
Alfath dengan cepat membawa masuk Nisa kedalam mobil miliknya, dengan rasa cemas yang luar biasa Alfath sampai lupa tidak memberi kabar pada keluarganya yang sedang melaksanakan acara yang sangat bahagia itu.
Nisa masih dengan rasa sakit yang amat sakit, air matanya terus berderai, mulutnya terus berdzikir yang tak henti-hentinya ia lantunkan. Alfath tak tega melihat istrinya yang kesakitan seperti itu, ia selalu berusaha menenangkan, sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat.
"Sayaaanggg... tahan sebentar ya..." ucap Alfath sembari menoleh kearah Nisa, lalu kembali fokus dengan jalanan.
Nisa tidak menjawab, ia terus menyebut asma Allah tak henti-hentinya. Rasa sakit yang luar biasa baru ia rasakan sekarang saat kehamilan trimester 3, ia takut kalau anaknya harus lahir dalam keadaan prematur, lahir sebelum waktunya.
Sementara diruang makan hotel dalam acara itu tiba-tiba Umi menyadari bahwa Nisa tak kunjung datang kembali, Alfath juga tidak ada. Umi menjadi cemas, hatinya gundah. Tapi Umi tidak ingin memperlihatkan kecemasan itu pada Shaina yang sedang berbahagia juga keluarga calon suami Shaina. Umi membuka ponselnya secara diam-diam, agar semua tidak menyadari. Umi mengirim pesan WA pada Nisa, juga Alfath.
"Nak Nisa, apa baik-baik saja?" pesan Umi pada Nisa
Nisa tak kunjung membaca pesan Umi, apa lagi membalasnya. Umi semakin cemas, lalu Umi memutuskan untuk mengirim pesan juga pada Alfath.
"Al, are you ok? Where are you?.." pesan yang Umi kirim ke nomor ponsel Alfath, anaknya itu
Alfath yang juga sama tak kunjung membalas pesan Umi, membaca pesannyapun tidak sama sekali. Semakin cemaslah Umi, hatinya begitu tak karuan rasanya. Umi berniat untuk menyusul Nisa ke toilet.
"Shaina, Umi ke toilet dulu yaaa..." ucap Umi berbisik ditelinga Shaina
__ADS_1
"Iya Umi, hati-hati yaaa..." jawab Shaina dengan rasa tidak curiga sama sekali
Umi keluar melangkahkan kakinya dengan cepat, hendak ke toilet. Umi berjalan sembari menengok kiri kanan, hendak melihat barangkali Nisa dan Alfath ada di salah satu sudut hotel itu. Tak Umi temukan keberadaan Nisa, hingga ia sampai di pintu toilet. Toilet itu terlihat hanya ada satu pintu yang terkunci seperti ada orang, Umi menyangka itu Nisa.
"Nak Nisa...." panggil Umi dengan lembut
Tapi tak ada jawaban, Umi semakin panik. Tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam toilet yang tertutup itu, dan ternyata bukan Nisa.
Umi kembali keluar toilet, dan ada seorang cleaning service.
"Permisi Mbak, apa anda lihat seorang wanita bercadar dengan dress berwarna hijau muda, dan seorang pria menggunakan jas?" tanya Umi pada cleaning service yang sedang membawa kain lap dan sapu ditangannya itu
"Wanita menggunakan cadar yaaa...." ucapnya dengan sangat hati-hati
Umi yang mendengar itu langsung sangat cemas, perasaannya tak karuan. Umi menutup mulutnya, tak percaya.
"Eh tapi wanita itu sepertinya sedang hamil besar, apa wanita yang Ibu maksud juga sedang hamil juga?" tiba-tiba lanjut seorang cleaning service itu ingin memastikan
"Iya betul, Mbak. Mungkin ini anak dan menantu saya.." jawab Umi dengan suara begitu lirihnya
__ADS_1
Dengan cepat Umi mencoba menghubungi ponsel Alfath.
Sementara Alfath dan Nisa baru saja sampai diklinik terdekat dari hotel itu, klinik yang cukup besar dan ada fasilitas UGD nya itu jadi pilihan Alfath. Nisa langsung dibawa masuk oleh seorang suster kedalam UGD untuk diperiksa oleh dokter. Alfath yang menunggu diluar ruangan itu dengan tak sadar meneteskan air matanya sembari duduk dan menopang wajahnya dengan kedua tangannya itu. Ponselnya yang terus berdering menyadarkannya, dilihat panggilan itu dari Umi.
"Umiii...." ucap Alfath semakin deraslah air matanya
"Astagfirullah, kamu kenapa Al? Ada apa?" tanya Umi bertubi-tubi karena semakin merasa cemas ketika mendengar suara anaknya seperti menangis
"Nisa, Umi.... Nisa..." ucap Alfath seperti menahan tangisnya
"Istri dan anak Alfath, Umi....." lanjut Alfath dengan suara tangis semakin jelas, sembaru sesegukan itu
"Ya allah Al, ada apa? Kenapa Nisa?" tanya Umi semakin cemas
"Perut Nisa sakit, dan sekarang sedang ditangani di UGD" jawab Alfath tertahan-tahan, sembari jelas suara sesegukannya
"Astagfirullah... kok bisa? Sekarang kalian di Rumah Sakit mana, biar Umi dan Papa kesana?" ucap Umi tak sabar
"Umi tidak perlu kesini dulu, selesaikan saja acara Shaina. Setelah selesai barulah kemari" Jawab Alfath setelah menenangkan dirinya sendiri
__ADS_1
"Jangan biarkan acara Shaina gara-gara ini. Doakan Nisa juga calon anak Al ya Umi..." lanjut Alfath dengan suara begitu lirih
Umi sangat mengerti maksud Alfath, Umi lalu kembali keruangan makan dihotel itu, karena takut semua jadi cemas.