Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 143~


__ADS_3

Sungguh duka cita amat terasa dalam raut wajah Nisa. Rumah yang dulu ia rasa ramai, kini berubah menjadi sepi sunyi terasa.


Nisa menjalani masa idahnya dirumah yang ia tinggali dari awal pernikahannya bersama suami tercinta, ia merasa semakin tidak sanggup untuk tinggal lama dirumah penuh kenangan itu, setiap kali mata memandang disetiap sudutnya, terbayang sudah sosok Alfath, suami tercinta. Semakin berat rasanya untuk melupakan.


Hari ini adalah tepat, hari terakhir Nisa menghabiskan masa idahnya. Ia terbangun setelah sholat subuh dan kembali mengeloni sang buah hati, ia membuka jendela besar hingga masuk cahaya matahari kedalam kamar terakhir yang ia tempati bersama sang suami. Nisa berdiam sejenak dijendela yang kini ia buka, dan menghirup aroma segar pagi hari.


"Aaaahh..." suara Nisa menghembuskan nafas beratnya


"Mas, aku tidak masalah kamu tinggalkan waktu itu. Yang berat adalah menjalani hari-hariku selanjutnya dan selamanya tanpa kamu.." ucap Nisa dengan lirih sembari meneteskan air matanya


Yaaa kepergian sang suami yang ia nikahi belum lama itu, suami yang amat ia cintai, bukanlah perihal mudah untuk Nisa. Nisa hanya wanita biasa, ini adalah kali pertamanya yang ia rasa begitu berat dalam hidupnya. Air mata tak kuasa ia tahan, selalu membasahi pipinya, dikala hati merasa kesepian yang luar biasa.


"Mas, jangan berharap aku menjadi wanita kuat tanpa kamu. Hatiku tetap lemah ditinggalkan kamu, tapi jiwaku harus berjuang kuat demi Arkana dan kamu" ucap Nisa lagi-lagi mengungkapkan isi hatinya, sembari terus memandangi keluar jendela


Nisa kemudian duduk disebuah meja tempat sang suami biasa bekerja dari rumah, walau seringnya Alfath duduk dan bekerja dari sofa kamar. Nisa menulis dalam sebuah kertas putih kosong yang ada dimeja itu. Yaaa.. itu buku catatan harian pekerjaan Alfath yang dulu selalu sang suami bawa dan tulis.


Nisa menulis dengan air mata yang terus mengalir, semua tentang perasaannya.


Selama menjalani masa idah, Nisa memang tidak terlalu kesepian, karena ada Umma, Umi, Mbok Iyem, juga kerabat dari sang suami yang masih sering mengunjungi rumah. Seperti Rio, Rio dan Istri jadi lebih sering datang kerumah, walau hanya sekedar membahas pekerjaan, begitu juga dengan Lia sang sekertaris, ia sering datang kerumah sekedar untuk mengunjungi Nisa dengan membawakan makanan camilan yang dirasa akan Nisa sukai.


Setelah menulis, Nisa keluar dari kamarnya dengan menggendong sang buah hati. Terlihat Umma dan Umi sedang sibuk didapur membuat makanan, yang sebagian sudah siap diatas meja makan.


"Nis.. Ayoo kita sarapan" ajak Umi sembari menata ayam goreng


"Iya Umi.. wangi sekali masakannya.." ucap Nisa sedikit berbasa-basi


"Iya.." jawab Umi dengan senyuman


"Cucu Umi sudah bangun..." ucap Umi menyapa Baby Arkana


"Sudah Umi.." jawab Nisa seakan-akan Arkana yang menjawab

__ADS_1


"Sini biar Nenek suapi sarapan Arkana yaa.." ucap Umma sembari membawa semangkuk bubur salmon yang telah ia buat khusus untuk cucunya itu


Arkana sekarang menginjak usia 6 bulan, ia sudah diberi makan pendamping asi. Itu tandanya, Umi dan Umma juga sudah tinggal lama dirumah Nisa untuk menemani Nisa selama masa idahnya. Sementara Papa bolak-balik ke Inggris karena sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah sarapan usai, Nisa, Umi dan Umma duduk dihalaman belakang. Umma sembari menggendong cucunya itu.


"Umi.. hari ini adalah hari terakhir masa idah Nisa.." ucap Nisa tiba-tiba


"Seperti yang Nisa katakan diawal, Nisa ingin kembali kerumah orangtua Nisa, bersama Arkana.." lanjut Nisa


"Iya sayang, silahkan saja.. Insya Allah, Umi akan lebih sering mengunjungi kalian nanti yaaa.." jawab Umi dengan lembut


"Iya Umi makasih yaaa.." ucap Nisa


"Iya Umi. Mungkin memang bukan Nisa tidak mau untuk tinggal disini, tapi rumah ini penuh dengan kenangan.." ucap Umma menimpali


"Iya Umma, saya sangat mengerti.." jawab Umi


"Jadi kapan kalian akan kembali ke ponpes?" tanya Umi tiba-tiba


"Tunggu Papa untuk datang kemari dulu ya, insya allah Papa juga besok akan kemari, biar kami yang antarkan.." ucap Umi


------------------------


Hari ini adalah hari dimana Nisa sudah mempersiapkan barang-barangnya yang akan dibawa untuk pulang kembali ke rumah orangtuanya. Nisa hanya membawa pakaian dirinya, dan perlengkapan anaknya itu.


Nisa berpamitan dengan Rio dan Lia melalui pesan WhatsApp yang ia kirimkan. Tetap perusahaan akan berjalan, walau Nisa jauh, semua akan Nisa pantau dan bekerja dari rumah seperti yang suaminya lakukan sewaktu menjaga dirinya.


Papa yang juga datang untuk mengantar Nisa kerumah orangtuanya, sudah siap untuk menyetir mobil milik Almarhum anaknya itu.


"Papa, Umi... walaupun Nisa tinggal dirumah orangtua, jika ke Indonesia dan ke Surabaya datanglah untuk tinggal dirumah ini. Rumah ini akan tetap milik kami semua.." ucap Nisa pada Papa dan Umi, sembari memberikan 1 kunci cadangan pada Papa

__ADS_1


"Iya sayang, insya Allah.." jawab Papa sembari menerima kunci itu


"Nisa juga pasti akan kembali kesini, walau entah kapan. Tapi pasti akan kembali kesini, demi Arkana.." ucap Nisa sembari memandangi semua sudut rumahnya


Sebelum kepulangan Nisa kerumah orangtuanya, Nisa menghampiri semua isi rumah ini, masuk ke kamar-kamar dan menguncinya. Ia masuk kedalam kamar dimana pertama kali ia tidur bersama suaminya, yaitu kamar lantai atas, lemari yang kini sudah kosong pun ia lihati. Air matanya menetes dan semakin deras, ketika ia membuka ruang kerja juga ruang olahraga milik suaminya itu.


Sebelum turun kebawah, ia mencoba menghapus air matanya agar semua orang tak melihatnya.


Semua sudah siap, semua barang-barangpun sudah masuk dalam mobil. Seketika itupun, Mbok Iyem berhenti bekerja, dan juga meninggalkan rumah itu.


"Mbok.. terimakasih banyak atas semua jasa Mbok untuk kami semua. Maafkan saya juga suami saya bila mana selama Mbok bekerja untuk kami, banyak kesalahan yang tak kami rasa.." ucap Nisa sembari memeluk Mbok Iyem


"Terimakasih banyak juga ya Bu.. Tidak ada salah apapun yang Ibu dan Bapak lakukan pada Mbok.. Mbok sangat bersyukur bisa bekerja dengan orang yang benar-benar baik.. Sekali lagi terimakasih banyak Bu..." jawab Mbok Iyem sembari membalas pelukan Nisa


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya ya Mbok.." ucap Nisa sembari melepaskan pelukan hangat itu


"Iya Bu.. Insya Allah.. Ibu juga yaa kalau datang kemari, hubungi Mbok, biar Mbok yang bantu-bantu untuk Ibu lagi.. Ibu dan Den Arkana sehat-sehat yaaa.." ucap Mbok Iyem dengan haru, dan air mata yang tak terasa membasahi pipinya.


--------------------


Nisa kembali ke ponpes. Ia disambut oleh seluruh warga ponpes, dan juga santri yang sudah berjajar untuk menyambut kedatangan mereka semua.


Warga sekitar juga sudah tahu kabar kepergian Alfath, sang suami dari Nisa yang mereka sebut juga sebagai Ustadzah itu. Banyak warga yang menyambut sembari mengucapkan bela sungkawanya, membuat Nisa begitu terharu.


Umi dan Papa sudah kembali untuk pulang ke Malaysia terlebih dulu. Nisa, Umma, Arkana dan Aba masih berada di ruangan aula tempat menyambut tadi. Nisa tertunduk dalam lahunan ayahnya itu.


"Ndoo.. Aba ngerti rasa sedih mu.. Aba faham rasa duka mu.. Ingat semua yang bernyawa akan kembali pada Rab-Nya.." ucap Aba sembari membelai kepala putrinya itu


"Jangan berlarut dalam kesedihan mu.. Jika ikhlas, lupakan kesedihan mu, dan bangkitlah.." lanjut Aba yang juga haru melihat putri bungsunya kini sudah menjadi janda


"Abaaa...." ucap Nisa dengan tangis yang semakin menjadi-jadi, sembari memeluk erat tubuh ayahnya itu

__ADS_1


"Ndooo.. kuatlah demi Arkana, si jagoan.." ucap Aba sembari memegang wajah Nisa dan menatapnya


"Aba yakin, Nisa adalah wanita kuat. Wanita hebat pilihan Allah.." lanjut Aba dengan senyum dalam tangisnya


__ADS_2