Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Nasihat Mama


__ADS_3

..."Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula."...


..."Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."...


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Shazfa tercengang melihat wajahnya yang kini berubah seperti bidadari padahal hanya sedikit polesan yang dilukis ke wajah cantiknya itu.


"Ini gue?" gumamnya.


"Mbak, ini beneran gue?" tanya nya sampai Mbak Lina sang perias itu pun tertawa.


"Iya, kamu tuh cantik banget!" jawab Mbak Lina membuat Shazfa menjadi malu.


Tak lama kemudian pintu kamar Shazfa terbuka, ternyata The guys lah yang datang.


"Miciiiiiiiin!" teriak mereka.


"Astaghfirullah, gaya boleh lah feminim gitu, tapi kalau sudah ngomong kalian bar-bar banget!" kesal Sasa


"Eh? hehehehe" sambil menggaruk kepalanya.


"Lu cantik banget Sa."


"Iya kamu teh cantik pisan atuh."


"Kebanyakan micin kau pasti, masa iya kau secantik ini!"

__ADS_1


Pletak!


"Aw, aku sudah kaya bidadari gini masa di sentil juga sih." kesal Sapi.


Saat sedang asyik berbincang tiba-tiba Mama masuk ke dalam kamar Sasa dan langsung berjumpa dengan The guys.


"Wah, udah pada cantik nih?"


"Udah dong Ma...," sahut Pipa.


"Kalau sudah cantik begini, sini biar Mama fotoin."


"Astaga, kenapa gak ingat dari tadi ya?" celetuk Sapi membuat yang lainnya menggelengkan kepala.


Tanpa membuang waktu lama, Sapi langsung mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan kepada Mama. "Sa, kau gak usah ikut foto dulu!"



(Maaf banget kalau visualnya gak sesuai ekspektasi kalianโœŒ๏ธ)


"Makasih Mama...," ucap Sapi.


"Sama-sama Sayang," sahut Mama lalu berjalan mendekati Sasa yang sudah siap di rias.


"Anak Mama..."


Terlihat jelas mata Mama mulai berkaca-kaca karena ia menahan tangisnya, akan tetapi tangisan ini bukanlah tangisan kesedihan melainkan kebahagiaan. Ibu mana yang tidak terharu saat melihat sang anak menikah?

__ADS_1


"Mama nangis?" tanya Sasa khawatir.


Mama menggelengkan kepala "Mama hanya lagi bahagia, Nak!"


"Sini Sayang, duduk dulu. Mama mau bicara," sambil memegang tangan Sasa untuk duduk.


"Kenapa Ma?"


"Nak, Mama gak nyangka putri kecil Mama akan menikah dalam waktu beberapa jam lagi. Mama masih merasa baru kemarin sore kamu lahir, bayi mungil Mama yang dari dulu tidak pernah merepotkan Mama." Mama menghela nafas nya panjang.


"Mama jangan buat Sasa sedih dong," lirih Sasa.


"Jangan nangis, nanti Make Up nya luntur!" Ledek Mama.


"Kamu tahu... kamu itu adalah anak yang baik maka kelak kamu akan menjadi ibu yang baik pula. Kamu tidak akan bisa sekuat laki-laki, akan tetapi kamu lebih tabah darinya. Dan ketabahan itu lah yang menjadikan wanita lebih kuat daripada laki-laki. Hidup tak selamanya indah, perjalanan tak selamanya mulus. Jangan pernah mengeluh ketika rumah tangga dilanda musibah ya, Nak! Karena dari musibah kita belajar kuat dari cobaan. Jika ada masalah, selesaikan baik-baik. Sayang... jangan kamu kira Pernikahan itu hanya urusan cinta dan kehidupan yang menyenangkan saja. Kamu juga jangan heran jika sedang menunggu suami mu tetapi sikapnya malah menganggap kamu seolah tidak ada karena saking sibuknya. Shazfa sayang, jangan menunggu perahu akan berlabuh di atas daratan yang kering. Segeralah kamu mendahului suamimu, janganlah kamu menanti dirinya."


Mama menjeda ucapannya karena sebenarnya ia sudah tidak sanggup lagi membuat pembicaraan yang membuat sang anak bersedih, tetapi ini lah kewajibannya sebagai orang tua.


"Nak, sesungguhnya tabiat seorang laki-laki itu berbeda dengan tabiat wanita dan ini sudah menjadi fitrah masing-masing. Lingkungan suami kamu itu berbeda dengan lingkungan kamu. Sebagai seorang istri kamu harus menjadi penyejuk bagi suami kamu nanti. Berbakti lah padanya karena setelah Saksi mengatakan Sah, Ridho Mama sudah berpindah kepada Suami mu."


Nasihat Mama membuat Sasa menangis, begitupun The guys tak terkecuali Patul yang sudah menikah.


"Udahan dong acara nangis nya, huaaaa... Hiks ... hiks...." celetuk Sapi.


"Lu mah, ngerusak suasana aja! Hiks..." Sahut Pipa sambil memukul lengan Sapi, sedangkan Patul hanya diam saja.


"Sudah, sudah...! Kenapa jadi berantem sih?" ucap Mama sambil cekikikan. Lalu mama melihat Mbak Lina yang sedang membereskan alat Make Up nya "Mbak, rapikan tolong ya dandanan nya anak gadis kita ini...."

__ADS_1


__ADS_2