Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Keputusan


__ADS_3

"Eh kok gue?"


"Alah, alah... Jawab dong bang"


"Emh, sebenarnya .. ana...."


Suasana menjadi hening, kami masih setia menunggu kelanjutan dari ucapan Ustadz Sakha. Eh bukan kami maksudnya , tapi aku . Aku tatap dia sekilas, seperti sedang memikirkan jawaban apa yang pantas di ucapnya.


'Semoga jawabannya tidak mengecewakan,


' batinku...


Beberapa menit kemudian...


"Ana juga tidak tahu kedepannya gimana, tapi yang jelas sebagai manusia biasa ana hanya bisa berharap sesuai dengan yang ana inginkan"


Tunggu, apa itu jawaban? huh, jawaban seperti apa itu? sungguh aku tidak puas dengan jawabannya. Bukan itu yang aku mau , Ustadz!


"Yaelah Bang, mau jawab gitu aja lama banget, malah sampai keringatan segala lagi" kata Sapi tiba-tiba.


'eh iya, benar juga' gumamku pelan.


ekhemm


Patul berdehem "Kamu tuh ya Sapi, kalau ngomong dikira-kira dulu atuh, nah kan lihat Sasa jadi badmood tuh"


"Eh enggak, siapa yang badmood ih loe mah sotoy ( sok tau ) Tul" Ucapku.


Tunggu, ada apa ini? kenapa aku merasa kecewa dengan ustadz Sakha? Astaga.


Ustadz Sakha melirikku, dikiranya aku tidak tahu itu.


"Ada yang mau di tanya dek?" katanya membuatku salah tingkah, bagaimana mungkin dia tahu ada keganjalan di benakku?


Aku menggeleng .


Pipa yang mengetahui ada yang tidak beres pun langsung membawa yang lain untuk sedikit menjauh dari kami.


"Patul, Sapi dan bang Fathan Kesana sekarang yok" kata Pipa.


Sesaat kemudian mereka menjauh dari kami, tidak begitu jauh namun bisa di pastikan mereka tidak bisa mendengar apa yang kami bicarakan.


Ya, mungkin memang harus di pertanyakan, aku gak mungkin terus-menerus di posisi ini .


"Eh tunggu, gue ikut" dengan nada sedikit tinggi.


Ustadz Fathan menoleh " Kalian teh disana aja, selesaikan yang harus selesai, luruskan yang harus lurus. Soal ikan biar kami aja yang panggang"


Benar, kami memang berencana memanggang ikan, aku sampai lupa dengan itu.

__ADS_1


"Astaga, tega banget sih" gumamku pelan .


Sekarang apa yang harus ku lakukan? Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan kembali duduk ke tempat semula.


"Kamu marah sama Abang?" tanya nya di sela keheningan.


Aku menggeleng "Entah lah bang, aku juga gak tahu"


Sambil menghela nafas panjang aku melanjutkan ucapanku "Kadang aku merasa istimewa tapi kadang aku juga merasa asing"


"Maksudnya? Apa ini tentang-----?"


Aku mengangguk. "Aku memang gak keberatan dengan komitmen, tapi aku sadar sebagai perempuan yang biasa saja aku gak mungkin bisa bersanding dengan laki-laki yang luar biasa, seperti Abang."


"Dek, kamu ini ngomong apa? Jangan di ambil pusing omongan Umi tadi"


"Gak semudah itu Bang . Sekarang, apa Abang sudah ceritakan tentang aku dengan Umi Abi?"


Ustadz Sakha hanya diam.


"Lalu , apa Abang memang tidak tahu tentang perjodohan Abang?"


Pertanyaanku membuat Ustadz Sakha tersentak, terlihat jelas ia begitu terkejut mendengarnya.


"Huffttt astaghfirullah" gumamnya pelan namun aku masih bisa mendengar nya.


Aku menggeleng "Abang tidak salah"


"Jujur, Abang memang belum cerita ke Umi dan Abi, Lalu untuk pertanyaan kamu yang kedua---"


Aku tersenyum tipis "Aku sudah tahu jawabannya, Abang pasti dijodohkan. Gak apa-apa kok bang, aku sudah siapkan hati kalau-kalau ia akan patah"


"Dek, tolong... bertahanlah.. berjuanglah demi kita"


"Sampai kapan Ustadz Sakha? sampai pernikahan Ustadz di umumkan?" kataku pelan namun menusuk nya .


Ustadz Sakha terdiam .


"Memangnya siapa wanita beruntung itu?"


Ustadz Sakha menggelengkan kepalanya.


"Entahlah Abang juga gak tahu siapa. Kadang Abang heran dengan takdir Abang, kenapa harus Abang? Sementara Abang juga punya seorang Kakak, tapi nasibnya lebih baik karena tidak terjebak juga dalam ikatan ini"


"Dimana dia sekarang?"


"Kenapa kamu tanya dia?"


"Memangnya salah?"

__ADS_1


"Oke, Abang jawab." lalu ia menghela napas panjang . "Dia menjadi dosen di salah satu universitas yang ada di kota, Abang lupa nama universitas nya tapi yang jelas dia sangat beruntung"


"Maksudnya?"


"Dari dulu dia gak pernah di atur oleh Umi dan Abi, dia mau gimana saja dengan pilihan hidupnya tetap di dukung oleh Umi Abi, sedangkan Abang? pendidikan, cita-cita bahkan untuk kriteria calon istri saja sudah di tentukan oleh mereka. Jujur, Abang sebenarnya tak sanggup menyandang gelar ustadz karena terkadang Abang iri dengan kakak Abang sendiri, lucu ya?"


Deg!


Hatiku iba melihatnya, malang sekali lelaki yang ada di hadapanku ini tapi aku bisa apa?


"Bang, istighfar. Apa yang dilakukan oleh orang tua pasti itu yang terbaik untuk anak-anaknya. ah iya, jika kita berjodoh, Allah akan merestui kita. Jika tidak? tak mengapa bagiku, karena aku bangga dengan perasaan ini yang pernah singgah di hati Abang. Kamu itu orang baik bang, terlalu sempurna untuk aku si pendosa ini"


"Maksud nya? kamu mau------"


"Entahlah bang, setidaknya hatiku sudah lapang sekarang karena sudah tahu semuanya "


Gak terasa Air mataku menetes begitu saja.


"Abang gak mau dek, kita harus perjuangkan restu untuk kita"


Aku tersenyum "Abang tahu kan Restu Allah itu juga terletak di Restunya Orangtua? Jika orangtua saja gak merestui bagaimana lagi dengan Allah?"


Ustadz Sakha terdiam. Astaga apa yang aku lakukan? aku menasehati seorang Ustadz saat ini .


"Aku punya saran untuk Abang" Lalu ku lirik dia sekilas "Sebaiknya Abang tetap jelaskan perasaan kita eh maksudnya perasaan Abang kepada orang tua Abang. Jika mereka merestui Abang bisa langsung minta nomor ponsel orangtuaku, dan jika tidak? Biarkanlah perasaan ini tetap di hati. Aku pribadi tak akan memaksa perasaan ini untuk pergi, aku akan tetap membiarkannya tinggal disini sampai nanti akan berhenti dengan sendirinya."


Lalu aku berdiri dan jalan dua langkah namun aku berhenti saat merasa ada yang kurang untuk kukatakan . "Oh ya sebelumnya aku gak pernah jatuh cinta walaupun aku sudah memiliki pacar kemarin. Jika dengan yang kemarin aku merasa mendapatkan orang yang salah, mungkin untuk yang sekarang aku merasakan hatiku lah yang salah . Jujur Abang adalah patah hati terbesarku."


Saat aku hendak pergi, tiba-tiba


"Tunggu dek!"


"Ada apa bang?"


"Apa kita masih bisa berteman?"


Aku mengangguk "Masih, tapi tidak bisa terlalu akrab, aku harus berdamai dengan takdir. kita bisa berteman seperti sebelum kita saling kenal dulu. Aku deluan kesana ya. Assalamu'alaikum "


"Waalaikumussalam " lirih Ustadz Sakha.


Aku kembali bergabung dengan yang lainnya, ku maksimalkan untuk menahan tangisanku, dan kucoba untuk tersenyum.


"Kenapa kau? aman?" Tanya Sapi saat sudah berada disebelahnya.


"Iya, lu kenapa? apa yang dilakuin bang Sakha?" kali ini yang bertanya adalah Pipa. Sedangkan Ustadz Fathan langsung pergi menemani Ustadz Sakha sejak aku bergabung dengan mereka.


Patul yang sedari tadi diam ia datang menghampiriku, benar sekali saat ini aku butuh pelukan.


"Menangislah Sasa, luapkan segalanya" kata Patul.

__ADS_1


__ADS_2