Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kembali Masuk


__ADS_3

Pukul 10.00 pagi, Sasa bangun lebih dulu dibandingkan Gus Sakhi. Sasa kembali dikagetkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya, akan tetapi kali ini dia sudah tidak berteriak lagi apalagi sampai membuat suaminya terjatuh seperti tadi malam.


Sasa memilih untuk membalikkan badannya dan menatap sang suami. Memori nya berputar saat dulu ia bertemu dengan Gus Sakhi, ternyata memang benar pertemuan mereka berawal dari ketidak sengajaan.


"Kalau lagi tidur begini kenapa ganteng banget ya? tapi saat di kampus kayanya seram, malah pakai masker segala lagi." Umpat Sasa sambil mengelus pipi Gus Sakhi.


"Kamu ngatain suami kamu Seram?"


Deg!


"Mas sudah bangun?"


Gus Sakhi mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Sejak kamu lihat Mas"


Blushhhh


Pipi Sasa langsung merona, bisa-bisanya dia tidak sadar jika suaminya sudah bangun dari tadi. Sasa menggerakkan badannya, akan tetapi bukannya menjauh malah semakin merapat karena tangan kekar itu semakin erat memeluknya.


"Kamu mau kemana? hm?" Sambil menyatukan hidung mereka.


"Mau mandi, Mas."


"Hm? bareng yuk!"


Sasa langsung menggelengkan kepalanya.


"Sasa sendiri saja ya?"


"Ya sudah, tapi cium dulu dong...," Sasa hanya diam mendengarnya.


"Kok diam saja?" heran Gus Sakhi.


"Kan Mas mau cium." Jawab Sasa ambigu.


"Kamu yang cium mas, Humaira. Di sini nih tempatnya," sambil menunjuk pipinya.

__ADS_1


Blush!


Sesuai namanya menjadi Humaira yang berarti kemerah-merahan. Pipi Sasa pun berubah menjadi merah merona. Ini kali pertamanya ia mencium pipi laki-laki selain Papa dan Kakak nya sewaktu kecil.


Perlahan tapi pasti, Sasa mencium pipi suaminya.


Cup


"Udah, ah." Sasa menutup wajahnya karena malu.


"Iya deh...," sambil di elusnya rambut yang berkilau itu.


🌻🌻🌻


Beberapa hari kemudian Sasa pun kembali ke Pesantren, akan tetapi kali ini ia hanya mengajar saja karena Gus Sakhi meminta nya untuk pindah ke rumah yang sudah dibelinya di depan pesantren ini.


"Mas, Sasa masuk ya!" sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, nanti pulangnya Mas jemput ya?"


"Ya Allah, rumah di depan ini juga, tepleset dikit langsung sampai kok , Mas." Sambil cekikikan.


"Nanti Mas mau ketemu Abah dulu, bareng ya?"


"Waalaikumussalam."


Sasa masuk ke gerbang Pesantren dan ternyata sudah ada The Guys yang menunggunya.


"Wih, pengantin baru sudah masuk aja nih." Goda Pipa membuat Sasa membulatkan matanya.


"Iri bilang, Bos." Sasa menjulurkan lidahnya.


"Sa, katanya kau sudah gak tinggal di sini lagi ya?"


"Iya, kan gue sudah punya suami, gimana sih."


"Jauh dong, kita."


"Masih dekat kok," sambil tersenyum.

__ADS_1


"Maksud kau apa?"


"Gue tinggal di depan Pesantren ini."


"Hah? kamu teh serius?"


"Loe gak tahu Tul?"


Patul menggeleng, karena Gus Sakha memang tidak memberitahukannya.


"Gue kira loe di kasih tahu sama Gus Sakha. Jadi Guys Mbah yang di depan itu mau ikut anak pertamanya di luar kota, sayang rumahnya gak di huni jadi ya di jualnya dan ternyata Gus Sakhi yang ambil." Jelas Sasa membuat yang lain mengangguk patuh.


"Terus kok bisa sih Gus Sakhi beli? maksud aku tuh ya kalian tahu sendiri Mbah itu selain pelit juga pikun. Jadi ya susah aja rasaku memenangkan hatinya."


"Buktinya nih Suami gue bisa, dengan harga murah lagi katanya. Keren kan?"


"Serius lu? rumahnya kan gede?" tanya Pipa pemasaran.


"Banyak tanya ih. Gue mau ke kantor dulu ah, ribet urusan sama mak-emak kepo!"


"Sa, tunggu!" teriak Mereka serempak membuat Sasa seketika langsung berhenti dan hampir saja mereka menabrak Sasa.


Saat bersamaan, tiba-tiba...


"Assalamu'alaikum semuanya." Ucap seseorang membuat Sasa dan yang lainnya terkejut.


"Waalaikumussalam."


"Ustadz kaya jelangkung aja, tiba-tiba nongol gitu." celetuk Sapi membuat lelaki itu merasa bersalah.


"Maaf." Lirihnya


"Gak apa-apa Ustadz, teman kami memang aneh." celetuk Pipa membuat Sapi memukul lengannya.


"Oh iya, Bunda Shazfa sudah masuk nih? Memangnya benar ya Bunda kemarin Menikah?"


"Iya, benar Ustadz Alif." Sahut Sasa membuat Ustadz tersebut tersenyum hambar.


"Selamat ya, Bunda."

__ADS_1


"Terimakasih, Ustadz. Kalau begitu saya deluan ya, assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


__ADS_2