Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 95~


__ADS_3

Wanita yang sudah menunggu Alfath sedari tadi begitu antusias dengan kedatangan Alfath. Alfath yang merasa risih karena sebenarnya ia tak ingin lagi berurusan dengannya itu, tetap dengan ramah menghormati ibu separuh baya yang ada dihadapannya itu.


Ibu separuh baya itu kemudian bangkit dari duduknya dan menyapa Alfath, dengan senyum yang lebar.


"Pak Alfath. Akhirnya Bapak datang juga" ucapnya sembari menghampiri Alfath


Alfath yang memberi kode dengan memandangi meja resepsionis, dengan cepat resepsionis itu menghampiri Alfath.


Alfath juga menebar senyumnya pada wanita separuh baya itu.


"Silahkan duduk kembali" ucap Alfath cepat


"Ada keperluan apa ya mencari saya?" lanjut Alfath tak ingin berlama-lama, sembari ikut duduk dikursi ruang tunggu itu


Sang resepsionis dengan terpaksa mengikuti Alfath, dan ia tahu Bosnya ini tidak suka dengan kehadiran mereka berdua.


"Kami kesini untuk berterimakasih kepada Bapak" ucap ibu separuh baya itu mengungkapkan maksudnya


"Iya, Al. Aku mau bilang makasih juga sama kamu, akhirnya kamu mau melepaskan ku" ucap Mawar juga


"Heeem" ucap Alfath sembari menaikan senyumnya


"Tidak perlu berterimakasih. Tidak perlu berlebihan kepada saya" lanjut Alfath dengan nada yang datar


"Saya rasa perlu berterimakasih, Pak. Terimakasih bapak tidak melanjutkan kasus ini" ucap Ibu Mawar


"Iya Al. Makasih banyak. Aku sangat yakin kamu tidak akan tega melakukan ini pada ku, karena aku tahu kamu masih menganggapku teman" ucap Mawar dengan sangat percaya dirinya


Alfath mulai tak suka dengan tingkah Mawar yang berlebihan. Alfath tidak menanggapi Mawar, Alfath hanya menghormati Ibu dari Mawar itu.

__ADS_1


"Sama-sama Bu, saya rasa sekarang tugas saya sudah selesai. Sekarang giliran Ibu untuk membimbing anak Ibu dengan lebih baik" ucap Alfath


Mawar merasa tersinggung, karena merasa tak dianggap oleh Alfath. Rasa ingin memiliki Alfath itu masih ada saja didalam hati Mawar, karena melihat kesuksesan juga ketampanan Alfath itu, ia merasa kesal dengan ucapan Alfath, sebelum sempat ibunya akan menjawab Alfath, Mawar sudah membuka mulutnya untuk berbicara tapi tertahan karena ibunya mencubit paha Mawar seraya memberi kode.


"Aaaaa" ucap Mawar seperti ingin berbicara, tiba-tiba cubitan kecil sangat terasa sekali


"Awww sakit tau" ucap Mawar berbisik pada ibunya


"Iya nak Alfath, saya berjanji. Saya akan mengawasinya dengan lebih lagi. Sekali lagi terimakasih, apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan Bapak?" ucap Ibu Mawar dengan tidak menghiraukan bisikan anaknya itu


"Iya Bu. Saya cuma minta agar Mawar tidak lagi mengganggu saya dan istri saya, dan tidak perlu lagi datang kepada saya" jawab Alfath dengan tegas


Ibu Mawar mengangguk seraya mengiyakan. Alfath yang tak ingin berlama-lama, lalu menoleh kearah resepsionis untuk menanyakan pekerjaannya.


"Oh iya, pasti sudah banyak pekerjaan yang menunggu saya kan? Apa semua sudah disiapkan oleh Rio?" tanya Alfath supaya mengalihkan pembicaraan


"Sudah Pak, banyak berkas yang harus bapak tanda tangani, dan beberapa proyek yang sudah menunggu bapak" jawab resepsionis dengan cepat


"Mohon maaf, saya harus kembali bekerja bu. Jika sudah tidak ada yang harus dibicarakan saya permisi" ucap Alfath dengan cepat pada Ibu Mawar.


Ibu Mawar, dan Mawar tidak dapat lagi berkata apa-apa. Ia mengerti bahwa ini adalah pengusiran secara halus. Alfath dengan cepat berdiri dan meninggalkan mereka berdua, lalu memasuki lift hendak menuju ruangannya.


"Urus mereka, pastikan tidak lagi datang kesini" ucap Alfath pada resepsionis itu lalu masuk kedalam lift yang sudah terbuka


Sementara Mawar dan Ibunya masih duduk saling pandang, Mawar masih ingin rasanya berbincang-bincang dengan Alfath jadi masih duduk terdiam dikursinya karena merasa kesal.


"Ayooo pulang!" ucap Ibunya sembari menarik tangan Mawar karena Satpam dan Resepsionis tadi memperhatikannya terus


-----------------------------------

__ADS_1


Alfath lalu memasuki ruangannya, diikuti oleh Rio sang asisten yang mengetahui bosnya sudah datang.


"Sejak kapan mereka berdua datang kesini?" tanya Alfath pada Rio


"Iya Pak maaf. Mereka sedari pagi menunggu bapak" jawab Rio menjelaskan


"Pastikan mereka tidak datang lagi kesini!" ucap Alfath dengan tegas


"Baik, Pak" jawab Rio dengan cepat


Alfath lalu duduk dikursi kerjanya, dan melihat pekerjaannya sudah menumpuk rapi diatas mejanya. Ia tahu dengan apa yang harus ia kerjakan, ia langsung mengambil pulpen dan membuka berkas lembar demi lembar.


"Pak, ada yang bisa saya bantu?" ucap Rio memastikan


"Duduklah, aku hanya butuh teman" jawab Alfath dengan cepat


Kali ini terlihat wajah Alfath kusut. Penuh dengan penat, dan pikiran. Alfath tak selera rasanya dengan bejibunya pekerjaan yang ada dihadapannya, mungkin saja kalau yang dihadapannya adalah makanan sudah ia aduk-aduk tanpa melahapnya.


Rio mulai merasakan ada sesuatu pikiran yang membuat bosnya itu jadi diam dan melamun.


"Pak, kenapa? Sepertinya banyak pikiran, apa ada masalah?" tanya Rio memecahkan lamunan Alfath


Alfath sangat terkejut, lamunannya buyar. Seketika ia menoleh kearah suara Rio yang tepat dihadapannya tapi seolah tak terlihat sedari tadi.


"Istriku hamil" ucap Alfath dengan tiba-tiba


Rio mendengarnya begitu antusias, merasa senang dengan kabar yang didengarnya itu.


"Alhamdulillah, Pak. Saya ikut senang. Semoga sehat selalu ibu dan janinnya" ucap Rio dengan nada gembira

__ADS_1


"Aaaammmiinnn" jawab Alfath mengaminkan, tetap dengan segudang pikiran yang sedang berlari-lari dipikirannya


"Pak? Bapak kenapa? Apa ada masalah?" tanya Rio yang merasa heran melihat bosnya itu


__ADS_2