
Kehamilan Nisa kini memasuki usia 9 bulan, perut yang semakin buncit, rasanyapun semakin berat.
Nisa dan Alfath kini semakin sibuk mempersiapkan untuk kelahiran anak pertamanya. Kedua orangtua Alfath yang juga semakin tak sabar, kini belum kembali ke Inggris karena hari pernikahan Shaina sudah semakin dekat.
Siang hari didalam rumah Alfath, tepatnya diruang keluarga. Alfath, Nisa juga sedang berkumpul dengan Umi, Papa juga Shaina.
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu Shaina?" tanya Alfath begitu perhatian pada adiknya itu
"Sudah selesai Kak.." jawab Shaina
"Tinggal lihat saja nanti nyatanya bagaimana hehe" lanjut Shaina sembari tertawa
Semua mengangguk mengiyakan ucapan Shaina, sembari tersenyum. Pernikahan Shaina yang tinggal 2 hari lagi itu membuat keluarga ini semakin sibuk, tidak terkecuali Alfath juga Nisa. Moment pernikahan Shaina ini juga mengundang keluarga Nisa, sebenarnya seluruh keluarganya, hanya saja yang bisa hadir adalah Aba dan Umma.
Sengaja hari pernikahan itu jatuh saat Nisa menginjak kehamilan 9 bulan, agar keluarga Nisa juga sekalian melihat kelahiran keluarga baru mereka.
Ini adalah hari -1 pernikahan Shaina. Keluarga Nisa Umma dan Aba sudah tiba di Surabaya, dan tinggal bersama dirumah Alfath juga Nisa. Karena Papa, Umi juga Shaina menginap dihotel, dimana tempat acara pernikahan mereka akan dilaksanakan, untuk mengecek langsung segala persiapannya.
Nisa yang begitu senang karena ada Umma juga Aba, orangtua yang begitu ia rindukan selama ini kini ada dirumahnya. Usaha Alfath yang menyenangkan kedua mertuanya itu ketika dirumahnya begitu terlihat jelas.
Ini adalah waktu makan malam, Nisa dan Alfath berkumpul dengan kedua orangtua Nisa untuk melaksanakan makan malam bersama setelah sholat magrib berjama'ah tadi.
__ADS_1
"Nis, kamu harus makan yang banyak.." ucap Aba begitu perhatian pada Nisa
"Iya Aba, Nisa selalu banyak makan kok hehe" jawab Nisa dengan sedikit candaan membuat semua orang yang ada diruang makan itu tertawa.
Nisa sangat senang dengan kehadiran Umma dan Aba, banyak sekali yang ia ceritakan pada Umma dan Aba tentang kehamilannya. Tak terlupa kejadian kemarin saat Nisa terpeleset dan membuat perutnya kontraksi hebat itu.
"Masya Allah Nak.." ucap Umma mendengar cerita Nisa
"Umma bangga sama kamu. Kamu wanita kuat, sungguh-sungguh perjuangan itu belum tentu bisa dilakukan oleh semua wanita sayang..." lanjut Umma sembari mengelus kepala Nisa dan mencium puncak kepala anaknya itu
"Kamu adalah wanita kuat pilihan Allah ndo.." ucap Aba berdecak kagum
Umma sebenarnya begitu terharu mendengar cerita itu dari Alfath juga Nisa. Umma dan Aba begitu tak menyangka, kehamilan putri bungsunya itu mengalami banyak sekali cobaan yang luar biasa, karena kakak-kakak Nisa yang lain sebelumnya pernah hamil tapi tidak sampai mengalami hal serupa dengan Nisa.
"Nisa benar-benar berjuang sebagai ibu. Padahal kala itu Alfath sudah sangat lemah, dan pasrah pada Allah" lanjut Alfath dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya
"Nak Alfath harus berterimakasih pada Nisa istrimu.." ucap Aba sembari menepuk pundak Alfath
"Dan kalian adalah pasangan yang sangat luar biasa karena bisa saling mempertahankan dan menguatkan satu sama lain.." lanjut Aba dengan haru
-------------------------
__ADS_1
Hari ini adalah hari pernikahan Shaina, hotel yang sudah terlihat penuh dengan tamu undangan yaitu keluarga dan para kerabat dekat dari kedua belah pihak.
Alfath menjadi saksi akan pernikahan adiknya itu, dan duduk didepan tempat Akad Nikah dilangsungkan. Sementara Nisa duduk bersama kedua orangtuanya.
Semua anggota keluarga menggunakan baju senada berwana pink peach, terlihat acara yang begitu sederhana ini sangat elegan oleh warna seperti itu.
Acara Akad telah selesai, semua sahabat dekat Shaina terlebih dulu memberi selamat pada Shaina di meja akad, dengan begitu gembiranya mereka saling bersalaman berpelukan dengan sang pengantin wanita.
Sahabat Shaina ada 2 orang, keduanya adalah wanita, dan berbeda-beda warga negara.
Setelah keduanya memberi selamat pada Shaina, seorang sahabat itu melihat kearah Alfath.
"Halooo..." sapanya sembari menyodorkan tangannya hendak bersalaman
"Haloo.." jawab Alfath sembari mengangkat tangannya hendak menerima salamnya tapi dengan jarak tak bersentuhan
Wanita itu begitu senang melihat dan bertemu dengan Alfath lagi.
"Senang rasanya bisa bertemu dengan mu lagi.." ucapnya sedikit berbisik dengan mendekatkan tubuhnya karena ruangan yang begitu berisik
Alfath jelas terlihat begitu risih karena ia yang sudah mempunyai istri dan akan memiliki anak, sudah bukan lagi pria single tentunya, tentunya Alfath memikirkan perasaan istrinya.
__ADS_1
"Iya, maaf saya tinggal dulu..." ucap Alfath lalu pergi berlalu meninggalkan wanita itu
Alfath langsung menghampiri Nisa yang sedang duduk bersama kedua mertuanya itu Umma juga Aba. Sementara Umi dan Papa sedang berada dipelaminan menemani Shaina.