
Nisa dan Alfath tiba di pasar rakyat, Pasar tradisional gitu. Mobil Alfath yang terbilang mewah, terpakir di parkiran pasar membuat semua yang melihat terus memperhatikannya, dari Alfath yang membuka pintu dan turun dari mobil semua memperhatikannya.
Setelah turun Alfath membukakan pintu untuk Nisa, padahal Nisa pikir tidak perlu sampai dibukakan seperti itu, Nisa belum keluar karena sedang mengambil ponselnya yang jatuh kebawah.
"Ayo sayang" ajak Alfath
"iya mas, sebentar" jawab Nisa dengan lembut
Nisa dan Alfath berjalan bergandengan, Alfath begitu menjaga Nisa. Begitu juga dengan Nisa, Nisa takut untuk berjalan sendiri.
Nisa membeli macam-macam sayuran untuk stok beberapa hari kedepan, daging sapi, daging ayam, ikan basah, dan bumbu-bumbu memasak.
Alfath menggandeng Nisa sembari membantu membawakan kantong belanjaan Nisa yang berat itu. Nisa juga dengan beberapa kantong yang ringan ditangannya.
"oh iya Mas, sekarang tinggal membeli keperluan sabun untuk mencuci dan lainnya" ucap Nisa saat memasukan belanjaannya kedalam bagasi.
"ya sudah, kalau untuk itu kita ke super market saja" jawab Alfath
Alfath melajukan mobilnya ke super market dekat dengan rumahnya.
Nisa dan Alfath berhenti disebuah super market, lalu mereka turun dan bergegas untuk masuk kedalam.
Sebelum sempat masuk tiba-tiba ponsel Alfath berdering, membuat langkah Alfath dan Nisa terhenti.
__ADS_1
"Sebentar sayang" ucap Alfath sembari merogoh saku celananya
Dilihatnya bertuliskan Rio yang memanggil
"halo Assalamu'alaikum" ucap Alfath menjawab panggilan telepon itu
Alfath berpikir ini akan lama karena membahas masalah pekerjaan, sebelum mematikan ponselnya Alfath menyuruh Nisa masuk kedalam duluan, dan memilih barang yang ingin dibeli.
"Sayang, kamu masuk duluan ya. Disini panas, kamu pilih dulu saja mana yang akan dibeli nanti aku nyusul" ucap Alfath
Nisa yang mengiyakan lalu masuk sendirian, dan membawa troli yang kebetulan ada di pintu masuk. Nisa memilih merk sabun cuci yang ingin ia beli, lalu mengambilnya satu yang berukuran cukup besar untuk stok.
Nisa berlanjut memilih pewangi baju, selagi memilih tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Nisa dengan suara yang keras berharap Nisa mendengar. Tentu saja Nisa mendengar karena sangat kencang.
"Annisa kan?" tanya seorang pria dari belakang Nisa
"Iya" jawab Nisa sembari membalikan badannya.
Nisa sangat terkejut, mengapa bisa ia bertemu lagi dengan Azam disini. Dikota yang berbeda dan sangat jauh dari tempat mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Kak Azam, kok ada disini?" ucap Nisa tak bisa basa-basi
"Iya, aku sedang pulang" jawab Azam dengan cepat
__ADS_1
"pulang? kak Azam orang Surabaya?" tanya Nisa tak percaya
"iya, aku memang asli orang sini" jawab Azam santai
"oh iya Nisa sedang apa disini? bukannya Nisa menikah jum'at kemarin?" tanya Azam dengan cepat
"iya kak, Nisa tinggal disini bersama suami" jawab Nisa yang sedari tadi tidak memandang Azam
"suami mu orang Surabaya juga? Siapa? Pasti anak ustad terkemuka di Surabaya juga kan?" tanya Azam penasaran.
Azam tidak menghadiri pernikahan Nisa waktu itu, karena langsung pulang ke Surabaya untuk mengantar kedua orangtuanya dan karena hal lainnya, Azam merasa sangat belum siap untuk bertemu Nisa dengan Suaminya.
Ketika Azam bertanya seperti itu, belum sempat Nisa menjawab tiba-tiba Alfath datang mengagetkan Nisa dan Azam yang sama-sama terdiam.
"Saya suami Nisa" ucap Alfath langsung berdiri didepan Nisa dan menyodorkan tangannya seraya bersalaman
"Saya Muhammad Alfath Swain, bukan anak ustad terkemuka, saya hanya seorang anak dari pengusaha restoran kecil di Inggris" jelas Alfath dengan logat khas bulenya itu
Lalu Azam menerima jabatan tangan Alfath itu. Nisa yang langsung menggenggam tangan Alfath takut sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"kok bisa Nisa menikah dengan Bule" batin Azam
Azam lalu meninggalkan Alfath dan Nisa berdua. Terlihat Alfath sangat tersinggung oleh pertanyaan Azam itu pada Nisa, Alfath yang masih dalam amarah itu hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Nisa
__ADS_1