
Akhirnya Nisa memutuskan untuk tidak ikut berbelanja. Ia mendengarkan saran suaminya, yaitu mencatatatkan semua daftar belanjaan yang ia inginkan, selebihnya ia pasrahkan pada Mbok Iyem.
Hari semakin siang, Mbok Iyem sudah kepasar sendiri menggunakan angkutan umum. Dirumah hanya ada Nisa dan Alfath. Seperti biasa kegiatan Nisa hanya bersantai-santai dihalaman belakang, ia selalu membaca Al-Qur'an, sementara Alfath selalu mengurus pekerjaannya, sembari menemani istrinya itu.
" Shadaqallahul-'adzim' (صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ)....." suara Nisa mengakhiri bacaan ngajinya
Alfath seketika langsung menoleh kearah istrinya itu.
"Masyaallah adem sekali hati ini mendengar bacaan ayat suci" puji Alfath sembari tersenyum lembut
"Apa lagi suara indah itu milik istriku..." lanjut Alfath gombal
"Mas bisa aja deh..." jawab Nisa malu sembari senyum mesem-mesem
"Bener sayang.." jawab Alfath meyakinkan
"Kamu pasti rindu yaaa mengisi kajian" lanjut Alfath
"Iya, Mas. Rindu sekaliii..." ucap Nisa, sembari seperti membayangkan
"Gimana kalau nanti sore kita lihat kajian, mau?" tanya Alfath menawari
"Boleh... boleh. Aku juga ingin aktivitas yang berarti diluar rumah" jawab Nisa begitu semangat
"Kemana kita Mas?" lanjut Nisa menanyakan
"Masjid Agung nya Suraba, Sayang.." jawab Alfath
"Oh ya? Asiiiikkkk..." jawab Nisa begitu senang
Nisa begitu merasa senang, karena diajak aktivitas diluar rumah oleh suaminya. Karena memang Nisa akhir-akhir ini setelah keluar dari rumah sakit ia hanya beraktivitas didalam rumah.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
__ADS_1
"Ttttoookkkk tttoookkkk...." ketukan pintu
"Assalamu'alaikum...." lanjut terdengar suara
Nisa memandang kearah Alfath, begitu juga sebaliknya. Mereka saling pandang.
"Biar aku yang bukakan pintu ya sayang..." ucap Alfath sembari bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki ke pintu depan
"Walaikumsalam..." jawab Alfath setelah mendengar orang yang mengetuk pintu itu mengucap salam kembali
Alfath membukakan pintu yang selalu terkunci rapat itu, karena memang demi keamanan didalam rumahnya.
"Eh Mbok sudah pulang..." ucap Alfath ketika melihat yang dibalik pintu diluar adalah pembantunya
"Iya Pak..." jawab Mbok Iyem dengan senyuman
"Biar saya bantu" ucap Alfath sembari membawakan beberapa kantong berisi belanjaan
"Terimakasih Pak. Padahal biar saja nanti saya bolak balik simpan kedapur" jawab Mbok Iyem
Mbok Iyem dan Alfath berjalan menuju dapur untuk menyimpan kantong belanjaan yang dibeli dari pasar. Seketika Nisa menoleh dan melihat betapa banyaknya belanjaan yang Mbok Iyem bawa. Dengan sigap, Nisa bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk membantu membereskan belanjaannya.
"Biar saya bantu Mbok..." ucap Nisa sembari membawa beberapa wadah untuk menyimpan stok makanan yang akan disimpan dalam kulkas
"Biar Mbok Iyem dibantu Mas saja, sayang. Nanti kamu capeeek..." ucap Alfath
"Tidak apa Pak, Bu... Biar Mbok saja" jawab Mbok Iyem
"Nisa tidak capek kok, Mas" jawab Nisa ke Alfath
"Biar saya tunjukan dulu ya Mbok cara menyimpan bahan makanan ini biar tahan lama dalam kulkas" lanjut Nisa memberitahu pada Mbok Iyem
Nisa menunjukan semua bagaimana cara agar makanan itu bisa tetap segar. Ia membantu memotong-motong sayuran, dan memasukannya kedalam wadah plastik rapat sebelum disimpan dalam kulkas.
__ADS_1
"Kalau daging, ikan dan ayam sudah dicuci juga dimasukan dalam wadah seperti ini yaaa Mbok, diberi jeruk lemon diatasnya agar menyerap bau amisnya lalu masukan dalam freezer yaaa" ucap Nisa memberitahu
"Baik Bu..." jawab Mbok Iyem dengan cepat
Alfath memperhatikan istrinya, begitu kagum dengannya.
"Oh iya Mbok..." ucap Alfath tiba-tiba
"Iya Pak, ada apa?" jawab Mbok Iyem balik bertanya
"Nanti sore sebelum Ashar kita ke Masjid Agung Surabaya, kita sholat Ashar disana dan mendengarkan kajian. Nanti pria dan wanita pasti dipisahkan, makanya Mbok temani istri yaaa..." ucap Alfath menjelaskan
Mbok Iyem pun mengerti, Nisa hanya tersenyum mendengar suaminya meminta untuk Mbok Iyem menemani karena sudah pasti ia khawatir dengan dirinya.
Hari semakin sore, Nisa, Alfath dan Mbok Iyem sudah bersiap sebelum Ashar karena takut penuh dengan banyaknya jama'ah.
Sesampainya di Masjid, Alfath masuk kedalam barisan pria, begitu juga dengan Mbok Iyem dan Nisa. Waktu sholat Ashar sudah masuk, semua jama'ah dipersilahkan untuk merapikan barisan dan sholat segera dimulai. Selepas sholat, semua jama'ah berdzikir bersama, lalu mendengarkan kajian dari ustadz terkemuka di Surabaya.
"Kok suara ini seperti aku kenal..." ucap Nisa perlahan agar tidak didengar oleh banyak orang
Hati Nisa penasaran dengan ustadz yang memberikan ceramah didepan, kenapa suaranya begitu tidak asing ditelinganya, tapi ia lupa siapa dia, dan tapi masa ia mengenali orang di Surabaya, karena Nisa bukan asli orang Surabaya dan tidak mempunyai teman disini.
Kajian sudah selesai, Nisa dan Mbok Iyem memilih keluar setelah orang lain keluar karena takut berdesak-desakan.
Nisa mengirimi pesan singkat melalui ponselnya pada Alfath.
"Mas tunggu saja di mobil, aku keluar menunggu dulu, karena takut berdesak-desakan.." pesan yang Nisa kirim melalui WA pada Suaminya
Alfath pun mengerti, dan ia juga membalas untuk setuju.
Sudah begitu lama, orang-orang akhirnya mengosongkan masjid dan sudah berada diluar. Nisa dan Mbok Iyem langsung berjalan keluar hendak ke parkiran, lagi-lagi orang-orang yang tadi memenuhi halaman Masjid, membuat Nisa tidak bisa menuju parkiran, alhasil Nisa dan Mbok Iyem menunggu di teras masjid. Tiba-tiba Nisa melihat spanduk besar dihalam masjid, tentang pengisi kajian tersebut.
"Ya Allah... pantas saja aku mengenali suara itu" ucap Nisa pada dirinya sendiri
__ADS_1
"Memangnya dia siapa bu?" tanya Mbok Iyem yang mendengar suara Nisa
"Ddddiiiaaa..." ucap Nisa tertahan