
Nisa terlihat gugup, mana harus makan berhadapan dengan Azam dan lagi ternyata Ibu itu adalah Ibunya. Alfath juga tak menyangka bahwa ia malah akan bertemu lagi dengan Azam. Sebagai pria dewasa Alfath berlapang hati didepan semuanya.
"Maaf kami jadi menumpang gini, maaf kalau terganggu..." ucap Azam yang sebenarnya masih merasa tidak enak
"Tidak apa-apa, santai saja. Kasihan Ibu mu kalau tidak ada tempat duduk" jawab Alfath dengan ramah
Nisa tidak berani mengangkat wajahnya, tak berani melihat Azam sama sekali. Begitu juga dengan Azam, hatinya masih bergetar ketika melihat Nisa, apa lagi kini harus melihat Nisa bersama suaminya, hatinya yang masih belum move on membuatnya tersiksa melihat pemandangan didepannya.
"Oh kalian sudah saling mengenal.." ucap Ibu Azam
"Iya Bu.." jawab Azam
"Iya Bu, saya hanya kenal..." ucap Alfath ramah
"Ini Annisa putri Kiayi yang waktu itu mau Ibu Lamarkan kan buat kamu?" ucap Ibu Azam yang masih penasaran
Azam seketika terlihat malu, wajahnya memerah seakan mau meledak rasanya.
"Oh ini suaminya?" tanya Ibu Azam lagi-lagi
"Iya Bu, saya Alfath. Suaminya Annisa..." jawab Alfath menjelaskan
"Oh iyaiya, jadi ini suaminya Nisa yang waktu itu sudah melamar Nisa duluan.." lagi-lagi ucap Ibu Azam
"Bu, sudah yaaa jangan bicara lagi..." ucap Azam berbisik pada Ibunya
Nisa hanya terdiam, Alfath selalu mengumbar senyum ramahnya.
"Pak, Annisa kami makan dulu.." ucap Azam yang kelihatan sangat gugup saat makanannya sudah datang.
"Oh iya silahkan silahkan.." jawab Alfath
"Makan Nak Alfath, Nak Annisa..." ucap Ibu Azam
"Silahkan Bu..." jawab Nisa ramah tapi tetap tidak ingin menaikan wajahnya
__ADS_1
Nisa berusaha mengalihkan pembicaraan pada suaminya itu. Nisa takut kalau nanti Alfath akan cemburu lagi dan jadi pendiam.
"Mas, tadi Umi telepon..." ucap Nisa membuka obrolan baru
"Apa katanya?" jawab Alfath sembari menyiapkan makanan untuk dimasukan kedalam mulutnya
"Umi menanyakan kabar calon cucunya, katanya sudah tak sabar ingin segera menggendongnya. Umi dan Papa belum bisa mengunjungi kita, karena masih banyak urusan katanya" ucap Nisa menjelaskan
"Oh iya, mungkin Papa ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum kamu lahiran nanti, sayang. Agar Papa bisa tenang tinggal sementara di Indonesianya.." jawab Alfath menjelaskan
Sementara Azam dan Ibunya fokus makan, tapi tidak bisa hilang suara dan pandangannya bahwa yang ada didepannya adalah Nisa dan Alfath.
Nisa jadi duduk menghadap suaminya itu, ia canggung sebenarnya, ia juga bingung. Nisa menempelkan kepalanya pada lengan Alfath.
"Nak Annisa apa sudah hamil?" tiba-tiba Ibu Azam bertanya disela-sela makannya
"Iya Bu, istri saya lagi hamil. Jalan 8 bulan" jawab Alfath
Tiba-tiba Azam tersedak ketika menelan makanannya, setelah mendengar jawaban Alfath itu.
"Kamu kenapa Nak.. Ayo minum" ucap Ibu Azam sembari memperhatikan anaknya itu
"Aduh.. maaf yaa" ucap Azam menahan malu
Alfath hanya tersenyum, sementara Nisa kembali menundukan pandangannya.
Tiba-tiba ponsel Alfath berdering.
"Halooo Assalamu'alaikum..." ucap Alfath terlebih dahulu
"Iya kenapa?" lanjut Alfath setelah mendengar jawaban salam dari balik teleponnya
Terdengar dari balik ponsel Alfath, Rio memberitahu bahwa ada berkas yang harus ditanda tangani oleh Alfath
"Ok kamu antar saja kerumah, sebentar lagi saya pulang. Berkas pembangunan proyek Nusa Indah?" ucap Alfath pada Rio
__ADS_1
Azam yang mendengar percakapan Alfath saat menerima panggilan pada ponselnya itu jadi tahu bahwa Alfath seorang yang bekerja kantoran.
Alfath sudah mematikan sambungan teleponnya. Nisa yang sudah menghabiskan makanannya pun langsung menoleh pada Alfath dan bertanya
"Mas ada kerjaan? Kita pulang saja kalau gitu.." ucap Nisa tiba-tiba
"Rio akan mengantar semua berkasnya kerumah" jawab Alfath cepat
Tiba-tiba Ibu Azam yang juga sudah menghabiskan makanannya, penasaran dengan pekerjaan Alfath, dan dalam benaknya kok bisa putri seorang kiayi besar menikah dengan pria yang bukan seorang ustadz.
"Maaf kalau boleh tahu Nak Alfath ini kerja apa yaaa?" tanyanya sembari mengambil selembar tisu yang ada dihadapannya
"Saya berbisnis dibidan kontruksi pembangunan, Bu.." jawab Alfath menjelaskan
"Oh begitu.. Kantor milik pribadi gitu?" tanyanya lagi-lagi penasaran
"Iya Bu, kurang lebih begitu" jawab Alfath tetap dengan nada ramahnya dan menghormati orangtua
"Oh iya, saya dan istri mau pamit duluan yaaa" ucap Alfath langsung
"Oh iya iya.." jawab Ibu Azam
"Kami duluan yaaa.." ucap Alfath juga pada Azam
"Iya Pak, hati-hati.." jawab Azam kaku
"Kami pamit..." ucap Nisa sembari berdiri mengikuti langkah suaminya dengan tangan tetap digandeng oleh Alfath
Nisa dan Alfath berlalu sudah dari tempat makan itu, Azam dan Ibunya masih berada disana dan masih bercakap-cakap.
"coba saja waktu itu kamu duluan melamar Annisa, mungkin sekarang dia sudah menjadi menantu Ibu, dan mengandung anak kamu" ucap Ibu Azam pada Azam
"Istigfar Bu.. tidak boleh mendahului takdir" jawab Azam yang jelas-jelas masih belum bisa move on dari Nisa
"Astagfirullah..." ucap Ibu Azam cepat
__ADS_1
"Ya kalau begitu cepatlah kamu cari istri supaya Ibu cepat menggendong cucu" lanjutnya merengek pada Azam
"Iya Bu.. doakan saja yaaa" jawab Azam cepat