
"Mas temanin kamu makan, Mas gak mau istri Mas di lirik lagi sama laki-laki lain."
"Dih, lebay banget."
"Apa kamu tahu kejadian apa yang terjadi setelah kamu pergi tadi?"
"Enggak, dan gak mau tahu."
"Syurga jauh kalau kamu kaya gitu, mau?"
"Bisa naik pesawat."
Pletak!
"Aw!" Sasa meringis kesakitan saat dahi nya di sentil oleh Gus Sakhi.
"Sakit, Mas!"
"Boleh cemburu, tapi gak dengan cara ketus juga sama suami. Mas mau jelasin sesuatu tapi kamu malah ogah-ogahan buat dengarnya. Kapan masalah ini kelarnya kalau begitu?" Kini Gus Sakhi memasang wajah seriusnya.
Sasa merinding ketakutan saat melihat Gus Sakhi sudah seperti ingin menerkamnya saja.
"Sekarang mau kan dengarin, Mas?"
"Hm."
"Kenapa tadi kamu pergi? Hm? Kamu itu istri Mas dan yang harusnya pergi itu Bu Nita. Kamu harus bersikap tegas, Sayang. Mas bertanya seperti tadi itu buat melihat kalau Bu Nita itu jujur atau tidak. Kamu harus tahu kalau dia setiap hari selalu saja datang ke ruangan Mas dengan alasan yang berbeda-beda dan Mas sudah tahu itu. Tadi, kebetulan sekali kamu ada di ruangan, Mas fikir dengan adanya kamu di sana itu bisa Membuatnya berhenti dekatin Mas karena mas yakin kamu itu bisa. Masih ingat kan kejadian di rumah beberapa waktu lalu?" terang Gus Sakhi membuat Sasa berfikir sejenak. Dalam hati Sasa ia juga membenarkan ucapan suaminya tetapi dia juga merasa kesal karena suaminya tidak mempercayainya tadi di depan Bu Nita.
"Tapi kenapa Mas nggak percaya sama Sasa?"
"Siapa bilang Mas nggak percaya sama kamu? sebelum kamu jelasin juga mas sudah tahu yang sebenarnya. Tetapi mas hanya ingin dia keluar dengan sendirinya. Sayang, mulai saat ini mau kan terus di samping Mas di setiap cobaan datang?"
__ADS_1
Sasa berpikir kembali, tak lama kemudian dia pun mengangguk membuat Gus Sakhi tersenyum senang.
"Mas sedih kalau kamu ngomong kaya tadi, memangnya kamu mau cari suami lagi ya?"
"Iya, memangnya kenapa?" ucap Sasa dengan entengnya.
"Humaira ..." lirih Gus Sakhi.
"Pftttt hahahahah!" Sasa malah ketawa, dan dia menjelaskan pada Gus Sakhi kalau dia hanya bercanda saja. Semua itu demi rasa kesalnya pada Gus Sakhi.
πΌπΌπΌ
Sesuai janji Gus Sakhi, saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Abi dan Umi. Tak lupa pula mereka membawakan sedikit buah tangan, mereka juga ingin memberikan kabar baiknya melalui sebuah kado yang sudah dipersiapkan Sasa.
"Apa masih ada yang tertinggal?" tanya Gus Sakhi sambil menaruh tas yang berisi pakaian mereka.
"Kaya nya gak ada, Mas. Tapi nanti mampir di YZ bakery ya, Sasa mesan kue untuk Umi."
"Iya, cuma bolu pisang kok. Umi pasti suka, Mas."
"Kok kamu tahu kesukaan Umi?"
"Karena Sasa cantik." Jawabnya ngasal, ia tak mungkin memberitahukan pada suaminya kalau ia lumayan tahu bagaimana keluarga Gus Sakhi itu.
Apalagi dengan kesukaan mertuanya, dulu Gus Sakha sering memberitahukan semuanya pada Sasa. Haruskah dia katakan kalau semua itu yang memberitahunya adalah adik iparnya sendiri?.
Mungkin jika keadaannya hanya sebatas adik ipar saja itu gak masalah bagi Sasa, tetapi ini menyangkut masa lalu yang tak seharusnya digali lagi.
Gus Sakhi tersenyum, ia paham betul watak sang istri. Dia pun juga tahu kalau Sasa sudah sangat mengenali Umi nya, karena Gus Sakha lah yang memberitahukan semuanya.
Grep!
__ADS_1
"Mas, kok di peluk sih? kaget tahu!" ketus Sasa.
"Sengaja, biar kamu gak melamun lagi." Sahut Gus Sakhi pelan.
"Sudah dulu, Mas. Sasa mau cek kompor dulu, hidup atau nggak." kata Sasa membuat Gus Sakhi mengangguk patuh.
"Sekalian lihat colokan ya, Yank." Tambah Gus Sakhi membuat Sasa mengangguk
************************************************
... Minal Aidin wal Faidzin semuanya!!!...
...... Selamat Hari Raya Idul Fitri ......
... Bagi yang menjalankannya.......
... Salam toleransi βΊοΈ...
... Mohon maaf lahir dan batin ya....ππππ...
...... **Sorry up nya dikit dulu ya gaes,......
... Bagi THR nya dong ...
... Bunga kek, hati kek, kopi kek, ahhahaha...
...... othor gak tahu malu beud yaππππ......
... Bercanda, hehehe....
... Sampai jumpa besok, insya Allah.....
__ADS_1
...... byeeeeeπ€π€**......