
Setelah Nisa memilih beberapa barang untuk bingkisan seserahannya. Kini Alfath mengajak ke toko cincin untuk cincin kawin mereka. Alfath ingin sekali pernikahannya yang cuma sekali dalam hidupnya itu bisa membahagiakan istrinya.
"mampir ke toko cinci dulu ya Nisa" ucap Alfath sembari melihat kearah Nisa yang bergandengan dengan Umi dan Shaina
"iya kalian harus membeli cincin nikah" ucap umi dan Shaina
"baik mas" jawab Nisa mengangguk
Mereka semua masuk kesalah satu toko Berlian yang cukup terkenal.
"Apa tidak terlalu berlebihan mas beli disini? disini mahal-mahal karena berlian" ucap Nisa pada Alfath
"Mas ingin memberi semua yang terbaik buat Nisa" jawab Alfath sembari tersenyum
Nisa sangat meleleh mendengar ucapan itu dari Alfath. Nisa jadi bisa belajar mencintai Alfath yang berbeda budaya dengan Nisa.
"Mbak saya ingin cincin pernikahan yang model terbaru. Untuk saya jangan emas" pinta Alfath pada karyawan toko tersebut.
"baik pa, akan saya ambilkan model terbaru semua" jawab karyawan toko.
Dibawanya 3 model cincin terbaru, semua yang di desain dengan berlian dan permata. Hanya saja cincin yang untuk pengantin wanita saja yang mewah, yang untuk pria hanya biasa dan bukan emas.
"Nisa pilih saja mau yang mana" ucap Alfath pada Nisa
__ADS_1
"Nisa suka yang ini mas. Simple dan gak terlalu besar" Nisa lalu tertuju pada satu kotak cincin yang berlian dan permatanya hanya sedikit.
"yakin? ini gramnya kecil Nisa" jawab Alfath meyakinkan Nisa, karena yang dipilih Nisa adalah cincin paling murah diantara ketiganya itu.
"iya mas. Nisa gak suka yang terlalu besar begitu" jawab Nisa dengan cepat.
"ya sudah, bungkuskan yang ini" pinta Alfath pada karyawan toko tersebut.
Semua sudah dipesiapkan, dan barang-barang itu semua langsung diberikan pada karyawan WO untuk dihias dibuat bingkisan. Sebenarnya persiapan pernikahan ini terlalu mendadak, tapi Alfath bisa membayar lebih untuk semua agar lancar acaranya nanti.
Selagi mereka jalan setelah kembali dari WO, Shaina mengajak semuanya untuk makan.
"bagaimana kalau kita makan siang dulu disini? aku lapar sudah tidak kuat" ucap Shaina merengek
"baiklah. Kita makan disini ya Nisa?" ucap Umi seraya mengajak Nisa
Mereka memilih restoran dengan makanan khas Indonesia, karena takutnya Nisa tidak suka makanan asing. Restoran itu mengusung tema perasmanan, dan diperbolehkan mengambil makanannya sendiri.
"Mas mau ini?" ucap Nisa menawarkan salah satu menu makanannya
"boleh, Nis" jawab Alfath dan lalu Nisa menyendoki makanan itu kepiring Alfath
"cieee kak Alfath" goda Shaina sembari menyenggol kakaknya itu
__ADS_1
"hus kamu ini" jawab Alfath dengan malu
begitu juga dengan Nisa yang sangat malu, langsung memilih kursi dan duduk.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, lalu bergegas pulang karena memang sudah lelah dan waktu juga sudah sore. Sudah terlalu lama mereka didalam Mall itu, hingga melaksanakan sholat dzuhur dan ashar pun di Mushola Mall.
-------------------
Ini adalah hari Selasa, Nisa seperti biasa mengajar diponpes. Tapi kini Nisa tidak dulu mengambil menjadi pengisi kajian diluar ponpes.
Diruangan khusus tamu ponpes ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nisa, Aba, Umma. Tapi belum pernah membuat janji dengan Aba, biasanya susah karena Aba sedang sibuk, begitu juga dengan Nisa. Yang bisa bertemu hanya Umma. Dipanggillah Umma oleh seorang santri yang sedang bertugas menjadi petugas piket.
Umma sebenarnya bingung siapa yang ingin bertemu dengannya, tidak biasanya tidak ada komunikasi terlebih dahulu jikalau memang orang dekat dengan mereka.
Umma lalu berjalan menuju ruang tamu ponpes.
********************
Halloooo kakak-kakak readers 🙂
Semoga terus suka sama karya saya ini. Mohon maaf bila ada kesamaan Nama, tempat dan lainnya. Ini hanya cerita karangan saja, tidak ada unsur meniru siapapun yaaa
Oh iya, bantu Like dan Komentnya juga dong kakak-kakak readers, dan jangan lupa vote dan berikan pointnya 😉
__ADS_1
Supaya penulis lebih semangat mengarang ceritanya.
Terimakasih untuk yang sudah Like dan Vote. Jadi sama-sama enak yaaa hehe