
Nisa mengeluarkan semua isi perutnya lagi, baru ia bisa berhenti dan merasa lega.
Seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Nisa begitu lemas, ia duduk dikursi meja makan lagi, lalu menyeruput teh hangat yang disiapkan Mbok Iyem.
"Bu, saya telepon saja Pak Alfath ya? Biar Ibu bisa dibawa ke doker" ucap Mbok Iyem sangat khawatir
"Tidak usah Mbok, saya akan baikan setelah minum ini dan makan lagi. Mungkin ini hanya karena asam lambung ku naik" jawab Nisa karena takut mengganggu suaminya bekerja
"Lagian Mas Alfath pasti sedang bekerja, aku tidak ingin mengganggunya" lanjut Nisa menjelaskan
"Baik Bu kalau begitu. Saya buatkan makan siang saja kalau gitu ya Bu?" jawab Mbok Iyem
"Ibu mau di masakan apa?" tanya Mbok Iyem lagi
"Saya ingin soto apa saja, yang penting rempah-rempahnya berasa" jawab Nisa dengan sangat lemah
"Baik Bu" jawab Mbok Iyem dengan cepat
Mbok Iyem lalu menuju dapur untuk segera memasak, walau sebenarnya ia sangat khawatir melihat kondisi Nisa.
Nisa menempelkan pipinya di meja makan, terlihat ia begitu lemas. Mbok Iyem yang hendak memasak langsung tambah khawatir, lalu kembali menghampiri Nisa.
"Bu, istirahat dikamar saja yaaa" ucap Mbok Iyem sembari menepuk pundak Nisa perlahan
__ADS_1
Seketika Nisa tidak menjawab apapun, tidak ada gerakan tubuhnya sama sekali. Membuat Mbok Iyem semakin panik.
"Buuu... Bu Annisa????" ucap Mbok Iyem sangat cemas
Tetap tidak ada jawaban sama sekali dari Nisa, tangannya pun lemas tak berdaya. Matanya tertutup, bibirnya sangat pucat.
Mbok Iyem sangat panik, sampai ia bingung harus bagaimana. Ia tak pikir panjang, ia langsung menghubungi ambulan, tanpa memberitahu dulu Alfath.
10 menit kemudian Ambulan datang, dengan 2 orang perawat dan 1 orang suster.
Sembari menunggu ambulan datang, Mbok Iyem sudah memakaikan cadar Nisa, memang dengan posisi yang kurang pas, tapi tetap menutupi sebagian area wajahnya itu.
Kemudian dengan sigap, perawat dan suster langsung membawa Nisa ke dalam ambulan dan membawanya ke Rumah Sakit, begitu juga dengan Mbok Iyem ia terus menemani Nisa.
Sesampainya di rumah sakit, Nisa langsung dibawa masuk keruang UGD.
Mbok Iyem terpaksa menunggu diruang tunggu. Mbok Iyem terlihat begitu panik, ia berjalan kecil mondar mandir didepan pintu UGD.
"Maaf Bu, ibu ini kerabatnya pasien?" tanya seorang suster saat keluar dari dalam ruang UGD
"Saya asisten rumahtangganya sus" jawab Mbok Iyem dengan jujur
"Kalau Ibu tahu Informasi tentang pasien langsung ke administrasi"
__ADS_1
"Saya kurang tahu sus, saya masih baru" jawab Mbok Iyem lagi-lagi jujur
"Ya sudah kalau gitu hubungi suami dan keluarganya yang lain, segera yaaa" ucap Suster itu sembari meninggalkan Mbok Iyem dan pergi
Mbok Iyem dengan sangat panik, ia tak tahu no ponsel Alfath, juga tak mempunyai ponsel.
Mbok Iyem memaksakan diri untuk mendatangi tempat administrasi, walau ia sebenarnya tidak begitu tahu soal Nisa.
"Sus, saya mau urus data diri pasien yang dibawa keruang UGD barusan" ucap Mbok Iyem memaksakan diri
"Oh iya Bu, nama pasien nya siapa?" tanya Suster bagian administrasi
"Annisa Khumaira Rasyid" jawab Mbok Iyem sebenarnya ia ragu, benarkah nama yang ia sebutkan karena Mbok Iyem tidak pernah secara resmi tahu nama Nisa, ia hanya membaca sekilas di buku yang ada dirumah
"Baik Bu. Suaminya Tuan Alfath Muhammad Swain apakah betul?" ucap Suster itu lagi setelah menemukan data dari nama Nisa di komputernya
"Betul sus, betul" jawab Mbok Iyem sangat pasti, karena memang Mbok Iyem sangat hafal dengan nama Alfath
"Sus, apa ada no ponsel Pak Alfath di datanya?" tanya Mbok Iyem dengan begitu berharap
"Ada Bu, kenapa?" jawab suster dengan cepat
"Bisa suster tolong hubungi Pak Alfath, beri tahu bahwa istrinya sedang di ruang UGD" ucap Mbok Iyem dengan memohon
__ADS_1