
Kehamilan semakin besar, kini menginjak usia 8 bulan. Tentu saja perut yang semakin membesar, ruang aktivitas yang semakin dibatasi, juga hal lain yang membuatnya kini semakin susah tidur, dan gampang pegal.
Alfath selalu menunjukan sebagai suami siaga, di waktu tengah malam ia selalu terbangun ketika istrinya tidak bisa tidur, dan mengeluhkan sakit dibagian punggung. Alfath dengan sigap mengelus-elus punggung Nisa, membacakan doa-doa pendek untuk sang buah hati, dan sholawat nabi.
Hari sudah menjelang pagi, dirumah Mbok Iyem sudah menyiapkan sarapan seperti biasa untuk Nisa dan Alfath.
Nisa yang kini selalu merasa kegerahan semenjak kehamilannya semakin besar itu, selalu mandi dengan membasahi rambutnya, dan memakan waktu cukup lama, membuat Alfath selalu menunggu untuk sarapan bersama. Setelah sarapan, Nisa dan Alfath seperti biasa duduk dihalaman belakang, Nisa selalu membaca Al-Qur'an, sementara Alfath membuka laptopnya dan bekerja dari rumah.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.30, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Mbok Iyem yang sedang membersihkan ruang tamu pun dengan segera membukakan pintu. Sementara Nisa yang mendengar langsung mengakhiri bacaan Qur'annya, dan memasang cadarnya yang ia selalu bawa dalam saku dress panjang serba menutup tubuh itu. Alfath kemudian ikut bangkit bersama Nisa dan berjalan bersamaan menuju ruang tamu.
Suara ramai seperti banyaknya orang membuat Alfath dan Nisa heran, siapa yang datang bertamu ramai-ramai begini? batin Nisa dan Alfath, mereka hanya bisa saling berpandangan, merasa heran.
Tiba-tiba suara tak asing yang begitu Alfath kenal menyelonong masuk kedalam rumah, hingga melihat Alfath dan Nisa yang masih berjalan perlahan itu.
"My Brother...." ucapnya dengan suara begitu sumbringah dan sedikit kencang
Tak disangka, tanpa Alfath dan Nisa ketahui bahwa hari ini adalah keluarga Alfath dari Inggris datang ke Indonesia untuk mempersiapkan hari lamaran Shaina, dan juga pernikahan Shaina adik Alfath itu.
Alfath yang mendengar sapaan itu dari adiknya langsung menebar senyum begitu bahagia, diikuti oleh Umi dan Papa yang masuk setelah Shaina. Begitu juga dengan Nisa, langsung tersenyum bahagia ketika melihat adik ipar dan mertuanya datang.
"Shainaaa..." ucap Alfath lalu membalas peluk hangat dari adik perempuannya itu
__ADS_1
kemudian Shaina menyalami juga kakak iparnya, dan sempat mengelus perut Nisa yang semakin membesar
"Umiii... Papaaa..." ucap Alfath lalu dengan sopan menyalami orangtuanya itu, mencium punggung tangan keduanya, lalu mencium pipi ibunya itu, kemudian memeluk erat Papanya
Nisa juga menyalami kedua mertuanya itu, mencium punggung tangannya, dan Umi membalas dengan pelukan begitu hangat, lalu memberi sentuhan halus pada calon cucunya itu, begitu juga dengan Papa.
"Umi, Papa kok tidak mengabari akan datang hari ini?" tanya Alfath setelah mempersilahkan semuanya untuk duduk
"Sengaja, karena tidak ingin membuat kalian repot" jawab Umi dengan senyum manisnya
"Iya nih kita jadi naik Taxi deh sampai sini, mana lama nunggunya lagi.." ucap Shaina mengeluh
Semua hanya tertawa mendengar ucapan Shaina. Mbok Iyem langsung menghidangkan minuman untuk Umi, Papa juga Shaina, tidak lupa untuk Alfath juga Nisa.
"Oh syukurlah.. Menantu ku ada yang membantunya" jawab Papa dengan senang
"Iya Papa, Alhamdulillah. Alhamdulillah juga Mboknya betah tinggal disini.." ucap Nisa dengan senangnya
"Iya Alhamdulillah.." jawab Umi dengan cepat
"Mbok, ini adalah keluarga saya. Ini Ibu saya, ini ayah saya, dan ini adik saya.." ucap Alfath pada Mbok Iyem memperkenalkan anggota keluarganya.
__ADS_1
"Oh iya, Pak..." jawab Mbok Iyem dengan cepat
"Saya Iyem, Tuan, Nyonya, Nona muda..." ucap Mbok Iyem memperkenalkan diri
Umi, Papa dan Shaina hanya mengangguk. Mbok Iyem meninggalkan ruang tamu, dan membiarkan mereka semua untuk berbincang-bincang.
"Begini Al, kami sudah menentukan tanggal untuk acara lamaran Shaina, adik kamu ini" ucap Papa membuka obrolan
"Lamarannya itu hari minggu sekarang, dan kami ingin mempersiapkannya dari sekarang" lanjut Papa
"Oh baguslah kalau secepat itu. Al akan bantu untuk mempersiapkannya" jawab Alfath
"Mana lihat calon suami mu..." ucap Alfath tiba-tiba pada Shaina
Dengan semangat Shaina memperlihatkan Foto calon suaminya itu, lalu menceritan sedikit tentang pria yang akan melamarnya itu, agar Kakaknya itu sedikit mengenalnya.
Tiba-tiba Umi menanyakan keadaan calon cucunya pada Nisa, dengan duduk bersampingan dengan Nisa dan mengelus-elus dengan halus pada perut Nisa itu.
"Bagaimana sayang keadaan calon cucu Umi? Sering banyak gerakan dari dalam?" tanya Umi dengan logat bicaranya yang khas dan lembut
"Alhamdulillah Umi, sekarang lebih aktif dalam perut, dan Alhamdulillah kata dokter sehat" jawab Nisa dengan senangnya
__ADS_1
"Alhamdulillah yaaa.. Akhirnya Umi akan mempunyai cucu. Semoga menjadi anak yang sholih" ucap Umi dengan begitu gembiranya