Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Ratih


__ADS_3

"Itu? itu apa Mas?"


"Dia ..."


"Kami cuma teman sekolah, Mbak." Sahut Ratih sambil tersenyum, niatnya dia ingin menyelamatkan Gus Sakhi, tetapi yang di selamatkan malah menjatuhkan dirinya sendiri.


"Dia wanita yang Mas ceritakan itu, Sayang."


Deg!


Bagai di siram air panas, hati Sasa kini melepuh, ingin rasanya dia meletupkannya sekarang. "Oh, jadi kamu Mbak Ratih teman kecil Mas Sakhi, ya?"


Ratih mengerutkan alisnya, dia penasaran dengan siapa Sasa di hidupnya Gus Sakhi. "Iya, Mbak itu adiknya Sakhi ya?"


"Adik?" Sasa terlihat murka tetapi ia berhasil menyembunyikan itu dengan senyum manisnya.


"Dia istri saya, Ratih. Kenalin, namanya Humaira." Suara bariton itu mengagetkan Ratih, tentu saja membuat Sasa tersenyum kemenangan.


"Ja ... jadi kamu su...sudah me ... nikah?" suara Ratih terbata-bata, ia begitu shock mendengar ucapan Gus Sakhi padahal sebelumnya dia sangat senang karena sudah berjumpa kembali dengan Gus Sakhi, cinta pertamanya.


"Alhamdulillah, sudah."


"Oh iya, selamat ya. Tapi tunggu, bukannya nama Mbak ini tadi katanya Sasa ya?"


"Benar, hanya saya yang memanggilnya Humaira." Lagi-lagi, ucapan Gus Sakhi membuat Sasa semakin tenang. Hatinya begitu lega mendengar Gus Sakhi mengganggapnya ada di hidupnya. Padahal sebelumnya Sasa sudah sedikit minder karena wajah Ratih saat ini sangat cantik apalagi wanita itu masih gadis, badannya juga begitu langsing.

__ADS_1


"Hm, begitu ya. Salam kenal, Mbak Sasa."


"Jangan panggil Mbak, dong. Kamu kan seumuran dengan Mas Sakhi, harusnya saya yang manggil Mbak." Ujar Sasa lembut, sangat lembut sampai membuat semuanya tercengang.


"Oh begitu, baiklah ... Kita panggil nama saja. Oh iya, kalian sudah pada makan belum?"


"Sudah, kami numpang istirahat saja dulu ya sambil menunggu teman saya ambil mobilnya di sana."


"Silahkan, bahkan boleh lebih lama lagi. beristirahat 'lah."


Mereka pun duduk di teras rumah Ratih, Sasa tertidur di sana. Saat Sasa tertidur, Gus Sakhi ingin mengambilkan Susu hamil yang berada di dalam mobil mereka.


"Sakhi, Tunggu!" seseorang memanggil Gus Sakhi.


Lelaki itu menoleh, "Iya, ada apa Tih?"


"Alhamdulillah sudah enam tahun."


"Kamu sepertinya sangat bahagia dengan istrimu," lirih Ratih.


"Alhamdulillah, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah menikah?"


"Aku ... aku belum menikah, Khi. Aku menunggumu dari dulu."


Gus Sakhi mengerutkan alisnya, "Jangan pernah berharap dengan yang tidak mungkin bisa kita gapai."

__ADS_1


"Apa karena agama kita berbeda?"


"Itu salah satunya, tetapi ...."


"Aku siap jadi yang kedua, Khi. Aku sangat mencintaimu dari dulu. Aku rela meninggalkan agamamu."


"Innalilahi, sadar kamu, Tih. Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu. Yang kamu rasakan itu adalah nafsu semata, Ratih. Saya dari dulu tidak mencintaimu, walaupun nantinya kamu akan pindah keyakinan tapi tetap saja saya tidak akan memilihmu. Saya hanya mencintai istri saya, Semoga kamu memahaminya, Ratih."


"Sakhi, apa kamu tidak melihat rasa ini untukmu? sejak lama aku merasakannya, kenapa kamu tidak pernah memandangku sedikit saja?"


"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, yang berlalu biarlah berlalu, Ratih. Saya harap jika kelak kamu mencintai seseorang, pilihlah dia yang satu keyakinan denganmu. Karena jika dia rela meninggalkan agamanya hanya untuk cinta, berarti dia tipe yang tidak setia. Bagaimana dia bisa setia dengan manusia? sedangkan dengan tuhannya saja dia berdusta."


"Kamu menyindirku?"


"Maaf, Ratih. Tapi kamu harus sadar dengan apa yang kamu lakukan. Saya ke mobil dulu, tolong jaga istri dan teman-teman saya. Assalamu'alaikum."


'Aku benci penolakan! sudah cukup semuanya ya, Sakhi! Aku akan merebutmu darinya, kita lihat saja nanti. Hahhahaha!' Batin Ratih.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hai, semuanya ...


Jangan lupa dukung Othor ya, please ... Othor maksa nih, hehehe ....


Oh iya, othor punya rekomendasi lagi nih, punya teman othor yang nggak kalah serunya, cekidot👇

__ADS_1



__ADS_2