Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 122~


__ADS_3

Keesokan harinya, kamar sang buah hati sudah siap dan sudah tertata rapi. Nyaman sekali rasanya, ditambah dengan warna yang bikin adem penghilatan. Nisa masih sibuk menata baju bayi kedalam lemari yang baru saja dicuci dan disetrika rapi oleh Mbok Iyem, dibantu dengan Mbok Iyem juga untuk merapikannya kedalam lemari itu.


Alfath yang juga sudah sangat tak sabar menantikan anaknya, semangat untuk membantu istrinya untuk mempersiapkan kebutuhan calon anaknya dan juga persalinan istrinya itu. Alfath sedang membantu kita merapikan beberapa barang seperti popok sekali pakai, alat-alat mandi dan alat ganti popok dengan menyusunnya disebuah kotak.


Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Nisa dan Mbok Iyem yang sedang fokus merapikan bajupun nengok kearah sumber suara berasal. Alfath dengan cepat menerima panggilan telepon itu, dengan menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Walaikumsalam..." jawab Alfath menjawab salam yang terdengar dibalik ponselnya itu


"Bagaimana dengan rencana mu?" tanya Alfath pada Shaina yang menghubungi kakaknya itu


"Aku ingin acara lamaran ku nanti Kak Alfath dan Kak Nisa bisa hadir, agar kita berkumpul bersama.." jawabnya denga suara lembut dari jauh sana


"Memangnya kapan?" tanya Alfath memastikan


"Umi bilang pastikan dulu pada Kakak, kapan Kakak akan berkunjung ke Inggris?" jawab Shaina


"Kamu tidak perlu menunggu ku. Aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat-dekat ini, bahkan mungkin sampai beberapa bulan kedepan..." jawab Alfath membuat Nisa penasaran dengan apa yang mereka obrolkan, lalu menghampiri suaminya itu dan memengang tangan suaminya


"Shaina mengerti kak. Karena istri mu sedang hamil kan?" ucap Shaina dengan sedikit kurang bersemangat


"Iya, Nisa sekarang sedang hamil besar. Tinggal menunggu 50 hari lagi kurang lebih untuk persalinan.." jawab Alfath menjelaskan

__ADS_1


"Waaah sebentar lagi aku akan menjadi aunty..." ucap Shaina dengan gembira


"Aku bingung, sebenarnya pria itu dan keluarganya ingin disegerakan untuk melamar dan menentukan tanggal pernikahan kami" lanjut Shaina dengan nada terdengar sedikit cemas


"Bagus dong kalau begitu. Lakukanlah secepatnya, tidak perlu menunggu ku Shaina. Doaku selalu untuk mu, dan aku sudah merestuinya.." jawab Alfath dengan suara yang mulai lirih, sedih dan mata yang mulai berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak jatuh


"Tidak bisa kak. Aku tak ingin seperti itu.." jawab Shaina yang mulai meneteskan air matanya


"Bicarakan kembalilah dengan Papa dan Umi ya Shaina. Tetap keputusan ku, aku tidak bisa dalam waktu cepat ini pulang.." ucap Alfath sembari tangan yang sibuk menghapus air matanya


Nisa bersandar dipundak Alfath, dengan tangan yang melingkar memeluk lengan Alfath, seraya ingin menguatkan suaminya itu. Alfath dan Shaina sama-sama mengakhiri sambungan telepon itu.


"Mas..." ucap Nisa perlahan dengan lembutnya


"Ada apa? Kamu harus pulang ke Inggris?" tanya Nisa ingin membantu memberi solusi


"Shaina akan dilamar, dan pria itu ingin dalam waktu dekat dan disegerakan pernikahannya.." jawab Alfath menceritakan semuanya


"Shaina ingin kita untuk hadir disana, tapi aku bilang dalam waktu dekat tidak bisa. Apa lagi kondisi kamu yang sekarang sedang hamil besar dan harus mempersiapkan kesehatan diri untuk persalinan nanti.." lanjut Alfath dengan memaksakan senyumnya


"Mas... mungkin Shaina ingin sekali disaksikan oleh Kakak satu-satunya, kalau sampai tidak ia akan sangat sedih, sayang..." ucap Nisa dengan lembut

__ADS_1


"Ia pasti ingin semua anggota keluarganya berkumpul dihari bahagianya" lanjut Nisa


"Iya sayang... Pasti dia seperti itu" jawab Alfath dengan senyumnya yang pura-pura tegar dan menahan air matanya


"Pergilah kesana, Sayang.." ucap Nisa tiba-tiba


"Aku mengizinkan, aku akan baik-baik saja. Percayalah.." lanjut Nisa meyakinkan


Alfath begitu terkejut mendengar ucapan istrinya itu, tak menyangka ia akan membiarkan dirinya pergi, sementara Alfath begitu mengkhawatirkan dirinya.


Memang ini adalah pilihan yang sangat berat, karena ia tidak pernah bisa memilih antara keluarga dengan Istri dan anaknya. Keluarga sangat penting bagi Alfath, begitu juga dengan istri juga anaknya.


Alfath terus menerus menatap mata istrinya itu dengan sangat dalam, seakan-akan sedang memastikan ucapan istrinya itu.


Tiba-tiba Nisa yang juga membalas tatapan suaminya itu kembali berkata.


"Percayalah Mas, aku akan baik-baik saja..." ucap Nisa lagi-lagi meyakinkan


"Kamu tetap bisa melihat anak kita lahir sayang" lanjut Nisa


Alfath masih tetap terdiam, tak ada sepatah katapun dari mulutnya. Alfath hanya mencium puncak kepala istrinya itu, lalu memeluk istrinya dengan sebelah tangannya.

__ADS_1


*Foto hanya sebagai referensi, dan ilustrasi



__ADS_2