Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 107~


__ADS_3

Nisa meyakinkan Alfath untuk pergi bekerja, ia sudah yakin bahwa dirinya sudah baik-baik saja.


"Ya udah sayang kalau gitu Mas berangkat kerja dulu yaaa.. Kamu baik-baik, jangan nakal, nanti Mas telepon Mbok Iyem untuk menemani kamu" ucap Alfath panjang lebar


"Iya Mas sayang" jawab Nisa sembari menggenggam tangan Alfath lalu mencium punggung tangannya


"Baik-baik yaaaa" ucap Alfath lagi lalu mencium kening Nisa


Alfath pergi meninggalkan rumah sakit, untuk kembali bekerja. Sewaktu diperjalanan Alfath juga menghubungi telepon rumahnya, untuk memberitahu Mbok Iyem agar cepat datang ke rumah sakit menemani istrinya itu.


"Assalamu'alaikum Mbok, ini Alfath. Tolong kalau sudah selesai pekerjaan rumah, segera datang kerumah sakit, temani istri saya" ucap Alfath langsung ketika teleponnya terhubung


"Walaikumsalam Pak. Oh iya Pak baik. Saya sedang masak dulu, setelah ini saya langsung siap-siap ke rumah sakit" jawab Mbok Iyem dengan cepat karena sudah mengerti


"Ok....." jawab Alfath singkat


Lalu sambungan telepon itu terputus. Alfath mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan, jadi ia tidak terlalu lama menghabiskan waktu diperjalanan. Lia dan Rio sudah menunggu di kantor, dan sudah siap untuk berangkat survei ketempat baru yang di maksud Alfath.


-----------------------------------------------------------------------


Sementara itu di rumah sakit. Nisa merasakan bosan. Nisa sudah membaca Qur'an kecil yang selalu ia bawa dalam tasnya, sudah melantunkan dzikir dan lagi memandangi keluar jendela terus.


Kini ia memutuskan untuk menghubungi Umma, karena ia merasa butuh teman ngobrol.


"Assalamu'alaikum naaak..." ucap Umma saat menerima panggilan telepon dari putri bungsunya itu

__ADS_1


"Walaikumsalam Ummaaaaaa..." jawab Nisa cepat setelah mendengar suara Umma dibalik ponselnya


"Umma apa kabar? Nisa rindu sekaliiiii" ucap Nisa lagi


"Umma sehat sayang. Umma juga rindu" jawab Umma dengan cepat


"Kamu kedengarannya sangat senang" lanjut Umma


"Iya Umma, Nisa senang masih bisa mendengar suara bidadari yang paling indaaahhhh" jawab Nisa merayu


"Kamu ini bisa saja. Kamu sendiri apa kabar nak? Alfath apa kabar?" tanya Umma


"Mas Alfath alhamdulillah sehat, Umma. Sekarang baru saja berangkat ke kantor" jawab Nisa


"Astagfirullah..." jawab Umma dengan ekspresi terkaget-kaget


"Umma gak usah khawatir, Nisa sudah baikan kok. Sebentar lagi juga akan pulang" ucap Nisa meyakinkan


"Iya sayang, kamu harus jaga kesehatan yaaa... jaga calon buah hati kamu juga" ucap Umma sembari menahan air mata agar tidak jatuh


"Iya Umma. Doakan Nisa terus yaaa.." jawab Nisa


Kini suara Nisa berubah menjadi lirih, ia tak sanggup lagi menahan air matanya. Kemudian Nisa memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya.


"Nisa rindu dipelukan Umma..." batin Nisa sembari air mata mengalir membasahi pipinya

__ADS_1


Sementara itu, Umma yang juga merasa kasihan pada putri bungsunya itu menangis setelah sambungan ponselnya itu mati.


"Ya allah naaak, sungguh tak mudah cobaan yang kau jalani" ucap Umma sembari memegang ponselnya dengan erat


Nisa masih merasakan sedih, kini ia menghapus air matanya. Lalu terus memandangi keluar jendela. Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.


"toktoktooookkkk..." pintu diketuk


"Iya masuk" ucap Nisa sembari menoleh kearah pintu


Mbok Iyem masuk sembari membawa tas berisi makanan yang ia masak untuk Nisa.


"Assalamu'alaikum Bu Annisa..." ucap Mbok Iyem lalu menutup pintu ruangan Nisa


"Walaikumsalam Mbok..." jawab Nisa ramah, terdengar suaranya masih lirih


"Bu Annisa kenapa? Bu Annisa menangis?" tanya Mbok Iyem penasaran


"Nisa sangat rindu Umma dan Aba" ucap Nisa dengan suara lirihnya, tapi tetap menahan agar tidak menjatuhkan lagi air matanya


"Oh begitu, apa sudah dihubungi orangtua Bu Annisa nya?" jawab Mbok Iyem sembari menaruh rantang makanan di meja samping bed Nisa


"Sudah Mbok" jawab Nisa singkat


Nisa tak ingin menceritakan isi teleponnya dengan Umma, karena takut ia merasa sedih lagi.

__ADS_1


__ADS_2