..." Ucapnya lembut namun menekankan kalimatnya.
Gus Fathan tersenyum namun senyumannya pudar saat Pipa meneruskan kalimatnya lagi.
"Tapi, ada tapinya ini..." kali ini wajah Pipa berganti jadi serius.
"Saya membatalkan pernikahan kita. Mohon maaf, saya tidak mau jadi madu karena saya tahu pasti rasanya di madu itu sakit. Saya memilih menjadi racun untuk diri saya sendiri. Untuk kalian berdua, Berbahagialah!" kata Pipa sambil meletakkan cincin yang berada di jari manisnya itu.
"Maafkan Fifa, abah. Fifa gak bisa meneruskan ikatan ini. Fifa mohon, jangan membenci Fifa." kata Fifa yang bersimpuh dihadapan Abah.
"Kamu tidak salah nak, keputusan kamu tepat. Abah bangga sama kamu"
"Fifa sudah terlanjur menyayangi Abah dan yang lainnya" kata Fifa sambil tersenyum.
"Nak..." lirih Ummah.
Fifa langsung memeluk wanita itu dan berusaha untuk tidak menangis.
"Maafkan Ummah, hiksss"
"Ummah gak salah, Pipa sayang sama ummah."
Setelah itu Pipa pamit pergi, ia ingin menenangkan hatinya.
"Pipa keluar dulu, assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
"Pipa, tunggu!!!" teriak the guys membuat langkah Pipa berhenti sebentar, lalu...
__ADS_1
"Please, aku hanya butuh waktu, biarkan gua sendirian guys..."