
"Bagaimana jika Mas menikah lagi?"
"Astaghfirullah, Sya. Cukup! Mas sudah lelah dengan pertanyaan kamu ini."
"Tapi Sya ridho jika Mas mau menikah lagi, hiks ..."
"Mas yang nggak ridho. Masih banyak cara agar kita punya anak. Kita bisa mengadopsi, atau pakai bayi tabung. Lagian kamu dan Mas sama-sama sehat, Sayang. Kita nggak sakit, hanya saja Allah belum mengizinkannya."
"Mas, sebenarnya Sya kena kanker rahim." Lirih Sya sambil menangis.
'Prang!
Fakhi tadinya sedang ingin menaruh ponsel tapi ternyata ponselnya terjatuh begitu mendengar ucapan sang istri.
"Astagfirullah, kamu bohong 'kan?"
"Lillah, Mas. Sudah stadium 3!"
"Kenapa kamu nggak cerita sama Mas? Hm? Kenapa, Annasya!"
"Karena Sya nggak ingin Mas kepikiran, kerjaan di kantor sudah numpuk, belum lagi di pesantren. Sya cuma ingin membuat Mas bekerja dengan nyaman."
"Tidak seperti ini caranya, Annasya! Besok kita ke rumah sakit."
***
Setelah sholat subuh, Nasya menyiapkan sarapan. Mereka tinggal bersama Sasa dan Gus Sakhi karena Pipa dan Bima sudah pindah lagi ke Amerika.
"Kamu masak apa, Sayang?"
"Mommy, ngagetin saja." Nasya memegang dadanya, "masak nasi goreng, Mom."
"Kesukaan suami kamu ini, ya sudah Mommy bantu buat teh aja ya?"
"Biar Sya saja, Mom."
"Nggak pa-pa, Sayang."
Di meja makan, sudah berkumpul semuanya. Bahkan Azma dan Azmi juga sudah berada disana. Keributan selalu terdengar di rumah itu karena anak kembar itu selalu bertengkar. Bahkan Daddy saja sudah angkat tangan melihat bocah mereka.
"Fakhi, Nasya ... Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Mommy. Firasat orang tua selalu benar.
"Nggak, Mom."
__ADS_1
"Nak, pertengkaran di dalam rumah tangga itu wajar. Yang nggak wajar itu jika menyikapinya dengan kepala dingin." Gus Sakhi ikut bicara.
"Iya, Dad."
"Kak kalau ada masalah cerita dong," bukan Azma namanya jika tidak ikut nimbrung.
"Nggak ada apa-apa kok. Cepat habiskan makanannya atau kalian akan di hukum sama Daddy, iya nggak Dad?"
"Daddy sudah ampun lihat mereka, kalau saja ada yang ingin menikahi adik cewek kamu ini, sudah Daddy nikahin sekarang juga."
"Pfttt hahaha!" Semua tertawa kecuali Azma.
"Bersenang-senang 'lah di atas penderitaan orang. Dasar, keluarga aneh!" Protes Azma.
"Dih, lu yang aneh." Celetuk Azmi.
"Diam lu, kodok."
"Lu, Sapi."
"Sudah! Hentikan ..." Semuanya diam kembali ketika Sasa menghentakkan sendok di piringnya.
Seperti yang sudah di janjikan, mereka pun pergi ke dokter untuk memeriksa penyakit Nasya. Fakhi tersentak saat mendengar keadaan sang istri. Ternyata Nasya tidak sekuat yang ia pikirkan. Di rumah istrinya itu terlihat sangat kuat bahkan seperi orang yang amat sehat. Hal itu membuat Fakhi awalnya tidak percaya dengan kata-kata Nasya.
"Nggak, Mas. Bagaimana kalau operasinya gagal?"
"Jangan pesimis sebelum dicoba, Mas mohon!" pinta Fakhi
"Sya nggak mau, Mas."
"Terserah kamu!" Ucap Fakhi dengan suara meninggi.
***
Sore ini Annasya sudah di pesantren untuk mengajar, dia tidak konsentrasi karena pikirannya bercabang. Setelah mengajar, dia pergi ke kantin.
"Nasya!" panggil seorang Ustadzah, setelah Nasya menoleh wanita itu langsung tersenyum. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam, Maryam." Sahut Nasya sambil tersenyum.
"Kenapa melamun?" tanya Maryam.
Ustadzah Maryam adalah sahabat baiknya Nasya. Wanita itulah yang dijodohkan Nasya dengan suaminya sendiri. Maryam awalnya menolak karena ia tidak mau menjadi madu. Tetapi apa boleh di buat, Nasya terus saja memohon padanya bahkan sambil menangis.
__ADS_1
"Mas Fakhi ___"
"Masih belum setuju ya? Ya Allah, Sya ... Sebaiknya niat kamu itu kamu urungkan karena aku dan Gus Fakhi tidak mungkin bisa bersama."
"Aku mohon, Mar. Bertahanlah demi aku, karena aku yakin Mas Fakhi akan menerimamu."
"Kenapa kamu begitu keras kepala, Sya?"
"Mas Fakhi menginginkan seorang anak, aku pernah dengar saat ia sholat dan ia meminta pada Allah agar diberi keturunan."
"Dan tentu saja dari rahimmu!"
"Tapi aku tidak bisa memberikannya, Maryam. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk suamiku sebagai istri."
Sementara Maryam menggelengkan kepalanya.
'Bruk!
Tak lama kemudian Nasya terjatuh ke lantai membuat Maryam panik dan langsung menghubungi Fakhi.
***
Saat ini Nasya berada di rumah sakit, kondisinya begitu lemah bahkan ia sedang tidak sadarkan diri. Semua keluarga datang, mereka begitu mencemaskan Nasya. Bahkan Pipa yang dari Amerika pun langsung terbang ke Indonesia.
"Fakhi, kenapa kamu tidak bilang sama Mommy tentang kondisi Nasya?"
"Bahkan Fakhi saja baru tau tadi malam, Mom. Nasya merahasiakannya dari kita semua." Lirih Fakhi.
"Astaghfirullah," Sasa hampir terjatuh, untung saja ada Gus Sakhi yang cepat menangkapnya. Gus Sakhi langsung menaruh Sasa ke kursi, dan disana sudah ada Maryam, Sapi dan Kak Ali.
"Sasa, bangun! kau nggak boleh kaya gini. Aku mohon, bangun Sa!" Sapi juga ikut menangis.
"Sabar, Bu." Kak Ali menenangkan sang istri.
Sementara di tempat lain, Gus Sakhi mengajak putra sulungnya ke taman. Ia seperti tahu jika saat ini masih ada yang di rahasiakan oleh Fakhi.
"Apa kamu tidak ingin menceritakan apapun pada Daddy?"
"Dad!" Fakhi memeluk Gus Sakhi.
"Nak, walaupun kamu sudah dewasa kamu itu tetap putra Daddy. Kamu masih berhak menjadikan Daddy sebagai tempatmu bercerita."
"Dad, Nasya menyuruh Fakhi untuk menikah lagi."
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa dia melakukan itu?"