Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Reaksi Gus Sakha


__ADS_3

"Jadi Neng sekitar 20 Tahun yang lalu, Ummah kamu mengalami suatu musibah. Ada yang mau menjambret Ummah saat Ummah kamu itu mau periksa kandungan yang di dalamnya itu kamu Neng. Abah memang salah waktu itu tidak bisa mengantarkannya karena ada panggilan ceramah ke Kampung sebelah. Dengan uang yang pas-pasan, Ummah kamu memilih untuk berjalan kaki ke tempat bidan itu. Tiba-tiba tas ummah di tarik jambret yang sedang di atas motor, belum sempat mereka kabur beberapa detik kemudian mereka pada jatuh. Kata Ummah ada seseorang lelaki yang menendang mereka dari belakang, yaitu Abi nya Sakha . Ummah di bawa ke rumahnya, dan ternyata Ummah kenal dengan istri Abi, mereka sahabatan sejak sekolah. Ummah cerita dengan Uminya Sakha sampai ia bernazar akan menjodohkan bayi yang di rahimnya ini kepada salah satu anak dari Uminya Sakha jika ia perempuan." ucap Abah kyai Panjang lebar namun masih di potong oleh Patul.


"Neng mah gak apa -apa di jodohin, sok atuh .. Tapi, kenapa harus dengan Gus Sakha? jawab Abah" kata Patul mengeluarkan kekesalannya.


Tiba-tiba ummah keluar dari dalam rumah dan langsung memeluk Patul


"Maafkan ummah nak, Maaf... Saat itu ummah bahagia pisan karena tas Ummah teh gak jadi di jambret, didalam tasnya lumayan banyak isinya karena uang yang ummah tabung untuk persalinan nanti teh ada di dalam semua. Di rumah mereka dulu ummah cuma lihat Nak Sakha, maka dari itu Ummah menjodohkan kalian, Maafkan Ummah "lirih Ummah.


"Astaghfirullahaladzim" Patul berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Ummah, Abah, jujur kalau orang yang dimaksud bukan Gus Sakha neng mah ayok wae, Tapi Gus Sakha itu menyukai teman neng ummah, Shazfa " jelas Patul membuat ummah dan Abah melotot kaget


"Astaghfirullah, ini gimana Abah?" Tanya Ummah


"Ya mau gimana lagi atuh, lagian belum ada Ijab kan? Ya sudah, karena nadzar itu harus di tunaikan" tegas Abah. lalu ia melirik putrinya "Maafin kami nak, tapi semoga kamu bisa paham dan menerima semuanya"


Patul diam sejenak "Neng mau ke kamar, assalamu'alaikum "


Author POV,end.


Semenjak saat itu, aku berusaha tegar di depan semuanya, memperlihatkan diri ini agar tampak baik-baik saja memang sangat berat.


Adzan berkumandang, suara yang menjadi awal kagumku dengan Ustadz Sakha kini harus ku tepis kekaguman nya.


"Yuk ke Mushola " ajak Patul membuat kami mengangguk.


Kami berjalan ke mushola, banyak para santri yang berlalu-lalang sambil menyapa kami.


"Assalamu'alaikum Ning Lila, Neng Shazfa, Neng Fifa, Neng Safia"


"Waalaikumussalam " jawab kami sambil tersenyum


"Kami deluan ya Ning" ucap para santri itu


"Silahkan" jawab kami.


Setelah para santri tidak terlihat , Sapi berbisik dengan Patul "Tul, aku kayak dihormati kali disini, biasanya kalau di kampung ku bukan kaya gitu nyapa nya.."


Kami tergelak "Nguping aja Kelen " kesalnya.


"Eh, kita bukan Nguping tapi suara loe aja yang kegedean" celetuk Pipa


"Memang kalau di kampung loe kaya mana nyapa nya Pi?" tanyaku penasaran.


"Gini, Horas edak, Boha kabarnta?"


"Apa itu ?"


"Edak itu panggilan untuk sesama wanita gitu, jadi ya artinya horas edak, apa kabarnya? begincuuuuu"


"Gue jadi penasaran, Pengen deh main ke kampung loe" sahutku


"Benar-benar, aku juga" sahut Patul


"Gua juga" kata Pipa


Membuat mata Sapi berbinar "Kelen harus ke kampungku, biar ku ajak Kelen jalan-jalan menikmati surga nya dunia"


"Lebay!!" jawab kami serempak lalu pergi ke mushola ninggalin Sapi yang masih mematung.


"Eh tunggu" kata Sapi menyusul kami.


***


Seperti biasa setelah sholat kami menunggu Patul membaca Alquran.


Lantunan yang di baca Patul sangat merdu membuat ku semakin minder jika terus meneruskan hubunganku yang salah ini dengan Ustadz Sakha.


'Patul memang jodoh yang terbaik untuk kamu bang' lirihku dalam hati.


"Assalamu'alaikum" sapa dua orang laki-laki membuat lamunanku menjadi buyar, begitu juga dengan Patul langsung menghentikan bacaannya.


"Waalaikumussalam" jawab kami


deg!


"Kalian disini" ucap lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Ustadz Sakha.


"Iya bang" Sahut Sapi sedangkan aku dan Patul hanya diam.


"Ya sudah, kami deluan ya Neng" sahut Ustadz Fathan

__ADS_1


"Iya bang"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


'Datang untuk menyapa? buat apa? melihat wajahmu kini seperti dosa bagiku, bang' lirihku dalam hati


***


Ustadz Sakha Pov


Saat aku dan Fathan hendak pergi dari mushola, kami melihat empat orang gadis yang kami kenalin masih berada di mushola, kami memutuskan untuk menyapa mereka terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum" ujar kami.


Aku melihat Shazfa yang sedang melamun itu langsung sadar, sebenarnya apa yang dilamuninnya?


"Waalaikumussalam" jawab mereka kompak.


"Kalian disini" ucapku basa-basi


"Iya bang" tapi yang menjawabnya itu Safia.


Merasa bingung dan terlihat kaku dengan kecanggungan ini aku melirik Fathan sekilas


"Ya sudah kami deluan ya Neng" Sahut Fathan


"Iya bang"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


Kami pergi meninggalkan mereka dengan hati yang masih bertanya sebenarnya ada apa? tapi tiba-tiba ponselku bergetar.


drdddd dddrrrdd


"Ente deluan saja, ana mau angkat telpon dari Umi" ujarku


Fathan mengangguk "Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


Assalamu'alaikum Umi,.apa kabar?


Harus besok ya umi?


Ya sudah, insya Allah Sakha pulang besok.


Iya,.udah dulu ya Umi, assalamu'alaikum.


Apa yang terjadi? kenapa Umi sampai menyuruhku pulang? Aku terdiam, sampai ada seseorang yang menyapa ku....


"Assalamu'alaikum Ustadz" ucap salah satu santri


"Waalaikumussalam" sahutnya


"Afwan, Ba'da Isya jadi ke kelas kan Ustadz?"


"Na'am, Insya Allah kita akan setor hapalan, beritahu yang lain juga ya"


"Baik Ustadz, permisi... assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


***


Sebelum pulang ke Rumah, aku pamit dulu dengan Abah Kyai, kini aku sudah berada di depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum" ucapku


Seorang gadis keluar, namun seperti ada yang difikirkan nya. "waalaikumussalam"


"Abahnya ada Neng?" tanyaku pada Neng Lila .


"Ada, tunggu sebentar" singkatnya.


Tak lama kemudian, Abah keluar dari kamarnya .


"Eh ada nak Sakha..."

__ADS_1


Aku menoleh dan mengangguk "Assalamu'alaikum Abah"


"Waalaikumussalam, masuk nak masuk"


"Afwan Abah, ana cuma sebentar saja. Begini bah, ana di suruh Umi dan Abi pulang, sebentar saja bah.. saya mau izin sama Abah untuk dua hari tidak masuk mengajar, boleh kah Bah?"


"Boleh nak, kenapa mendadak?"


"Ana juga tidak tahu Bah"


"Ya sudah hati-hati"


"Syukron bah, assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


Aku berjalan ke parkiran, berharap bertemu dengan Shazfa sebentar saja. Namun semua hanya tinggal harapan.


Tiga jam berlalu, Akhirnya aku sampai di rumah. Terlihat Abi yang sedang duduk di teras.


"Assalamu'alaikum" ucapku sambil mencium tangan Abi.


"Waalaikumussalam" Sahut Abi


"Ana mandi dulu ya Bi"


"Iya nak"


Seusai mandi, sudah berkumpul Umi dan Abi di meja makan.


"Masak apa Umi?" tanyaku


"Masak Ayam bakar kesukaan kamu, makan dulu Nduk ayo"


Suasana kembali hening, sampai akhirnya kami siap makan, Umi sudah membereskan makanan kami sementara aku dengan Abi kembali duduk di ruang tv.


"Sebenarnya ada yang mau Abi dan Umi bicarakan sama kamu nduk"


"Ada apa Abi?"


"Tunggu Umi sebentar"


Tak lama kemudian, Umi datang dengan membawa nampan berisi cemilan dan teh..


"Afwan , lama..." kata Umi sambil meletakkan makanannya.


"Sebenarnya Umi dan Abi mau ngomong apa?" tanyaku penasaran.


"Begini nak, maaf sebelumnya.. ini tentang perjodohan kamu"


"Tunggu, Sakha beneran dijodohin?" tanyaku lagi


"Iya, maafkan Umi dan Abi"


"Terus siapa wanita yang menurut Abi dan Umi cocok untuk ana?"


"Nak Lila" singkat Umi membuatku tersentak.


"Astaghfirullah, Lila? Fathulila Ghassani? anak Abah kyai?"


"Iya Nduk"


"Boleh tidak, perjodohan ini dibatalkan saja? jangan Lila Umi, ana mohon"


"Tidak bisa nak, ini sudah nadzar dari Umi dan Ummah nya Lila" Kata umi sambil menjelaskan alasannya.


Aku yang mendengar hanya pasrah, kenapa harus Lila?.


"Umi kan tahu, ana berniat untuk khitbah temannya Lila, masa ana nikahnya sama Lila? ini gak mungkin bi, mi.. ini gak mungkin"


"Maaf nak, tapi kamu harus mau"


"Ana perlu waktu sendiri, assalamu'alaikum "


Aku pergi ke kamar, terbayang lagi wajah Lila yang tadi saat melihatku itu kusut sekali, mungkin ia juga sudah mengetahuinya. Lalu teringatku pada Shazfa, apa mungkin dia juga sudah mengetahuinya? pantas saja tadi malam ia tak sedikitpun menoleh.


Aku ambil ponsel, ku kirim beberapa pesan pada Shazfa .


'assalamualaikum Shazfa'.


Satu jam berlalu, dua jam hingga berjam-jam ku menunggu balasan, namun tak kunjung di balas.

__ADS_1


Malam hari, aku ber istikhoroh, meminta petunjuk pada-Nya. Sambil menangis ku memohon, ini soal hati dan kehidupan. Untuk pernikahan tak boleh main-main , fikirku.


__ADS_2