Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 78~


__ADS_3

Makanan akhirnya sudah siap. Nisa yang dibantu Alfath untuk menyiapkan semuanya dimeja makanpun dengan cepat menyelesaikan semuanya. Laila terlebih dulu melihat ke meja makan, karena sebenarnya ia ingin membantu tapi semua sudah selesai. Laila tinggal memanggil Umi dan juga Nenek untuk makan bersama.


"Mak, makanan sudah siap. Sangat cantik" ucap Laila memberitahu pada ibunya itu


"Oh ya?" jawab Nenek dengan cepat karena penasaran


"Ayoo bawa Mak kesan, sudah lapar nih perut. Bau masakannya harum" lanjut Nenek


"Mari, Mak" ucap Umi lembut


Nisa masih menyiapkan air minum untuk semua di samping piring masing-masing. Sementara Alfath sudah duduk dikursi tak sabar ingin menyantap, kelihatan sangat lapar.


"Nenek mari makan" ucap Alfath


Nenek hanya mengangguk sembari terus memperhatikan makanan yang ada dimeja.


Nisa dengan sigap membantu Umi mendorong Nenek tepat didepan piringnya.


"Umi silahkan duduk" ucap Nisa lembut


"Biar Nisa ambilkan untuk Nenek yaaa" ucap Nisa juga pada Nenek


"Boleh" jawab Nenek dengan tak sabar


"Masakan ini wangi harum" ucap Ma'ci Laila


"Hehe iya Ma'ci" ucap Nisa


"Maaf ya masaknya hanya begini, hanya ini yang bisa Nisa masak" lanjut Nisa pada semua

__ADS_1


"Ini saja sudah enak" jawab Ma'ci Laila dengan cepat


"seperti ini saja sudah seperti makan direstoran. Kalah pasti Jhon juga, Sar" ucap Nenek menggoda pada Umi


"Nenek bisa aja" jawab Nisa malu


Alfath yang sudah terbiasa dengan masakan istrinya, memang selalu nambah porsi ketika makan masakan istrinya itu, karena memang masakan Nisa sangat enak dan cocok untuk dilidah Alfath. Kali ini juga begitu, Nenek, Ma'ci Laila juga Umi sangat ketagihan, Nenek sampai nambah 2 porsi makannya. Tak biasanya Nenek begitu, umurnya yang sudah lanjut membuat porsi makannyapun berkurang, tapi kali ini berbeda, Nenek menambah porsi makannya.


"Ini ayam kecap sedap sekali" ucap Nenek memuji


"Alhamdulillah" jawab Nisa bersyukur


Semua makanan diatas meja habis tak tersisa, Umi dan Alfath yang juga sangat lapar memang menambah porsi makannya, begitu juga dengan Ma'ci Laila yang sangat suka dengan masakan Nisa, melahap habis semuanya.


Nisa lalu membereskan kembali meja makan itu, dibantu oleh Ma'ci Laila, Ma'ci lalu lanjut mencuci semua piring itu. Sementara Nisa dipersilahkan untuk duduk kembali dimeja makan bersama Nenek dan Umi untuk sekedar berbincang-bincang.


"Bagaimana apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Nenek penasaran


"Kemarin sih sudah periksa tapi belum positif, masih darah aja gitu. Sekarang masih disuruh minum susu asam folat saja" jawab Alfath menjelaskan


"Mudah-mudahan secepatnya ya" ucap Nenek dengan Umi berbarengan


Nisa dan Alfath hanya mengaminkan ucapan itu, lalu Alfath mengajak Nisa untuk berkeliling dikebun milik Nenek, tepatnya dibelakang rumah Nenek ada lahan yang begitu luas, ditanami beberapa jenis sayuran, buah-buahan dan bawang. Tempat yang begitu asri sangatlah sejuk, disana masih banyak karyawan Nenek yang bekerja sekedar untuk menyiram tanaman dan memberi pupuk. Alfath menyapa beberapa dari karyawan Nenek, karena banyak dari mereka mengenal Alfath sedari kecil.


"Tuan Alfath, bagaimana kabarnya?" tanya seorang Ibu separuh baya seumuran dengan Umi


"Alhamdulillah Baik, Ma'ci" jawab Alfath dengan ramah


Lalu Alfath dan Nisa diajak untuk melihat bangunan yang digunakan untuk pembibitan, seperti rumah kaca hanya saja tidak begitu besar. Alfath lalu melihat gudang penyimpanan pupuk, tempat itu memang sangat bau menyengat, karena disana menyimpan pupuk kandang dari kotoran hewan, membuat Nisa sangat mual.

__ADS_1


"Oooeeekkk" Nisa tiba-tiba seperti orang yang ingin muntah, lalu berlari keluar gudang.


"Sayang kamu kenapa? Disini sangat bau ya?" ucap Alfath khawatir


"Iya mas, Nisa tunggu diluar saja ya" jawab Nisa dengan cepat


"Baiklah, Mas ingin lihat dulu pembuatan kompos" ucap Alfath


Karena memang digudang pupuk ada tempat untuk pembuatan kompos alami dari bahan-bahan sisa sayuran dan lain-lain.


Nisa menunggu diluar, menjauhi pintu masuk gudang yang cukup besar itu.


"Nyonya mau minum?" ucap seorang karyawan yang tadi menyapa Alfath


"Terimakasih" jawab Nisa sembari mengambil air mineral gelas yang diberikan ibu tadi


"Sama-sama. Nyonya ini istrinya Tuan Alfath?" tanyanya lagi penasaran


"Iya, bu" jawab Nisa setelah meminum air mineral tadi


"Masya Allah beruntung sekali, Nyonya ini menikahi Tuan Alfath yang sangat dermawan" ucapnya dengan kagum


"Alhamdulillah, Bu" jawab Nisa cepat


"Tuan Alfath itu sifatnya sama seperti Alm kakeknya, Alm. H. Supriyadi" ucap ibu itu memberitahu


"Oh ya? bagaimana?" tanya Nisa penasaran


"Iya, Nyonya. Sekarang yang melanjutkan semua kebaikan Alm. H. Supriyadi adalah Tuan Alfath" jawabnya tanpa ragu

__ADS_1


"Semua warga di dusun yang kekurangan dibantu sekali oleh Tuan Alfath, bahkan pembagian sembako tak pernah terlupakan, tiap tahunnya selalu diadakan pada kami rakyat kecil begini" lanjutnya menceritakan


Nisa mendengarnya sangat kagum, tak percaya. Lagi-lagi ia mendengar kebaikan yang diutarakan orang lain yang baru ia kenal tentang suaminya itu, selama berjalannya pernikahan Nisa belum pernah mendengar keburukan Alfath dari siapapun, selalu tentang kebaikan yang ia dengar.


__ADS_2