Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 119~


__ADS_3

Alfath dan Nisa menaiki mobilnya, dan melaju pulang kerumah. Diperjalanan Alfath membuka obrolan dengan Nisa.


"Aku tak menyangka orangtua yang tadi kita tolong adalah Ibunya pria itu..." ucap Alfath membuka obrolan


"Iya Mas, aku juga tidak tahu.." jawab Nisa dengan hati-hati karena takut salah bicara


"Aku sebal mendengar ucapan Ibunya itu, membicarakan dulu pria itu juga mau melamar mu. Aku takut dia belum bisa move on melupakan kamu, sayaaang..." ucap Alfath sedikit menggerutu


"Biarlah Mas, itu kan urusan dia sama hatinya. Kalau Aku kan sekarang sudah jadi istri kamu.." jawab Nisa sebenarnya malas membahas itu


"Iya seharusnya Ibu nya juga sadar, kalau begitu berarti belum jodoh, dan kamu sudah berjodoh dengan ku" ucap Alfath


"Apa kamu menyesal menikah dengan ku yang bukan anak ustadz dan juga bukan seorang pendakwah seperti keluarga mu dan juga pria itu?" tiba-tiba tanya Alfath


"Aku tidak pernah menyesal Mas, aku sudah bahagia dinikahi dengan pria yang baik agamanya, lembut sikapnya, dan selalu mencintai aku. Aku selalu berdoa sama Allah agar kita dibersamakan sampai di syurga-Nya..." jawab Nisa sembari melingkarkan tanganya ditangan Alfath, dan menyenderkan kepalanya


"Alhamdulillah..." jawab Alfath sembari mengumbar senyum bahagianya setelah mendengar jawaban istrinya itu


Alfath terus melajukan mobilnya, hingga sampai dirumahnya. Saat tiba dirumahnya dan masuk kedalam ruang tamu, dilihatnya barang yang ia beli sudah sampai diantar kerumah. Alfath dan Nisa terburu-buru untuk sholat Dzuhur karena sudah kelewat sedikit, setelah selesai Sholat Nisa dan Alfath melihat pekerjaan para tukang di kamar yang akan di renovasi itu.


"Bagaimana pekerjaan kalian? Sudah berapa persen ini?" tanya Alfath pada pekerja tukang


"Tinggal finishing saja, Pak. Ini masih basah cat nya jadi belum terlihat jelas" jawab seorang tukang pada Alfath


"Baiklah kalau gitu.. Saya tinggal dulu" ucap Alfath

__ADS_1


Alfath keluar dari kamar itu, sembari menggandeng tangan Nisa. Rio mengetuk pintu, sudah datang membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Alfath.


Alfath mengajak Rio untuk masuk ke ruang kerjanya, sementara Nisa mau beristirahat di kamar.


"Rio, kamu tunggu di ruang kerja saya dulu yaaa..." ucap Alfath sembari membukakan ruang kerjanya dan mempersilahkan Rio masuk


Alfath kemudian kembali kebawah, untuk mengantar Nisa beristirahat sementara di kamar khusus untuk tamu karena kamar mereka diatas Nisa kesulitan untuk naik keatas, dan kamar yang dikhususkan untuk Alfath, Nisa dan Bayi nya itu masih di renovasi. Nisa yang menunggu di ruang makan, dan masih menikmati susu murni yang ia tuangkan dalam gelasnya.


"Sayang sudah?" tanya Alfath pada Nisa


"Udah, Mas..." jawab Nisa cepat


"Ayooo aku antar ke kamar.." ucap Alfath sembari menahan Nisa yang berdiri sembari menahan pada Alfath


Tiba-tiba Mbok Iyem keluar dari dapur dan menghampiri Alfath juga Nisa


"Boleh Mbok, kopi kesukaan saya seperti biasa yaaa..." jawab Alfath


Alfath dan Nisa berlalu meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamar tamu, untuk mengantarkan Nisa beristirahat disana.


Alfath membantu Nisa berbaring di kasur dan menyelimuti kaki Nisa.


"Sayang... Mas tinggal dulu yaaa" ucap Alfath sembari mengecup kening Nisa


Nisa hanya mengangguk sembari tersenyum, senyum yang terlihat semakin jelas karena Nisa sudah membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya itu.

__ADS_1


Alfath berjalan keluar dari kamar, dan menutup pintu kamar itu kembali. Lalu menuju ke ruang kerjanya lagi.


----------------------------------


Hari sudah mulai pagi, Nisa dan Alfath sarapan bersama seperti biasa. Kali ini waktunya Mbok Iyem gajian. Alfath sudah menyiapkan uang dalam amplop coklat, dan siap diberikan pada Mbok Iyem.


Sarapan telah selesai, kini Nisa dan Alfath hanya menikmati susu juga camilan yang ada, membuat Alfath dan Nisa belum beranjak dari duduknya di meja makan


"Mbok...." ucap Alfath memanggil Mbok Iyem yang masih berada di dapur itu


"Iya, Pak ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbok Iyem dengan sopan dan begitu ramahnya


"Oh tidak, Mbok.." jawab Alfath cepat


"Ini uang gaji Mbok Iyem selama satu bulan ini" lanjut Alfath sembari menyodorkan amplop coklat tadi


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Pak, Bu" ucap Mbok Iyem setelah menerima amplop coklat berisikan uang untuknya itu


"Saya juga terimakasih Mbok, sudah dibantu mengurus rumah ini.." ucap Nisa dengan senyum yang terlihat karena belum menggunakan cadar karena memang masih belum ada para pekerja


Mbok Iyem menabar senyum bahagianya. Ia gajian tepat dimana uang itu dibutuhkan, keluarganya ada yang sakit dan membutuhkan biaya, jadi Mbok Iyem sangat senang saat menerima uang itu. Mbok Iyem masih diam didekat Nisa dan Alfath.


"Oh iya Pak, Bu..." ucap Mbok Iyem tiba-tiba


"Kenapa Mbok?" tanya Nisa setelah meneguk susunya dan menaruh kembali gelas di atas meja

__ADS_1


"Saya ingin meminta izin, ingin menggunakan telepon rumah ini untuk menelepon suami saya, karena uang ini sangat ditunggu oleh keluarga saya" ucapnya panjang lebar.


"Silahkan saja Mbok.. Pakailah untuk kepentingan yang begitu penting" jawab Alfath dengan nada yang begitu ramah


__ADS_2