
Akhirnya semua masakan sudah siap. Nisa sudah menghidangkannya satu persatu ke meja makan, tepat dimana Nenek dan Alfath berada, dan ternyata sedang asik ngobrol sembari tertawa kecil.
"Nenek mau makan sekarang? Apa mau tunggu dulu acarnya?" ucap Nisa menawarkan
"Kamu siapkan saja dulu untuk suami mu, Nenek gampang saja" jawab Nenek
"Iya Nek, Nisa ambilkan juga yaaa" ucap Nisa setelah menuangkan nasi diatas piring Alfath
Kali ini Ma'ci Laila dan Umi memasak Nasi Kebuli khas Timur Tengah, yang disukai oleh Alfath, dengan ayam panggang.
"Nisa ambilkan ya Nek" ucap Nisa sembari mengambil piring yang ada dihadapan Nenek.
Nenek hanya tersenyum, cucu menantunya itu begitu perhatian sekali. Nisa juga menuangkan minum kesemua gelas, sebelum ia duduk untuk makan disamping Alfath.
Terlihat Nenek kesusahan untuk memotong Ayam panggang yang ada dipiringnya itu, karena kini tenaganya sudah melemah. Tak jarang ia makanpun selalu disuapi oleh Ma'ci Laila jika tak ada yang lain.
"Nek, biar Nisa bantu yaaa" ucap Nisa menawarkan bantuan
"Boleh sayang" jawab Nenek sangat senang
Nisa lalu mengambil sendok yang ada ditangan Nenek, dan memotongkan Ayam panggang itu lalu menyuapi Nenek dengan penuh kelembutan.
"Sudah, sudah. Cukup" ucap Nenek setelah menelan suapan dari Nisa
"Kamu juga harus makan, ayo makanlah makanan mu" lanjut Nenek
"Tidak apa Nek, Nisa suapi dulu Nenek yaaa. Nanti Nisa makan" jawab Nisa sangat lembut
__ADS_1
Seketika Umi dan Ma'ci Laila menghampiri ke meja makan, sembari membawa acar juga buah potong.
"Iya Nis, kamu makan saja" ucap Ma'ci Laila sembari menaruh buah potong dimeja
"Biar Umi yang suapi Nenek. Kamu makan saja" ucap Umi juga sembari mengambil piring Nenek
Akhirnya semua melahap makanan sampai habis. Begitu juga dengan Alfath yang sangat menyukainya, hingga menambah porsi makannya.
Malam semakin larut, semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing setelah membereskan meja makan.
Sewaktu dikamar setelah sholat isya Alfath dan Nisa kembali untuk mengemasi barang-barang mereka.
"Mas, memangnya sudah dapatkan tiket untuk kepulangan kita?" tanya Nisa sembari mengepak baju Alfath
"Sudah sayang, besok kita berangkat ke Bandara jam 9 pagi yaaa" jawab Alfath memberitahu
"Oh iya, kalau oleh-oleh ini bisa dibawa semua?" tanya Nisa lagi
"bisa kok sayang. Ini yang terakhir" jawab Alfath sembari membereskan oleh-oleh yang akan dibawa pulang besok
Waktu terus berganti, malam menjadi pagi. Nisa dan Alfath sudah bersiap, dan menuruni anak tangga hendak kedapur untuk ikut sarapan pagi. Seperti biasa Nisa membantu menyiapkan semuanya, sementara Alfath mencari supir untuk menurunkan semua koper yang hendak mereka bawa dan memasukannya kedalam bagasi mobil.
Semua sarapan seperti biasa. Kali ini Nenek terlihat sangat sedih, karena akan ditinggal pulang oleh cucunya itu.
"Baik-baiklah kalian disana. Cepat kembali untuk mengunjungi Nenek yaaa" ucap Nenek sendu setelah menghabiskan sarapannya
"Insya Allah Nek, kami pasti datang kembali" ucap Alfath
__ADS_1
"Nenek sehat terus yaa, doakan kami juga agar selalu sehat, agar bisa kembali kesini" ucap Nisa sembari menggenggam tangan Nenek
Nenek hanya mengangguk, tak tahan lagi menahan air matanya yang kini mengalir. Tapi berusaha untuk tegar depan cucunya itu.
Alfath seketika langsung memeluk Nenek, dan menghapus air matanya.
"Sudah-sudah, Nenek nanti tambah sedih" ucap Nenek sembari melepaskan pelukan Alfath
"Alfath pasti datang kembali ya Nek" ucap Alfath lagi meyakinkan Neneknya itu
"Sudah berangkatlah, hati-hati yaa" ucap Nenek yang kini sudah menghapus air matanya
Nisa dan Alfath lalu meninggalkan rumah Nenek, dan di antar oleh supir juga Umi ke Bandara. Sesampainya di Bandara supir membantu Alfath untuk membawakan koper, sementara Nisa berjalan bergandengan dengan ibu mertuanya itu.
"Nak, semoga cepat dapat momongan yaaa. Kamunya yang sehat terus" ucap Umi sembari mengelus perut Nisa
"Aaammiinnn. Umi doakan terus yaaa" jawab Nisa penuh harap
Pesawat untuk keberangkatan Kuala Lumpur - Surabaya ternyata sudah siap. Nisa dan Alfath kini berpamitan pada Umi. Alfath memeluk Umi dengan sangat erat.
"Umi, sampai jumpa lagi. Alfath selalu merindukan Umi, sehat sehalu" ucap Alfath menggunakan bahasa Inggris, sembari mencium pipi Umi dan tangannya berkali-kali
"Iya sayang, doa ku selalu menyertai kalian" jawab Umi sembari menahan air matanya
"Rasanya ingin setiap waktu bersama mu, seperti masa kecil dulu" ucap Alfath sembari menahan air matanya yang dengan cepat ia usap menggunakan ibu jarinya
Umi sangat merasa heran pada anaknya itu, baru kali ini melihat Alfath sebegitu sedihnya harus berpisah dengan dirinya. Sering sekali mereka berpisah karena di Bandara seperti ini, karena harus pulang ke tempatnya masing-masing, tapi baru kali ini Umi benar-benar melihat putranya seperti itu apa lagi sampai berkata ingin seperti masa kecilnya.
__ADS_1
Nisa tidak merasa aneh, hanya menganggapnya wajar, dan mengira-ngira bahwa suaminya masih sangat rindu pada ibunya.