
Setelah Nisa dipasang hena dan ditinggalkan oleh tukang riasnya, kini masuklah seorang tata busana bernama Riana yang berumur sama dengan Nisa.
"mbak Nisa, ini gaun pengantinnya. Dicoba dulu ya takut ada yang kurang" Ucap Riana pada Nisa
"boleh mbak" jawab Nisa antusias karena ini adalah gaun pengantin keinginannya.
"semuanya sudah ok ya mbak Nisa" lanjut Riana setelah Nisa mencoba kedua gaun itu.
"iya mbak, terimakasih ya" jawab Nisa
"iya mbak Nisa sama-sama, ini disimpan dimana ya mbak?" tanya Riana untuk menyimpan gaunnya.
"disini saja mbak" jawab Nisa sembari membukakan pintu lemarinya.
Semua berlalu, di ponpes semua orang sedang disibukan oleh pemasangan dekor ruangan, sementara itu Umma sedang sibuk mengatur hidangan untuk acara besok dibantu oleh Ayu, Rahma dan Risma mereka adalah anak dan menantunya.
Hari semakin sore, Nisa sedari tadi hanya diam dikamar karena sudah mencoba gaun dan pasang hena.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Nisa yang berdering berada dimeja riasnya.
Masuk pesan WA ternyata dari Shaina.
"Assalamu'alaikum kak Nisa. Bagaimana persiapan kakak? Apa masih ada yang kurang?" pesan WA Shaina pada Nisa
Nisa dengan cepat membalasnya
"Wa'alaikumsalam Shaina. Alhamdulillah sudah semua kok. Gaun sudah diantar ke saya, dan rias henapun sudah" balas Nisa di WA pada Shaina
Hari berganti malam, semua berkumpul untuk makan malam. Rumah yang hanya ditinggali bertiga kini ramai sekali, suara bising anak-anak terdengar, bayi yang menangis, anak-anak yang berebut mainan, dan belum lagi obrolan-obrolan orangtua mereka.
Aba sangat bersyukur ketika melihat anak, menantu dan cucunya berkumpul bukan hanya untuk merayakan Lebaran tapi untuk acara lain.
"Rumah ini nanti akan semakin sepi ya Umma" ucap Aba pada Umma yang sedang menghidangkan makanan
"Iya Aba, hanya Umma dan Aba yang tinggal" jawab Umma lirih
"tidak akan sepi Kakek, Nenek" tiba-tiba ucap Finna anak dari Fatih yang berumur 13tahun
__ADS_1
Semua lalu membalikan pandangannya pada Finna yang kini sedang memegang tangan Aba
"oyaaa?" jawab Aba menggoda Finna
"Iya kakek, Finna mau pesantren disini, tapi Finna mau tinggalnya sama kakek nenek" jawaban polos Finna
"jadi kakek dan nenek ada teman" lanjut Finna membuat semua tersenyum mendengarnya
Finna adalah cucu paling besar, karena mas Fatih menikah lebih dulu dibanding yang lain.
"baiklah, kakek setuju sekaliii" jawab Aba dengan nada menggelitik cucunya itu.
"Umi dan Abi akan ditinggal kakak dong" sambung Ayu istri Fatih sembari menggoda
"nggak Umi, kakak kan pulang kalau libur" lagi-lagi Finna bersikap dewasa membuat semua orang tertawa
Makan malampun berlangsung, setelah makan semua bergotong royong membantu membereskan dan membersihkan ruang makan.
"Nis, cepat tidur kamu harus banyak beristirahat untuk besok" ucap Umma tiba-tiba pada Nisa
"yasudah Nisa tidur dulu ya Umma" jawab Nisa lalu meninggalkan semua orang
Didalam kamarpun Nisa masih susah memejamkan matanya, karena memikirkan besok membuat Nisa tidak sabar.
"aku akan menjadi seorang istri dari Muhammad Alfath Swain, seseorang yang berbeda warganegara, berbeda budaya, dan berbeda latarbelakang" batin Nisa
"apa aku akan bisa menyatukan semua ini? apa aku akan diterima baik oleh keluarga besarnya karena penampilanku bercadar seperti ini" batin Nisa terus gelisah akhirnya Nisa tertidur pada tengah malam, membuat ia bangun terlambat.
"Nisaaa" terdengar suara ketukan pintu dari luar
Nisa baru membuka matanya, dan langsung melihat jam didindinnya ternyata sudah jam 4 subuh.
"Iyaaa" jawab Nisa dengan cepat
"Ini mbak Risma, boleh mbak masuk?" ucap Risma dibalik pintu
"masuk saja mbak" jawab Nisa
__ADS_1
Langsung Risma masuk dan menutup kembali pintu kamar Nisa.
"Ayo siap-siap Nis, kita sholat subuh berjama'ah dulu, lalu sarapan dan kamu akan dirias" Ucap Risma sembari memegang pundak Nisa yang sedang duduk
"baik mbak" jawab Nisa cepat sembari membenarkan posisi kerudungnya itu.
Semua orang melaksanakan sholat subuh berjama'ah di masjid besar ponpes. Sementara Salma yang tidak sholat karena halangan menyiapkan sarapan. Kini semua telah kembali kerumah, dan melahap sarapannya.
Semua orang kini sibuk dengan mempersiapkan dirinya masing-masing, karena acara pernikahan akan dimulai jam 8 pagi.
Keluarga Alfath sudah seminggu tinggal di apartement milik Alfath di kota itu.
***Apartement Alfath***
Semua sudah bersiap, tapi Alfath masih didalam kamarnya.
"Alfath..." ucap Umi sembari mengetuk pintu
"apa kamu sudah siap nak?" lanjut umi memastikan
"sudah umi, masuk saja" jawab Alfath yang ternyata sedang merapikan dasi dilehernya
Umi lalu mengahmpiri Alfath dan membantunya merapikan dasi panjang di lehernya.
"sekarang anak umi akan menjadi pemimpin untuk keluarganya sendiri" ucap umi sembari berkaca-kaca
"iya umi" jawab Alfath yang langsung memeluk umi
"jadilah imam yang baik ya nak, jangan kasar pada istri dan anakmu, jadi suami dan ayah terbaik sesuai syariat agama, dan selalu mencontoh Rosululloh" ucap umi meneteskan air matanya.
"insyaallah umi, Alfath akan selalu ingat pesan Umi" jawab Alfath dengan terus memeluk Umi
"jangan lupa pada Umi dan Papa yaaa" lagi-lagi ucap umi sembari tersedu-sedu
"tidak akan umi. Alfath akan selalu berbakti pada umi dan papa, Alfath menikahi gadis yang pasti akan membantu Alfath lebih lagi berbakti pada Umi" jawab Alfath meyakinkan dan mencium punggung tangan umi.
Semua sudah bersiap, Alfath kini membawa keluarga besarnya untuk menghadiri pernikahannya. Ada yang dari Malaysia dan Inggris, hampir semua berkumpul.
__ADS_1