
Sewaktu didapur Nisa dan Lia mengobrol sebentar.
"makasih ya mbak, jadi ngerepotin. Seharusnya tamu dijamu saja" ucap Nisa membuka obrolan
"tidak repot kok bu" jawab Lia dengan tersenyum dengan manis
Lia hanya menggunakan jilbab tidak seperti Nisa yang sampai bercadar. Lia masih menggunakan jilbab yang hanya menutupi kepalanya, seperti kebanyakan kalangan masih belum sepenuhnya.
"Ibu ini hebat ya, Pak Alfath sangat beruntung punya istri kayak Ibu" ucap Lia yang sudah mengamati pakaian Nisa
"kok gitu?" jawab Nisa langsung menghadapkan badannya ke Lia
"Ibu bisa menutup diri dengan menjaga agar tidak dilihat oleh yang bukan makhrom. Ibu juga sholihah" ucap Lia dengan kagum
"Ibu juga beruntung bisa menikah dengan Pak Alfath. Pak Alfath yang penampilannya memang tidak seperti santri tapi tidak pernah lalai dengan perintah agama, dan selalu berbagi pada sesama" lanjut Lia
"Alhamdulillah, saya juga sangat bersyukur sekali bisa berjodoh dengan Mas Alfath" jawab Nisa sembari tersenyum
__ADS_1
"Iya bu, banyak sekali wanita yang ingin dinikahi Pak Alfath dan sampai datang kekantor mencari-cari Pak Alfath. Banyaknya sih mereka menganggap Pak Alfath seperti lelaki biasa diluar sana karena penampilannya mungkin" jelas Lia menceritakan
Nisa hanya tertawa kecil. Lia dan Nisa langsung menghampiri Alfath dan Rio yang sudah menunggu dihalaman belakang lagi.
Waktu sudah memasuki dzuhur, Alfath mengajak semuanya untuk sholat berjama'ah di mushola rumahnya itu.
Alfath sebagai imam, dan yang lain sebagai ma'mumnya.
Setelah selesai, Rio dan Lia membahas lagi masalah pekerjaan, karena Alfath sedang ada project kerja yang sangat besar dengan salah satu kontruksi dari luar negri.
Tidak berapa lama Lia dan Nisa dibiarkan lagi mengobrol berdua karena Alfath sedang menunjukan pekerjaan pada Rio dilaptopnya.
"ya begitu bu, aku seperti orang yang mabuk perjalanan terus menerus. Mencium wangi tubuh suamiku saja aku mual, terus belum lagi banyak kepengen yang harus diikuti secepatnya juga" ucap Lia menjelaskan
Nisa mengangguk dan mencermati omongan Lia. Nisa juga mengingat kejadian waktu pertama kali ia datang ke Surabaya. Tapi Nisa masih belum ingin terlalu mengharapkan, karena memang sudah waktunya, sudah Allah izinkan ia pasti hamil dan memiliki anak dari suaminya itu.
Hari semakin siang, Rio dan Lia bergegas untuk kembali ke kantor lagi karena masih jam kerja. Alfath tidak jadi kekantor karena melihat keadaan Nisa yang masih mual-mual terus menerus.
__ADS_1
Nisa dan Alfath beristirahat dikamar mereka dilantai atas dan bermaksud untuk tidur siang.
Sementara dikantor, orang-orang sudah menunggu kedatangan Lia dan Rio. Semua orang penasaran dengan keadaan Alfath, mengapa mereka sampai dipanggil kerumah Alfath, karena sebelumnya tidak pernah melakukan itu karena Alfath selalu datang kekantor
Sesampainya Lia dan Rio, semua karyawan sudah menunggu di ruang resepsionis.
Mereka banyak mengajukan pertanyaan tentang Alfath dan Nisa istrinya.
"eeeh bagaimana keadaan Pak Alfath?" tanya Mira bagian resepsionis
"Pak Alfath sih baik-baik saja, sekarang Pak Alfath sudah tinggal bersama istrinya loooh" ucap Lia
"Iya, sekarang sibos sudah tidak boleh di idolakan kalian lagi para gadis" ucap Rio bercanda
"yeee kenapa?" ucap semua serempak
"Iya dong, kan sibos sudah menikah" jawab Rio dengan sebenarnya
__ADS_1
Dikantor semua wanita yang belum menikah memang mengagumi sosok bosnya. Karena Alfath seorang bos yang tidak pernah bersuara tinggi pada karyawannya, dan tidak pernah menyalahkan karyawan. Semua karyawannya selalu memanggil Alfath dengan sebutan "sibos" dibelakang Alfath, tanpa sepengetahuan Alfath.