Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 106~


__ADS_3

"Nanti setelah cairan infus yang ketiga ini habis kita periksa lagi ya bu, kalau udah baik semua bisa pulang" ucap Dokter memberi harapan baik


"Iya dok, terimakasih" jawab Nisa dan Alfath bersama


Setelah itu dokter pergi meninggalkan ruangan Nisa. Kini hanya ada Nisa dan Alfath.


"Mudah-mudahan bisa cepat pulang ya sayang..." ucap Alfath pada Nisa sembari duduk di samping bed Nisa


"Aaammiinnn. Iya mas, aku juga sudah tidak betah disini" jawab Nisa dengan cepat


Sementara itu di kantor, Rio masuk seperti biasanya. Lia sudah menunggu untuk survei tempat lokasi, ini adalah janji bersama Alfath juga. Tapi ternyata Alfath tidak mungkin akan datang.


Rio masuk keruangannya, tiba-tiba diikuti oleh Lia sekertaris Alfath yang sudah merasa cemas bosnya belum datang dan teman kerjanya baru saja datang.


"Kamu kok kesiangan sih, Rio?" tanya Lia sedikit ngomel sembari berjalan mengikuti langkah Rio, dibelakangnya


"Belum kesiangan kaliii, Liaaa..." jawab Rio sembari terus masuk keruangannya


"Kita kan mau survei ke tempat baru, perjalanan cukup jauh loh..." gerutu Lia


"Si Bos gimana nih?" lanjut Lia menanyakan Alfath


"Aku belum dapat kabar dari Pak Alfath, kemarin Bu Annisa masuk rumah sakit dan sekarang sedang di rawat" jawab Rio menjelaskan


"Astagfirullah... sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Lia pada Rio

__ADS_1


"pantas saja kemarin kalian pergi ninggalin kantor terburu-buru gitu" lanjut Lia mengingat kejadian kemarin


"Iya, Pak Alfath panik banget" jawab Rio


"Aku belum tahu sekarang gimana kondisi Bu Annisa. Biar aku hubungi dlu Pak Alfath yaaa" lanjut Rio berinisiatif


Alfath yang sedang duduk dibelakang Nisa sembari memeluk Nisa dari belakang, sedang memandangi keluar jendela bersama Nisa, sembari menghirup udara segar, tiba-tiba tersadar bahwa ponselnya berdering di saku celananya.


"Aku angkat telepon dulu yaaa sayang" ucap Alfath pada Nisa sembari mengelus puncak kepala Nisa


"Iya Mas" jawab Nisa cepat


Alfath kemudian berdiri dari duduknya, dan menerima panggilan masuk dari Rio.


"Halooo assalamu'alaikum..." jawab Alfath yang pertamakali menyapa


"Ini Pak, saya mau mengkonfirmasi. Hari ini kita ada jadwal untuk survei tempat baru" ucap Rio dibalik telepon


"Astagfirullah saya lupaaa" jawab Alfath dengan ekspresi tercengang


Nisa yang masih melihat keluar jendela tiba-tiba menoleh kearah suaminya


"Kalau kalian saja yang survei tanpa saya, bagaimana?" lanjut Alfath setelah berpikir


"Nanti saya hubungi dulu pihak yang bersangkutannya, ya Pak" jawab Rio tidak mau mengambil resiko

__ADS_1


Telepon itu sudah diputuskan. Alfath kembali duduk disamping Nisa.


"Mas ada kerjaan yaaaa?" tanya Nisa setelah tahu suaminya mematikan ponselnya


"Iya sayang" jawab Alfath singkat


"Kerjaan yang gak bisa ditinggal yaaa?" lanjut Nisa bertanya


"Gak apa-apa kok sayang" jawab Alfath meyakinkan


"Gak apa-apa Mas, kalau memang gak bisa ditinggal. Mas ke kantor aja, Nisa sudah baikan kok" ucap Nisa mengizinkan suaminya untuk pergi


"Mas mau menemani kamu sayang" jawab Alfath dengan mengecup kening istrinya itu


Tiba-tiba ponsel Alfath berbunyi, lagi-lagi Rio menghubungi Alfath.


"Bagaimana?" tanya Alfath langsung setelah menjawab salam Rio


"Bapak tetap harus ikut, karena pemilik ingin langsung keputusan. Begitu katanya" jawab Rio memberitahu


Seketika Alfath terdiam, ia bingung. Alfath tidak ingin meninggalkan istrinya yang sedang lemah begini, sementara proyek kerja ini juga janji sudah lama tidak mungkin untuk dibatalkan. Alfath mematikan sambungan ponselnya, tanpa jawaban pasti pada Rio karena ia masih bingung. Tiba-tiba pengingat diponselnya juga berdering, memberitahu agenda pekerjaan hari ini.


"Mas, Nisa sudah baik-baik saja kok..." ucap Nisa dengan lembut ketika melihat wajah suaminya berubah menjadi bingung, sembari balik memeluk Alfath


"Kamu yakin gak apa-apa sayang?" jawab Alfath

__ADS_1


"Iya Mas..." jawab Nisa cepat


Alfath masih saja ragu, apa ia harus tetap pergi atau tidak. Terus ia memandangi wajah istrinya yang juga menatap seraya meyakinkan suaminya itu.


__ADS_2