Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Ustadzah?


__ADS_3

Sasa hari ini menggantikan Patul untuk mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Saat hendak masuk ke dalam ruangan tiba-tiba ia berjumpa lagi dengan laki-laki itu.


"Assalamu'alaikum Ustadzah" sapa nya


What? Ustadzah?. Sasa merinding sendiri mendengarnya.


"Waalaikumussalam, tapi maaf saya bukan Ustadzah. Anak-anak memanggil saya dan teman-teman saya yang tadi itu Bunda, bukan Ustadzah."


"Oh maaf, saya tidak tahu."


"Ya gak papa, makanya saya kasih tahu. Maaf, apa masih ada keperluan lagi Stadz? kalau tidak saya mau masuk ke kelas, sudah ditunggu para santri."


"Oh iya, Silahkan"


Sasa memang selalu ketus dengan laki-laki yang baru ia kenal dan berhati-hati jika berteman dengan lawan jenis.


Tanpa Shazfa sadari, lelaki itu sesekali memperhatikannya dari tadi dan hanya Gus Sakha yang mengetahuinya.


Ya, Gus Sakha memang ada di pesantren pagi ini karena ada jadwal mengajar. Sedangkan Patul saat ini di jaga oleh Umi dan Ummah.


Kini kau berhak bahagia, Shazfa! gumam Gus Sakha.


Tak terasa, kini jam mata kuliah selesai. Shazfa pun pergi dari ruangan setelah mengucapkan salam.


Setelah itu, Shazfa balik lagi ke ruang guru untuk mengantarkan absen namun tak sengaja bertemu dengan Gus Sakha.


"Assalamu'alaikum Shazfa"


Mendengar suara itu jantung Sasa menjadi tak karuan, tapi ia akan berdosa jika membiarkannya.


"Waalaikumussalam Gus" sahut nya sambil tersenyum


"Sudah selesai mengajar?"


"Iya Gus. Bagaimana kabar Patul? nanti siang kami kesana ya Gus."


"Iya Dek, datang aja. Lila pasti senang."


Sasaa mengerutkan alisnya saat Gus Sakha memanggil nya dengan sebutan dek.


"Astaghfirullah, Maaf." ucap Gus Sakha menyesal.


"Ekhm... Adam sama hawa gimana Gus? masih rewel?" Sasa mengalihkan pembicaraan.


"Iya, ASI Lila belum keluar banyak."

__ADS_1


"Pakai sufor emang gak boleh ya Gus?"


"Sufor?"


"Iya, susu formula."


"Ana belum tanya sama dokternya karena kemarin dokter gak menganjurkan apalagi mereka belum 6 bulan."


"Benar juga... Ah iya, nanti kami bawakin sayur Katuk deh."


"Terima kasih sebelumnya."


"Kaya sama siapa aja ." jawab Sasa .


"Ya sudah Gus, gue balik ke ruangan dulu ya."


Lalu Shazfa pergi setelah mengucapkan salam. Ternyata di dalam ruangan sudah ada Sapi dan Pipa serta ada seorang laki-laki yang tadi nya menyapa Sasa.


"Sudah pada di ruangan nih." kata Sasa membuat Pipa dan Sapi terkesiap.


"Tumben lama?" tanya Pipa.


"Tadi gue jumpa Gus Sakha di depan, katanya si kembar rewel terus."


"Serius? kata mamak aku kalau ASI mau banyak itu makan sayur Katuk" Sahut Sapi


"Beli sari Katuk di Swalayan aja gimana? kayanya ada deh pakai botol gitu." Saran Pipa


"Maaf ikut nimbrung, dekat rumah ana ada yang punya daun katuk, bagaimana kau kita minta saja sama dia?" sahut Ustadz itu membuat The Guys menoleh.


"Beneran?" ucap mereka serempak dan Ustadz itu mengangguk.


"Maaf, tapi Ustadz siapa namanya?" celetuk Sasa yang merasa sedikit menjanggal jika minta tolong tanpa tahu namanya apalagi satu wilayah.


"Nama ana Alif, kalau Bunda sekalian?"


"Bunda?" beo Sapi dan Pipa


"Iya, kata Bunda yang ini kalian di panggil Bunda." jujur Ustadz Alif membuat Sasa gak enak hati


"Oh iya, maaf Ustadz Alif. Kami cuma heran dari mana Ustadz tau, ternyata ada yang udah kenalan deluan." sindir Pipa sambil mengejek.


"Ekhm... Namaku Safia, Ustadz! sekalian lah ku kenalkan kawanku ya, yang dikiri ku ini namanya Shazfa, dan yang kanan namanya Pipa."


"Hai semua, salam kenal. Ana baru tadi masuk ngajar di sini, semoga silaturahmi kita tetap terjaga ya."

__ADS_1


"Siap Stadz, lagian sesama muslim harus menjaga silaturahmi." sahut Pipa.


"Baik, jam 10 nanti kita kesana buat ambil daun nya."


"Tidak merepotkan kan Stadz?"


"Justru ana malah senang."


🌸🌼🌸


Di Rumah Sakit, ternyata Patul sudah waktunya pulang. Patul juga sudah menghubungi The Guys agar tidak usah datang, sementara Gus Sakha saat ini sedang mengemasi barang mereka.


"Sayang, si kembar sudah tidur?"


"Sudah A, eh Mas... Kasihan atuh mas, tidurnya karena kecapean nangis." lirih Patul sambil menatap sang buah hati.


Ya, mereka memang sudah mengganti panggilannya, Patul belum terbiasa memanggil suaminya dengan sayang makanya ia memutuskan masih panggil mas saja.


"Nanti kan dokter masuk, ntar Mas tanya boleh atau tidak dibantu dengan sufor. Tapi tadi kata teman-teman kamu mereka mau masakin sayur Katuk buat kamu."


"Alhamdulillah. Mereka baik ya Mas" kata Patul


Gus Sakha mengangguk.


"Apalagi Sasa" ucap Patul tanpa sadar.


Gus Sakha tersentak, karena walau hati mengatakan ikhlas akan tetapi dengan mendengar namanya masih membekas.


"Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka." Sahut Gus Sakha.


Aamiin.


🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈


Oh iya, othor masih ada rekomendasiin punya teman othor ni, cekidot πŸ‘‡πŸ‘‡



**Blurb :


Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.


Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.


Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.

__ADS_1


Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?


Ikuti kisah perjalanan mereka** ....


__ADS_2