
Umma akhirnya sampai diruang tamu ponpes itu. Ia lalu menanyakan pada santri yang sedang bertugas dimeja piket, yang mana orang yang ingin bertemu dengan Umma, karena disitu ada beberapa keluarga Santri dan Santriwati yang juga sedang berkunjung.
Ditunjuklah 3 orang yang duduk, dengan terlihat sangat cemas menanti. Ada seorang Ibu paruh baya, bapak-bapak paruh baya dan lelaki muda. Lalu Umma menghampiri.
"Assalamu'alaikum... Saya Umma Fatimah" Sapa Umma terlebih dahulu pada orang yang menunggu itu.
"Walaikumsalam Umma..." jawab Pria muda dengan stelan baju taqwa dan celana sayur hitam lengkap dengan peci dikepalanya, lalu bangkit dan menyodorkan tangannya seraya bersalaman dengan umma, begitupun dengan kedua orangtuanya.
"Ada apa ya ingin bertemu saya?" Ucap Umma sembari mengikuti duduk dikursi yang memutari meja kecil itu.
"begini Umma, sebelumnya perkenalkan nama saya Azam dan ini kedua orangtua saya" jawab Azam menjelaskan
"oh iya, saya Umma Fatimah, pengurus ponpes ini. Ada yang perlu saya bantu? mau mendaftarkan anak?" tanya Umma lagi dengan bingung
"eeeh bukan Umma, tapi saya kesini ingin melamar Annisa Khumaira Rasyid" jawab Azam dengan nada seriusnya.
"masyaallah..." jawab Umma kaget
"Saya teman satu kampus dulu sewaktu kami kuliah Umma, saya sudah mengenal Annisa. Dan kami baru ketemu kembali beberapa waktu lalu saat Annisa mengisi kajian di kampus tempat saya mengajar" ucap Azam panjang lebar
__ADS_1
"oh iya iya nak Azam. Tapi terimakasih dengan niat baiknya, bapak ibu dan nak Azam bersilaturahmi datang kesini dengan maksud yang baik. Tapi maaf sekali nak Azam, bukan saya menolak orang baik, sholih seperti nak Azam ini, Tapiiii anak saya akan menikah hari Jum'at sekarang" jawab Umma berhati-hati dengan nada yang lirih
Terlihatlah muka Azam yang begitu kecewa lalu menundukan pandangannya.
"oh seperti itu. Mohon maaf kami yang datang sembarangan karena tidak tahu" ucap bapak Azam
"tidak bapak, terimakasih kalian sudah bersilaturahmi kepada kami" jawab Umma
"Nak Azam, mungkin belum berjodoh dengan Annisa. Annisa menerima pinangan dari pria pilihan Aba nya" jelas Umma lagi
"Iya Umma, mungkin belum takdirnya. Mohon maaf sudah mengganggu waktu Umma. Terimakasih sudah mau menemui kami" ucap Azam lesu sekali
"Semoga nak Azam berjodoh dengan perempuan sholihah, dan terbaik ya nak" ucap Umma mendoakan
Umma pergi meninggalkan ruangan itu, berharap semua orang disana tidak mendengar percakapan mereka, karena kebetulan juga berisik karena keluarga yang berkunjung untuk santriwati dan santrinya itu membawa anak-anak kecil, dan bayi.
Umma menghampiri Aba, dan kebetulan Aba sudah selesai mengajar dan sedang duduk diruang kerjanya diponpes.
"Abaaa, Umma sangat kaget sekali" ucap Umma pada Aba seraya akan menceritakan
__ADS_1
"Ada apa Umma? Kok sepertinya Umma beneran syok gitu" jawab Aba sembari melihat ekspresi dari mata Umma
"Tadi ada yang ingin bertemu Aba, Umma dan Nisa. karena Aba dan Nisa mengajar jadi hanya Umma yang kesana" cerita Umma ngos-ngosan
"Lalu siapa memangnya?" tanya Aba jadi penasaran
"Azam dan kedua orangtuanya. Azam itu anak muda yang ingin melamar Nisa putri kita Aba" jelas Umma
"masyaallah apa mereka belum tahu bahwa Nisa akan menikah hari Jum'at sekarang?" tanya Aba penasaran
"tidak sepertinya Aba, Azam itu dosen dikampus Muslim, dan setau Umma dia adalah lulusan terbaik dari Indonesia saat di Khairo dulu, dia teman sekampusnya Annisa dulu" jelas Umma panjang lebar
"oh begitu" jawab Aba singkat sembari mengingat nama Azam
"Aba juga pernah dengar nama Azam yang dosen itu. Pernah disarankan untuk mengajar disini juga Umma" Ucap Aba menjelaskan
"Alhamdulillah ya, Nisa disukai lelaki yang sholih dan pintar, tapi Alfath sudah menjadi jodoh Nisa" tambah Aba pada Umma
"iya Aba, mungkin kalau belum Nisa dipinang Alfath, Nisa juga tidak akan menolak lelaki sholih seperti Azam" ucap Umma
__ADS_1
********************
Jangan lupa di vote ya kakak-kakak readers 😉 dan jangan lupa di like, koment nya juga. Biar makin semangat nih nulis novelnya hehe