
Umi yang merasa penasaran langsung menghampiri putranya itu.
Alfath yang berada di rerumputan dan menjauh dari teras halaman belakang, jelas seperti tak ingin didengar oleh semuanya.
"Nak, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Umi dengan lembut di belakang Alfath
"Eh Umi." jawab Alfath setelah mematikan ponselnya dengan terkejut melihat Umi sudah berada dibelakangnya
"Tidak ada masalah Umi. Alfath menghubungi keluarga Nisa" jawab Alfath jujur sembari clingak-clinguk takut Nisa dengar
"Memangnya ada apa dengan keluarga Nisa? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Umi bertubi-tubi karena penasaran
"Tidak Umi. Alfath ingin membuat kejutan untuk Nisa. Nisa sudah rindu dengan keluarganya" jawab Alfath dengan jujur
"Oh begitu" ucap Umi sembari mengangguk
"Iya, Umi. Alfath berniat untuk mendatangkan keluarganya ke Surabaya, Alfath barusan sudah menghubungi kakaknya, Kak Salma" ucap Alfath menjelaskan
"Alfath belum bisa mengantar Nisa ke Ponpes, karena setelah pulang ini Alfath banyak kerjaan di kantor. Kalau harus menunggu selesai kasian Nisa, sudah sangat rindu" tambah Alfath panjang lebar
Umi tersenyum, ikut merasa senang. Anaknya kini semakin dewasa, Umi merasa bahwa anaknya ini mampu menjadi suami yang baik, juga sangat memikirkan perasaan istrinya itu.
"Iya sayang, Umi bangga sama kamu" jawab Umi berkaca-kaca
"Kamu mampu menjadi suami yang baik, juga penyayang" tambah Umi sembari menahan air matanya agar tidak jatuh
"Aaammiinn doakan Alfath ya Umi, agar Alfath selalu bisa menjadi suami bijaksana dan anak yang berbakti pada Umi dan Papa" ucap Alfath sembari memeluk dan mencium wanita separuh baya yang ada dihadapannya itu
Alfath begitu menyayangi Umi. Sampai kini walau setelah menikah, Alfath selalu menyempatkan untuk mengirimi pesan pada Umi, walau hanya sekedar bertukar kabar pada Ibu juga Ayahnya itu. Alfath memang dikenal sosok penyayang pada keluarga, sifatnya yang rendah hati membuat semua keluarga begitu respect pada Alfath.
Alfath dan Umi menyudahi percakapannya, karena takut keburu dilihat oleh Nisa.
__ADS_1
Lalu Alfath dan Umi kembali ke teras halaman belakang dimana Nenek duduk sedari tadi. Tak lama, Nisa dan Ma'ci Laila datang sembari membawa kue yang mereka buat dan Teh Hijau kesukaan Nenek.
"Waaaah baunya wangi sekali" ucap Nenek yang menyambut Nisa
"Iya Nek, rasanya juga enak. Nisa baru mempelajarinya dari Ma'ci" jawab Nisa dengan senang
Semua langsung menikmati camilan sore itu sembari bercengkrama, bercerita apa saja.
Tanpa disadari, Umi sedari tadi memperhatikan Nisa.
"Nis, kamu sekarang gemukan yaaa" ucap Umi tiba-tiba
"Oh ya? Masa sih? Nisa kok gak menyadarinya ya" jawab Nisa sembari berusaha memperhatikan tubuhnya
"Iya sayang, mana semakin cantik lagi" puji Umi
"Umi bisa aja deh" jawab Nisa malu
"Hamil maksudnya" jelas Ma'ci Laila pada Nisa karena terlihat kebingungan
"Nisa juga tidak tahu Nek, Ma'ci. Haid Nisa sih belum terlewat, tapi sudah 2 bulan kemarin memang tidak lancar seperti biasanya" ucap Nisa memberitahu
"Periksa ke dokter kandungan, coba untuk konsultasi gitu, Nis" ucap Umi
"Iya, Umi. Nanti setelah sampai Surabaya, Insya Allah langsung periksa ke dokter. Ya Mas?" jawab Nisa sembari meminta saran suaminya
Obrolan sore itu berakhir, karena hari semakin larut. Alfath yang jadi kepikiran ucapan Umi, Nenek dan Ma'ci Laila tadi jadi merasa berharap istrinya itu sedang hamil. Sewaktu dikamar setelah sholat magrib, Alfath memperhatikan istrinya yang sedang berganti pakaian tentu tanpa hijabnya.
"Mas ih ngeliatin terus, malu tau" ucap Nisa karena malu pada suaminya yang terus memperhatikannya sedari saat Nisa membuka bajunya
"Gak usah malu dong sayang, kan Mas ini suami kamu hehe" jawab Alfath sembari tertawa
__ADS_1
"Bener deh kata Umi, Istri Mas ini jadi aga berisi badannya" tambah Alfath yang terus memperhatikan istrinya yang sedang berganti pakaian
"Masa sih? Bilang saja Nisa gendut sekarang Mas" jawab Nisa sedikit kesal
"Wajar saja sih Nisa jadi gendut, orang Nisa sudah tidak olahraga juga tidak aktifitas banyak, tapi makan teruuus hehe" tambah Nisa dengan tertawa
"Kamu ini haha" jawab Alfath tertawa
"Tapi ini kok aneh ya, payudara ku terasa sakit-sakit, pinggang juga berasa gampang pegal, belum lagi kalau udah naik tangga suka aga keram ini perut bagian bawah" keluh Nisa pada suaminya
"Apa perlu sekarang saja ke dokternya Sayang?" ucap Alfath menawarkan karena khawatir
"Mungkin ini hanya karena mau haid saja Mas" jawab Nisa sebenarnya menolak diperiksa sekarang
Alfath hanya mengangguk, karena ia juga tidak mengerti dengan keluhan kewanitaan begitu. Setelah Nisa selesai berganti pakaian, Alfath langsung mengajak Nisa untuk makan malam terakhir dirumah Nenek.
"Sayang, kita makan malam dulu. Nenek dan Umi pasti sudah menunggu" Ucap Alfath
"Ayo Mas" jawab Nisa cepat karena memang sudah merasa lapar
Nisa dan Alfath menuruni anak tangga, hendak keruang makan. Ternyata benar saja, Nenek sudah menunggunya sendirian, sementara Umi dan Ma'ci Laila masih bersiap di dapur. Nisa langsung menuju dapur, hendak turun tangan membantu.
"Ada yang bisa Nisa Bantu, Umi?" tanya Nisa pada Umi yang sedang merekuh bumbu
"Kamu tunggu saja dimeja makan sayang" jawab Umi dengan halus
"Iya, Nis. Kamu jangan kecapean, harus banyak istirahat. Tunggulah disana" ucap Ma'ci Laila juga pada Nisa
"Tidak cape kok Ma'ci. Biar Nisa bantu yaaa" ucap Nisa memaksa
Dengan cepat Nisa mengambil bagian untuk memasak, Nisa mencuci sayuran yang sudah dipotong juga membantu menyiapkan piring dan gelas.
__ADS_1