Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Khitbah Pipa


__ADS_3

Malam ini, Pipa sudah siap dengan gamisnya berwarna maroon. Sungguh sangat terlihat cantik dan manis. Teman-temannya tidak ada yang datang karena acara Fifa sungguh begitu dadakan. Patul selalu mendesak kepada Gus Sakha untuk bisa pergi ke rumah Fifa, begitupun dengan Sasa yang selalu memintanya untuk di antarkan ke sana. Berbagai cara sudah di lakukan oleh Sasa bahkan ia sampai pura-pura merajuk juga, tapi apalah daya karena tugas istri adalah menurut pada suami.


"Kamu sudah si ..." Bunda yang baru saja datang Sebenarnya ingin bertanya apakah Pipa sudah siap untuk berdandan atau belum, tetapi saat melihat gadis cantik di depannya ini seketika semua jadi buyar.


"Ada apa, Bunda?" Pipa terlihat bingung.


"Maaf nak, tapi sungguh kamu cantik banget."


"Iya dong, siapa dulu Bunda nya?"


"Dih, paling bisa ini memang. Ya sudah yuk!" Bunda merangkul Pipa dan mengajaknya keluar.


Seperti pada acara lamaran umumnya, Pipa di pakaikan cincin oleh Bubu sebagai pertanda jika Pipa sudah terikat untuk Bima. Acara pernikahan pun telah di tentukan dan mereka memilih untuk menikah satu bulan lagi.


🌼🌼🌼


Sementara di kota lainnya, Sasa dan Patul sedang ngambek pada suaminya. Mereka memilih untuk mendiamkan nya tanpa bersuara sedikitpun.


"Sayang, lihat ponsel mas gak?" tanya Gus Sakhi sambil mencari ponselnya.


Sasa berjalan mencari ponsel tersebut dan setelah mendapatkannya ia hanya menaruh nya di depan meja kerja Gus Sakhi tanpa mengatakan apapun.


Gus Sakhi membuang napasnya dengan kasar, kemudia ia memeluk sang istri dan mengelus rambut Sasa yang sudah semalaman mendiamkannya itu.


"Kalau Mas ada salah, Mas minta maaf. Jangan marah dong, Mas kesiksa nih."


Sasa masih mendiamkannya, dilepasnya pelukan itu dan mengambil tas karena hari ini dia mau mengajar. Sebelum pergi, dia mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu di kertas tersebut. Kemudian, dia taruh kembali di meja kerja suaminya yang kebetulan sang suami sedang berada di sana.


"Apa ini?" Gus Sakhi membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya, "Mas, Sasa pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Itulah isi dari kertas tersebut.

__ADS_1


Gus Sakhi menggelengkan kepalanya kemudian mengejar sang istri yang mendiamkannya.


"Setidaknya berbicara lah ketika pamit, kamu juga gak lupa kan adab bagaimana izin dengan suami?"


Deg!


Suara bariton itu membuat langkah Sasa berhenti, Gus Sakhi tersenyum saat melihat Istrinya menghentikan langkahnya, namun senyumnya pudar saat sang istri pamit tanpa senyuman.


"Sasa pergi duluan ya, Assalamu'alaikum." Ujarnya sambil mencium punggung tangan Gus Sakhi.


Belum sempat Gus Sakhi menjawabnya, Sasa sudah pergi lebih dulu darinya. "Waalaikumussalam! astaghfirullah, Humaira." Gumamnya sambil memijat pelipisnya.


Hari ini, Gus Sakhi memang tidak ada jadwal di pesantren Abah karena jadwal di Kampus sangat penuh membuatnya sangat malas untuk membawa mobil. Beruntunglah Pak Hendrawan mau menjemputnya sekarang.


Sementara Gus Sakha juga pusing melihat tingkah sang istri yang menjadi dingin dan hanya mengurusi si kembar saja.


"Ada yang mau ummi jelaskan pada Baba?" Tanya Gus Sakha saat sang istri sudah duduk di sebelahnya.


Patul menggelengkan kepalanya, "Aku harus mengajar Ba, kalau Baba masih ada waktu tolong beri si kembar sarapan."


"Tapi Ummi ..." Patul tak juga menjawab dan langsung keluar rumah setelah mengucapkan salam.


Sasa sudah sampai di pesantren dan bertepatan pada saat itu, Patul juga keluar dari rumahnya.


"Tul!" Panggil Sasa.


Patul menoleh. "Eh Sa, sudah sampai? tumben atuh."


"Iya gue lagi kesal sama Mas Sakhi. Loe juga tumben cepat keluar? biasanya nyuapin si kembar dulu?"

__ADS_1


"Aku teh juga kesal sama Baba nya Adam." keluh Patul.


"Loe kesal kenapa? jangan-jangan masalah kita sama nih." Sahut Sasa.


"kamu teh apa? aku karena gak bisa ke acaranya Pipa."


"Ih sama dong, gue juga karena itu."


Namun beberapa detik kemudian keduanya terbahak-bahak.


"Ya sudah, kita cuekin aja tuh orang. Biar kapok, iya gak Tul?"


"Ide bagus, tapi apa gak dosa Sa?"


"Dosa sih, tapi kan sudah terlanjur." Kata Sasa membuat keduanya terkekeh.


"Woi!" teriakan itu membuat keduanya tersentak.


"Berisik!" ketus Sasa dan Patul.


"Kutunggu juga Kelen dari tadi depan barak, eh malah nangkring disini!" omel Sapi.


"Kami lagi kesal sama suami kami karena gak izinin ke rumah Pipa."


"Astaga, jadi karena itu Kelen marah sama suami Kelen?" Tanya Sapi heran.


"Iya!" jawab keduanya dengan kompak.


"Apalah dayaku yang gak punya suami ini, ya Tuhan!" Kesal Sapi membuat keduanya ngakak.

__ADS_1


__ADS_2