
Sesampainya di Mall, Alfath dan Nisa langsung menuju lantai dimana toko furniture berada. Nisa langsung tertuju pada kasur box bayi dan memilih-milihnya. Lanjut dengan barang kecil lainnya yang juga ada ditoko furniture itu.
Nisa dan Alfath lanjut ke toko pakaian bayi, karena memang belum membeli satupun untuk anaknya kelak. Nisa memilih pakaian bayi tetap yang netral, yang bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan, karena memang bayi yang ia kandung belum terlihat jenis kelaminnya.
Nisa dan Alfath membeli pakaian bayi yang cukup untuk anaknya, saat menunggu dikasir tiba-tiba Nisa merengek pada suaminya itu.
"Mas, aku sudah sangat lapaaar.." ucap Nisa dengan rengekan manjanya
"Iya sayang, setelah ini kita langsung makan yaaa..." jawab Alfath dengan lembut sembari meraih tangan istrinya lalu menggandengnya
Setelah antri dikasir dan semua belanjaan mereka sudah dibayar, Alfath dan Nisa langsung menuju tempat makan, lantai itu khusus untuk beberapa kedai makanan. Semua penjual makanan berjejer dengan rapi, juga ada beberapa yang menawar-nawarkan agar makanan yang mereka jual menarik peminat. Alfath memesankan makanan yang Nisa inginkan, kemudian membayar terlebih dahulu tagihannya.
"Sayang, Mas sudah pesankan. Sekarang Mas mau antar barang ini dulu ya sebentar, agar dibawa sekalian dengan furniture yang kita beli..." ucap Alfath
"Jangan lama-lamaaa..." jawab Nisa lagi-lagi dengan manjanya
"Iya sayangku..." ucap Alfath sembari mencium kening Nisa lembut
Alfath berlalu meninggalkan Nisa sendirian, dengan terburu-buru Alfath melangkahkan kakinya. Sementara itu Nisa duduk sendiri menunggu pesanannya datang, sembari memainkan ponselnya sekedar untuk memberi kabar pada Aba dan Umma, lalu pada Umi yang ada di Inggris.
"Halooo Assalamu'alaikum Nak Nisaaaa..." terdengar dari balik ponselnya Umi menyapa
"Walaikumsalam Umi... Umi apa kabar? Papa juga apa kabar?" ucap Nisa mendahului
__ADS_1
"Alhamdulillah Nak, kami sehat. Kamu sendiri apa kabar? Sehat juga kan calon cucu Umi dan Papa..." Jawab Umi balik bertanya
"Alhamdulillah Umi kalau pada sehat. Nisa dan calon cucu Umi juga sehat, kami habis berbelanja keperluan bayi dan melahirkan Umi.." ucap Nisa menjelaskan
Umi menutup sambungan teleponnya setelah berbicara banyak dengan Nisa, Umi dan Papa sudah sangat tak sabar untuk bisa menggendong cucunya itu. Tapi sayang Umi dan Papa belum bisa datang ke Indonesia karena masih banyak urusan di Negaranya.
Tak lama, Alfath kembali dan duduk bersama Nisa, begitu juga dengan makanan yang mereka pesan tiba setelah Alfath duduk. Keadaan tempat yang begitu ramai dan penuh pengunjung, karena memang sedang waktunya makan siang, membuat kursi dan meja yang tersedia penuh oleh pengunjung.
Nisa yang tak sabar langsung melahap makanan yang ia pesan. Alfath dengan romantisnya menyuapi makanan ke mulut Nisa dengan sangat penuh cinta. Tiba-tiba Alfath melihat 2 orang yang sedang mencari tempat duduk, seorang wanita paruh baya dan seorang pria. Alfath memanggil dan menawarkan duduk bersama mereka karena tempat yang sudah penuh, tapi Alfath sangat kasihan pada ibu separuh baya itu.
"Sayang, biarkan Ibu itu duduk bersama kita yaaa..." ucap Alfath meminta izin terlebih dahulu pada istrinya itu
"Yang mana Mas?" tanya Nisa lalu matanya mencari
"Baiklah.." jawab Nisa cepat
Alfath lalu memanggil Ibu itu dan mempersilahkan untuk duduk bersama mereka, Alfath belum melihat bahwa wanita separuh baya itu bersama seorang pria.
"Bu, silahkan duduk bersama kami. Kelihatannya kursi dan meja disini sudah sangat penuh" ucap Alfath dengan ramahnya
"Oh terimakasih anak muda, sedari tadi saya mencari kursi tidak ada yang kosong. Betapa beruntungnya saya, bertemu dengan orang baik..." jawab Ibu separuh baya itu lalu duduk ketika kursi yang Alfath siapkan untuknya
Alfath dan Nisa hanya tersenyum. Lalu melanjutkan lagi makannya
__ADS_1
"Bu, kami makan duluan kalau begitu yaaa.." ucap Alfath
"Silahkan Nak. Maaf nanti saya makan bersama anak saya disini boleh?" tanyanya meminta izin karena bersama anaknya
"Oh iya Bu tak apa.." jawab Alfath cepat
Nisa dan Alfath melanjutkan lagi makannya.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri ibu separuh baya itu.
"Bu.. kok disini? Tak mendapat kursi kosong lagi?" ucapnya lembut pada wanita separuh baya yang ternyata itu Ibunya
"Tidak Nak. Untung ada Bapak ini, dia berbaik hati membiarkan kursinya untuk kita, dan membagi mejanya" jawab Ibu separuh baya itu
Alfath langsung menoleh kearah pria itu, tak disangka ia adalah pria yang Alfath kenali saat pertama membawa istrinya ke supermarket kala itu.
"Eh kamu..." ucap Alfath prontal
Nisa langsung menaikan wajahnya, seraya melihat siapa yang dimaksud oleh suaminya itu.
"kaaak... Aaaa-zam..." ucap Nisa terbata-bata
"Nisaaa.." ucap Azam tak menyangka
__ADS_1
Alfath seketika terdiam, hatinya yang masih selalu merasa cemburu pada Azam karena seorang ustadz dan juga pernah menyukai Nisa bahkan sampai melamar Nisa kala itu.