Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 120~


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 pagi, para pekerja tukang sudah datang dan siap untuk bekerja kembali. Kali ini tak banyak hanya berdua saja. Nisa dan Alfath sudah siap menyambut para pekerja, karena sudah tak sabar untuk melihat hasil dari desain yang mereka sepakati.


Semua pekerja langsung masuk kedalam kamar, dan bekerja dengan begitu serius.


Hari ini juga jadwal Nisa kontrol kandungan ke dokter, Alfath begitu semangat untuk mengantar istrinya itu untuk periksa. Hal ini yang paling ditunggu-tunggu oleh Alfath, karena ia bisa mendengar detak jantung anaknya itu, seakan obat dari kerinduannya yang ingin segera jumpa dengan sang buah hati. Nisa masih bersiap dikamar, sementara Alfath menunggu di ruang tamu yang begitu masih berantakan oleh barang-barang yang mereka beli kemarin.


Tiba-tiba ponselnya berdering, tak disangka itu adalah panggilan telepon dari Inggri tanah kelahirannya. Adik Alfath menelepon dengan cepat Alfath menerima panggilan itu.


"Halooo... Assalamu'alaikum" ucap Alfath mendahului


"walaikumsalam... Kakaaaaak..." jawab Shaina dibalik ponsel itu sedikit berteriak karena begitu senangnya


"How are you? (apa kabar)" tanya Alfath pada adik kecilnya itu yang kini benar-benar sudah menjadi gadis dewasa


"Aku baik, bagaimana dengan mu dan istri mu disana?" jawab Shaina, lalu menanyakan balik kabar Alfath juga kakak Iparnya itu


Percakapan ini sebenarnya menggunakan bahasa Inggris, karena memang Alfath dan Shaina selalu mengobrol menggunakan Bahasa Ayah mereka, kecuali didepan Nisa selalu menggunakan bahasa Indonesia.


"Kak ada seorang pria yang serius ingin melamar ku, dia tidak mengajak aku berpacaran, dia ingin langsung menemui Papa dan mengkhitbah ku..." tiba-tiba ucap Shaina, ini adalah maksud dan tujuannya menghubungi kakaknya itu, bermaksud untuk memberi kabar dan memberitahu perihal penting ini


"Siapa dia? Berasal dari mana dia? Siapa namanya?" tanya Alfath bertubi-tubi. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Shaina, ia tidak ingin adiknya salah memilih pria


"Dia teman kampus ku.. Dia berasal dari Turkey. Keluarganya muslim, namanya Al Fariz" Jawab Shaina menjawab pertanyaan Alfath


"Ok baiklah. Kita bahas ini nanti yaaa, aku yang akan menghubungi mu lagi nanti. Sekarang aku akan mengantar istriku untuk memperiksakan buah cinta kami hehe..." ucap Alfath begitu bersemangat

__ADS_1


"Baiklaaah..." jawab Shaina


Lalu Shaina mengakhiri sambungan telepon tadi. Nisa sudah siap dan keluar dari kamarnya.


"Siapa yang menelepon pagi-pagi Mas? Apa keluarga mu yang di Inggris?" tanya Nisa penasaran karena mendengar suaminya itu berbahasa Inggris


"Shaina sayang, dia memberitahu bahwa ada pria yang akan mengkhitbahnya. Tapi percakapan kami belum selesai, karena aku akan mengantar mu dulu ke dokter. Nanti akan ku hubungi lagi Shaina" jawab Alfath memberitahu Nisa panjang lebar


"baiklah kalau begitu..." jawab Nisa sembari mengajak suaminya untuk segera berjalan keluar rumah


"Mas pasti ingin bertanya-tanya kan pada Shaina? tentang Shaina dengan pria nya itu?" tanya Nisa sewaktu masuk dalam mobil


"Iya sayang, aku hanya tidak ingin Shaina salah memilih.." jawab Alfath dengan suara yang bergetar


Nisa hanya menganggukan kepalanya, Nisa mengerti akan maksud dari jawaban Alfath itu. Alfath sangat menyayangi semua keluarganya, terutama adiknya itu. Alfath akan melepaskan adiknya untuk menjadi istri dari pria lain, tentu saja tidak mudah untuk Alfath, ia harus memastikan bahwa pria itu benar-benar pria yang tepat untuk adiknya, karena Alfath takut adiknya tersakiti oleh orang lain.


"Silahkan masuk.." ucap seorang suster yang membantu pekerjaan dokter


Nisa lalu dibaringkan di atas bed, dan dibuka bajunya hingga terlihat perut yang semakin membesar itu, lalu di olesi Ultrasonic Gel untuk memudahkan pemeriksaan dokter.


"Sudah siap Bapak, Ibu?" ucap dokter Sp.Og itu dengan ramah


Dokter kandungan ini adalah dokter yang menangani Nisa dari awal kehamilannya, dokternya sesama perempuan membuat Nisa sangat nyaman diperiksa olehnya.


Dokter lalu menempelkan alat USG keperut buncit Nisa itu secara perlahan.

__ADS_1


"Ini keadaan bayi kalian" ucapnya


Alfath membulatkan matanya, menatapnya dengan sangat baik kearah layar monitor.


"Keadaan bayi kalian sehat, berat badannya juga baik, tidak kurang, tidak melebihi yaaa Pak, Bu..." ucap Dokter sembari terus memainkan alatnya itu


"Ok, sekarang kita lihat jari-jarinya yaaa..." lanjut dokter


Nisa dan Alfath hanya fokus memperhatikan kelayar monitor itu.


"Jari-jarinya normal yaaa, semua lengkap. Tuhhh yaaa..." ucap dokter sembari memperlihatkan jari jemari yang begitu mungil itu


"Sekarang mau lihat organ wajahnya? Yaaa otomatis bisa tergambarkan wajahnya mirip siapa" ucap Dokter sembari memberi candaan


"Waaah.. makin gak sabar ini..." ucap Alfath antusias


"Pastinya dong Pak, apa lagi ini anak pertama iya kan?" tanya dokter


"Hehe iya dok.." jawab Alfath sembari sedikit tertawa


"Ok ini wajahnya sudah dapat. Ini kedua matanya ya Pak, Bu..


Ini hidungnya, mancung kayak siapa nihhh..." ucap Dokter lagi-lagi sembari memberi candaan


"Ini kupingnya, dua yaaa sangat sempurna. Ini mulutnya yang mungil. Ok kita ambil gambar foto wajahnya" ucap dokter

__ADS_1


Alfath begitu antusias, ia merasa bahagia sekali, begitu juga dengan Nisa yang merasa bahagia saat mendengar anaknya tumbuh dengan sempurna dan seperti seharusnya.


__ADS_2